Pelaku Pencabulan di Cianjur Jalani Hukuman Rehabilitasi

Nenek Korban Pemcabulan aan (60) memperlihatkan bukti putusan Pengadilan Negeri. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Pengadilan Negeri Cianjur memutuskan RP (11), pelaku pecabulan anak di bawah umur di kawasan Karangtengah untuk menjalani rehabilitasi.

Berdasarkan surat Penetapan Pengadilan Negeri Cianjur No 1/Pen.Pid/2020/PN Cjr, RP ditetapkan bersalah karena telah melakukan pencabulan terhadap seorang anak laki-laki berinisial RTH (8), di kawasan Kecamatan Karangtengah.

Pelaku akan diikutsertakan rehabilitasi dalam program pendidikan, pembinaan dan pembimbingan di instansi pemerintah atau LPKS Instansi yang menangani bidang kesejahteraan sosial baik di tingkat pusat maupun daerah, paling lama enam bulan.

BACA JUGA : Pohon Tumbang di Haurwangi, Tiga Rumah Rusak

Keputusan tersebut ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri Cianjur atas dasar surat Kasat Reskrim Kepolisian Resor Cianjur No B/01/IX/RES.1.24/2020/ Sat Reskirm Tanggal 21 September 2020 perihal permohonan penetapan hasil Keputusan Penanganan Anak dibawah 12 (dua belas) tahun kepada pelaku RP.

Dalam surat Penetapan Pengadilan Negeri Cianjur No 1/Pen.Pid/2020/PN Cjr, dituliskan bahwa pelaku RP atas kasus pencabulan anak di bawah umur untuk menjalani rehabilitasi selama 6 bulan.

Keputusan tersebut juga tertuang dalam berita acara pengambilan keputusan anak dari hasil keputusan oleh tim penyidik, pembimbing kemasyarakatan Pos Bapas Cianjur dan pekerja sosial perlindungan anak tertanggal 21 september 2020.

Dengan menimbang surat keputusan dari Kasat Reskrim Polres Cianjur yang telah ditanda tangani oleh penyidik Bapas Cianjur, pengambilan pelaku RP untuk menjalani massa reahabilitasi selama 6 bulan sesuai dengan ketentuan Pasal 21 Ayat (1) huruf b Undang-Undang RI No 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan Pidana Anak.

BACA JUGA : Pedagang Pasar Ciranjang Keluhkan Masalah Retribusi

Nenek korban Aan (60) mengatakan, merasa aneh lantaran pembacaan Penetapan keputusan PN Cianjur atas perlakuan RP yang merugikan cucunya tidak dilakukan di PN Cianjur namun dilakukan di Mapolres Cianjur dan tampa dihadiri oleh hakim.

“Kalau putusan pelaku harus direhab, berarti memang pelaku yang salah dari awal, dan semoga ini jadi solusi terbaik agar tidak ada lagi yang menjadi korban kebiadaban pelaku,” kata Aan kepada RADARCIANJUR.com Kamis (24/9/2020) di Mapolres Cianjur.

Menurut Aan, apa yang telah dialaminya, keluarga korban tetap akan melakukan gugatan kerugian materiil dan imateriil terhadap dampak dari kajadian kasus ini yang telah merugikan keluarganya.

“Terutama atas perlakuan sejumlah oknum yang malah bersedia terang-terangan menjadi saksi atas laporan keluarga pelaku atas tuduhan penghinaan terhadap keluarga korban saat mediasi dilakukan,” ujarnya

Aan mengatakan, keluarga pelaku sempat mengancam balik korban dengan mengaku memiliki bakingan, selain itu oknum aparat RT setempat justru memposting sebuah video ke grup WhatsApp warga komplek istana kembar yang bernada mengungkit persoalan ini.

“Dia memposting hewan sedang sodomi dan menulis ‘sodomi, eh maaf keceplosan’,” ungkap Aan dengan menunjukan bukti capturan perkacapan di WA Group

Atas kondisi ini, Aan berharap kasus pencabulan yang dialami cucunya diusut tuntas aparat penegak hukum dan pelakunya diadili sesuai peraturan perundang-undangan.

“Kami berharap kasus ini menjadi cerminan bagi pemerintah dalam menertibkan serta menghukum tegas oknum-oknum aparat yang melindungi pelaku pencabulan,” kata Aan.

Sementara itu, ibu kandung pelaku Ririn (40) mengatakan, bahwa anakanya sama sekali tidak bersalah, dan kejadian murni hanya akal-akalan.

BACA JUGA : Kaca Masjid di Bandung Dilempar Batu

“Saat itu, RTH mengambil pistol mainan RP, dan RTH hanya berusaha mengabil pistol mainannya, jadi pada saat itu tidak ada kejadian pencabulan,” kata Ririn.

Ririn mengatakan, orang tua RP telah melakukan pencemaran nama baik terhadap keluarganya.

“Intinya nama baik saya telah dicemarkan oleh mereka,” katanya. (dil)