Pro Kontra Polemik Pelajaran Sejarah di Tingkat SMA

ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Pelajaran sejarah yang rencananya akan dijadikan pelajaran tak wajib di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mendapatkan tanggapan dari berbagai pihak.

Pasalnya, langkah tersebut dirasa kurang pas dan sama saja menghapus seluruh latar belakang rekam jejak perjuangan bangsa Indonesia.

Anggota DPR RI Komisi VII, Eddy Soeparno menilai, pembelajaran tak wajib tersebut sama saja menghapus seluruh latar belakang rekam jejak perjuangan perjuangan Negara Indonesia.

“Kita mempunyai akar sebagai anak bangsa dan bangga menjadi anak Indonesia, karena kita memiliki sejarah panjang yang membanggakan. Itu menjadi pemicu untuk meraih prestasi daripada pendahulu-pendahulu kita,” ujarnya.

Lanjutnya, mengesampingkan mata pelajaran sejarah merupakan langkah keliru dan sama saja melupakan sejarah bangsa.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Cianjur, Agam Supriyatna mengatakan, jika dikaji secara menyeluruh, memang mata pelajaran di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Sehingga anak lebih berat akan beban proses KBMnya, sehingga perlu kiranya dilakukan penyederhanaan atau pengurangan beban belajarnya saja,” jelasnya.

Ia menambahkan, disaat ada kebijakan pengurangan belajar, secara langsung akan ada mata pelajaran yang tereduksi atau berkurang. Dari sebelumnya ada menjadi tidak ada.

“Ini bisa terjadi pada mata pelajaran apa saja, termasuk salah satunya sejarah. Suka tidak suka, ada yang pro dan juga kontra mengenai kebijakan yang terkadang keluar dari kebiasaan yang sudah jalan selama ini,” paparnya.

Menurutnya, kurikulum idealnya mengikuti perkembangan zaman, sehingga sangat mungkin untuk dikaji ulang dengan kondisi saat ini.

“Kebijakan yang benar-benar sangat perlu kiranya dimunculkan agar tidak ada yang merasa dirugikan,” tutupnya. (kim)