100 Dokter Gugur karena Covid-19, Ini Permintaan IDI

ilustrasi penanganan pasien di ruang isolasi rumah sakit

RADARCIANJUR.com – Duka mendalam kembali menyelimuti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), khususnya di Medan dan Sumut. Dua dokter spesialis meninggal dunia akibat terserang Covid-19. Keduanya adalah dr Daud Ginting SpPD FINASIM dan dr Edwin Parlindungan Marpaung SpOT.

Mereka adalah dokter ke-99 dan 100 yang gugur akibat Covid-19.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat, hingga 30 Agustus sebanyak 101 dokter meninggal akibat Covid-19. Ada dokter umum, banyak juga yang dokter spesialis. Bahkan, tidak sedikit yang tidak secara langsung menangani pasien Covid-19.

Ketua IDI Cabang Medan dr Wijaya Juwarna Sp-THT-KL menjelaskan, dr Daud Ginting yang berusia 66 tahun meninggal pada Minggu (30/8) sekitar pukul 02.00 WIB. Kesehariannya bertugas di RSUD dr Pirngadi Medan. ’’Beliau (dr Daud Ginting) dirawat seminggu di RSU Mitra Sejati. Kemudian dirujuk dan dirawat selama seminggu pula di RSU Martha Friska Multatuli,’’ terang dr Wijaya kepada Sumut Pos kemarin (31/8). Selain itu, sambung dia, istri dr Daud juga dirawat di RSU Martha Friska Multatuli karena Covid-19. Hingga kemarin, sang istri masih menjalani perawatan intensif.

Sementara itu, dr Edwin Parlindungan Marpaung meninggal pada Minggu (30/8) pukul 21.44 WIB. Dokter spesialis bedah tulang tersebut wafat di RS Columbia Asia. ’’Usia dr Edwin sekitar 44 tahun. Selama ini bertugas di RS Siloam, RS Murni Teguh, dan sejumlah rumah sakit lain,’’ tutur Wijaya.

Lebih lanjut, Wijaya mengatakan, saat ini masih ada 14 anggota IDI Cabang Medan yang sedang berjuang melawan Covid-19. Mereka diisolasi di rumah sakit. Ada juga yang memilih isolasi mandiri. ’’Ada 7 orang yang dirawat di rumah sakit dan 7 lagi isolasi mandiri,’’ katanya.

Itu baru dokter. Belum termasuk perawat. Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), ada 70 perawat yang meninggal karena Covid-19. Jawa Timur menjadi penyumbang terbanyak kematian perawat. Sama halnya dengan dokter yang meninggal.

Ketua PPNI Pusat Harif Fadilah kemarin (31/8) menyatakan, tenaga kesehatan (nakes) menjadi garda depan dalam mengatasi Covid-19. Karena itu, risiko terpapar Covid-19 sangat besar. Risiko tersebut juga mengintai keluarga atau orang dekat. Bagi mereka yang belum terpapar, bisa saja akhirnya menanggung waktu kerja temannya yang terpapar. ”Perubahan waktu kerja pasti ada. Terutama di tempat yang perawatnya banyak terpapar,” ujarnya.

Risiko besar yang terus mengancam tenaga kesehatan itu turut diamini Ketua PB IDI Daeng M. Faqih. Terlebih dengan bertambahnya pasien Covid-19 saat ini. ”Dengan tambah banyaknya pasien, memang risiko bagi petugas kesehatan makin besar pula,” ujarnya. Karena itu, Daeng menekankan pentingnya perlindungan ekstra bagi petugas kesehatan.

Wakil Ketua Umum PB IDI Mohammad Adib Khumaidi menambahkan, pihaknya kini sedang menelusuri penyebab kematian para dokter. Apakah karena komorbid atau tertular langsung. Baik itu kaitannya dengan pelayanan maupun bukan.

Yang jelas, sebagian besar korban justru bukan dokter yang menangani pasien Covid-19 secara langsung. ”Artinya, sebenarnya risiko bukan hanya yang melayani pasien Covid-19 saja. Tapi, seluruh pelayanan aspek kesehatan saat ini,” tegasnya.

Hal ini, kata dia, disebabkan banyak pasien yang OTG (orang tanpa gejala) ataupun pasien Covid-19 dengan faktor lain. Misalnya, kehamilan dengan Covid-19, kecelakaan dengan Covid-19, atau gagal ginjal dengan Covid-19. ”Faktor itu yang kemudian menjadi dasar bahwa semua tenaga medis dan kesehatan yang menangani pasien itu berisiko,” papar dokter spesialis ortopedi tersebut.

Terkait penambahan pasien yang melonjak tajam beberapa hari terakhir, Adib mengaku cukup prihatin. Sebab, nakes sedang berjuang mati-matian dalam perang melawan pandemi ini.

Pihaknya mendorong adanya komite tenaga medis dan kesehatan pada pemerintah. Nantinya, komite itulah yang membuat langkah-langkah perlindungan bagi tenaga medis. Mulai pengaturan sistem kerja, jam istirahat yang tepat, nutrisi, hingga APD. ”Karena perang ini masih panjang. Dan negara butuh tenaga medis dan kesehatan untuk menghadapi ini,” tegasnya.

Sementara itu, epidemiolog Universitas Indonesia Syahrizal Syarif menjelaskan, gugurnya para dokter dan tenaga kesehatan tidak terlepas dari beban kerja yang berlebihan. Sebagian dokter yang meninggal adalah dokter umum dan spesialis penyakit dalam. ’’Artinya apa, memang mereka adalah petugas terdepan dalam menangani kasus,’’ terangnya kepada Jawa Pos kemarin.

Setiap kali ada kasus baru, yang menangani kali pertama adalah dokter-dokter tersebut. ’’Saya kira faktor kelelahan juga menyebabkan situasi yang kurang waspada,’’ lanjut Syahrizal. Padahal, di Indonesia tenaga dokter begitu berharga. Sebab, rasio dokter dengan penduduk masih sangat lebar. Mereka yang seharusnya menjadi garda terakhir malah menjadi garda terdepan.

Syahrizal menguraikan, 50 ribu kasus pertama di Indonesia dicapai dalam 114 hari. Itu cukup lama. Namun, 50 ribu kasus kedua dicapai hanya dalam 33 hari dan 50 ribu ketiga dalam 23 hari. Sementara itu, 50 ribu kasus keempat diprediksi tercapai pada 10–11 September atau 18 hari. ’’Akhir Desember kita akan mencapai angka 500 ribu kasus,’’ tuturnya.

Dengan kasus lebih dari 174 ribu, sudah ada 100 dokter yang meninggal. Tidak terbayangkan berapa dokter lagi yang akan menyusul bila kasusnya sudah mencapai angka setengah juta penularan. Karena itu, pemerintah harus melakukan segala cara untuk menekan penularan Covid-19. Dan yang penting, sanksi denda diberikan kepada mereka yang tidak patuh. ’’(Sanksinya, Red) Jangan push-up, push-up begitu, tidak memadai,’’ tambah Syahrizal.(jwp)