Dislutkanak Cianjur Warning Nelayan, Jangan Maksa Melaut Jika Cuaca Buruk

RADARCIANJUR.com- Beberapa waktu yang lalu, telah terjadi peristiwa tenggelamnya dua nelayan asal Ujung Genteng di laut Cianjur. Sehingga hal tersebut membuat Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dislutkanak) Kabupaten Cianjur meminta kepada nelayan di Kabupaten Cianjur agar tidak memaksakan melaut saat cuaca buruk.

Melalui sambungan telepon, Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Dislutkanak Cianjur, Rossabardina mengatakan, pihaknya terus melakukan imbauan. Dirinya menjelaskan, pihaknya memiliki kantor perwakilan di Kecamatan Sindangbarang, Cidaun, dan Agrabinta yang dirangkap menjadi kantor UPTD Pantai Jayanti.

“Itu membawahi pembinaan nelayan di tiga wilayah itu otomatis untuk imbauan dari petugas kita itu selalu dilakukan. Memang secara khusus di Cidaun dan Agrabinta terlihat nyata rambu-rambu bahaya, tidak boleh berenang, ini daerah terlarang. Kalau petugas itu, ada petugas ketika nelayan datang itu disosialsiasikan secara persuasif dan personal. Ketika pembinaan itu dijelaskan ketika musim angin barat, musim pasang itu tidak boleh melaut,” ujarnya

Selain itu, lanjutnya, ketika ada informasi dari Badan Meteorolgi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) seperti akan adanya gelombang tinggi dan lain sebagainya, pihaknya langsung melakukan komunikasi ke UPTD Pantai Jayanti untuk diinformasikan kepada nelayan.

“Kalau biasanya beberapa bulan, paling mulai reda lagi sekitar Oktober November, kalau sekarang biasanya bulan ini seperti ini,” jelasnya.

Posisi dua nelayan yang tenggelam tersebut dari Ujung Genteng, maka dari itu nelayan tersebut berasal dari Sukabumi. Ia pun meyakini di Sukabumi telah ada imbauan serupa. Tak hanya itu, keterampilan nelayan memang harus dilatih, jika nelayan dengan basic kelautan bisa saja memiliki keahlian dasar ketika melaut. Berbeda jika memiliki dasar dari orang tua.

“Jadi, istilahnya tugas kita membina nelayan muda ini seperti apa nelayan yang safety karena kadang-kadang kalau dilarang, satu sisi dia juga butuh, nelayan itu kan dari sana, kalau tidak melaut dari mana makan. Yang paling baik itu nelayan yang sekaligus punya lahan kebun, kalau hanya mengandalkan dari laut itu sulit,” ungkapnya.

Pihaknya pun melakukan sosialisasi ketika nelayan tidak bisa melaut agar melakukan budidaya. Seperti contoh di Agrabinta, ketika tidak melaut para nelayan memanfaatkan lahan untuk tambak udang. Tambak tersebut dikelola oleh koperasi.

“Baru kemarin itu dikelola oleh koperasi dan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) karena dari pemerintah itu harus melalui lembaga baik itu kelompok atau koperasi, yang diinginkan KPP itu dari koperasi,” paparnya.

Meski baru satu kecamatan yang memiliki tambak budidaya, dirinya menjelaskan di Sindangbarang lebih cocok untuk diberikan fasilitas alat tangkap. Selain itu, diberikan juga fasilitas pengelolaan ikan. Pasalnya, terdapat banyak muara. Sehingga puhaknya mengusahakan memberikan program kegiatan pengelolaan ikan.

Sementara di Cidaun, sempat diberikan bantuan penanaman ikan bandeng di Sungai Ciwidik. Meski demikian, ia menjelaskan bantuan bagi para nelayan tidak hanya diberikan dari APBD melainkan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga.

“Kita sebarkan ke masyarakat, apalagi kalau tidak mancing ke laut berarti di sungai, kitalah yang harus memfasilitasi,” terangnya.

Ternyata, di Kecamatan Sindangbarang dan Agrabinta ada beberapa nelayan yang memiliki kegiatan lain seperti berjualan dan berkebun. Dirinya menyebut, hingga kini tidak ada nelayan yang terlantar karena tidak bisa melaut di cuaca yang buruk.

“Kayaknya enggak sih, kan misalnya terlihat oleh petugas kita yang diberi fasilitas bukan dari kita, ada juga yang diberi dari Kementerian Sosial. Jadi ketika tidak bisa melaut, walau tidak barengan programnya, mereka dapat dari PHK dan lain-lain,” tutupnya. (kim)