Awas, Pornografi Pemicu Kejahatan Seksual Anak

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Tindakan asusila di kalangan remaja dan juga anak-anak yang menjadi korban, banyak faktor yang mendukung para pelaku melakukan perbuatan bejatnya. Film porni atau pornografi menjadi salah satu pemicu tindakan asusila atau kekerasa seksual terhadap anak-anak.

Ketua harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A), Lidya Indayani Umar mengatakan dampak film porno bagi anak pasti ada. Maka dari itu orang tua harus hati-hati dan menjelaskan kepada anak dengan penjelasan yang mampu diterima anak.

“Usia juga memengaruhi apakah anak bisa menerima atau tidak 10 tahun ke bawah juga nampak sulit juga paling dibilangin bahwa ‘ini gak bagus’,” ujarnya.

Sementara untuk anak 12 tahun ke atas, rangsangan seksualnya sudah mulai ada. Sehingga, orang tua pun harus lebih tegas dan intensif dalam melakukan pengawasan. Pasalnya, pengaruh film porno bagi anak 12 tahun ke atas sangat berpengaruh.

“Pertama bisa kecanduan dan ingin nonton itu membangkitkan penasaran. Kalau 12 tahun ke atas ingin tahu terus. Kedua, merusak otak. Jadi terus berpikir kenapa dilarang disebabkan karena otak dia ingin tahu. Ini juga berpengaruh. Ketiga, keinginan mencoba dan meniru, ini sudah bahaya,” paparnya

Lanjutnya, anak akan mulai meniru dan mencoba-coba hingga akhirnya melakukan tindakan seksual. Bahkan, anak bisa saja mencari korban yang usianya lebih muda darinya.

“Yang 12 tahun ke atas pasti mencari orang yang bisa diajak kalau secara anak-anak itu pasti mencari orang yang tidak bisa amelawan,” jelasnya.

Dari hal ini, peran orang tua sangat penting dan harus ditingkatkan. Bahkan, ia menjelaskan, untuk anak usia PAUD pun telah diberikan sex education dengan nyanyian yang lebih menyenangkan.

“Peran orang rua lebih penting, bagaimana meningkatkan kepercayaan diri anak-anak untuk tidak menonton porno. Tanggung jawab orang tua juga tinggi bagaimana pola asuh, kadang orang tua keliru, anak kesepian akhirnya membuka situs,” ungkapnya.

Orang tua harus mendampingi anak ketika mengakses Internet. Ia menyebut, orang tua pun harus berdialog dengan baik bersama anak, dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.

“Kalau dipukul juga kurang baik. Diberikan pemahaman Internet yang baik,” terangnya.

Ia pun menyinggung kasus pelecehan seksual anak dibawah umur RP (11), di Kecamatan Karangtengah, Cianjur, atas korbannya seorang anak laki-laki berinisial RTH (8). Lidya menjelaskan, ketika bersama keluarga pelaku, ia tidak mendengar ada pengakuan telah menonton film porno.

“Yang jelas di pelaku di psikologi dari rapat bersama itu tidak ada dia tidak lihat, tapi saya tidak tahu. Tapi informasinya tidak menonton,” tuturnya.

Ia pun sempat memancing anak itu untuk berbicara, namun dirinya pun menyebut anak bisa terbatas dalam mengingat sesuatu. Yang menjadi pertanyaan ialah, anak itu bisa tahu tentang seksual.

“tu jadi pertanyaan tapi belum terungkap mungkin Karena kita tidak nanya, tapi biasanya anak itu polos pasti bercerita. Banyak faktor lain sih, karena anak itu peniru lain. Apa yang mereka lihat, dan tidak dijelaskan, dia tidak thau apakah itu akan buruk atau tidak,” tutupnya. (kim)