Warga Pasirterong Maleber Dikagetkan dengan Adanya Kuburan Dadakan

Warga Kampung Pasirterong kaget dan ketakutan kebun di belakang perkampungan jadi tempat pemakaman umum. Mereka berkumpul di pemakaman sambil memprotes pihak desa. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Warga Kampung Pasirterong RW 08, Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah, Cianjur dikagetkan dengan adanya kuburan dadakan di belakang perkampungan

Tokoh masyarakat, H Dagus Abdurahman (57), yang juga mantan Wakil Ketua BPD Desa Maleber, mengatakan warga kaget dan ketakutan tiba-tiba ada yang dimakamkan.

“Warga kaget dan ketakutan bahwa tanah ini jadi pemakaman umum bagi siapapun yang berdomisili di Maleber, terus terang kami merasa terganggu tiba-tiba ada juga yang tengah malam bawa jenasah ke lokasi,” katanya kepada RADARCIANJUR.com Jumat (25/9/2020).

H Dagus meminta supaya tanah dihibahkan ke RW 08 dan agar pemerintah desa mengurus administrasi hibah tanah.

Kepala Desa Maleber, Deden Jamaludin, mengatakan, pihaknya hanya berkepentingan untuk mengukur kembali tanah yang dihibahkan Pemda untuk pemakaman umum warga Desa Maleber.

Dari hasil pengukuran, dari lahan seluas 1.250 meter yang dihibahkan untuk pemakaman umum warga Desa Maleber, seluas 600 meter ternyata sudah dibeli untuk pemakaman ibu-ibu warga Pasirterong.

Ketua RW 08, Apip (55), mengatakan ia yang baru menjabat sebagai RW tak menerima pemberitahuan soal adanya hibah untuk pemakaman umum.

“Sepengetahuan saya memang makam ibu-ibu ada di lahan hibah, ibu-ibu sudah membeli duluan,” katanya.

Warga yang enggan disebut namanya juga menyebut bahwa dulu saat pembeli datang tidak mengumumkan untuk TPU tapi beli untuk pribadi.

Eman Sulaeman yang disebut sebagai pembeli tanah, mengatakan saat itu ia masih bekerja di Bappeda dan kebetulan warga perumahan Maleber tak mempunyai lahan pemakaman maka ia menanyakan ke developer.

“Karena warga perumahan Maleber tak punya tanah pemakaman, saya datang ke developer, jawabannya developer sudah bayar ke Pemda, maka tahun 2003 saya bikin proposal,” katanya.

Ia mengatakan tahun 2005 ada keputusan  bahwa tanah seluas 1.250 meter bisa digunakan untuk warga perumahan Griya Maleber.

Dendi, yang saat itu menjabat sebagai seorang pegawai Kecamatan Karangtengah yang ikut memproses usulan mengatakan bahwa tahun 2005 ada tiga usulan TPU dari tiga desa, satu di antaranya Desa Maleber.

“Di Desa Maleber luas tanahnya 1.250 meter persegi dan penerima ganti rugi Eman Sulaeman menerima uang sekitar Rp 80 juta saat itu,” ujar Dendi melalui sambungan telepon.

Ia tak mengetahui jika dalam luasan tanah 1.250 meter persegi tersebut terdapat 600 meter tanah yang sudah dibeli ibu-ibu warga Kampung Pasirterong.

Dendi mengatakan, ia akan menelusuri data di Dinas Permukiman mengenai persis luas tanah dan perintukkannya.(dil)