Perkuat Sektor Pertanian, Petani di Desa Sindangasih Budi Daya Porang

Penanaman perdana tanaman umbi-umbian porang di Desa Sindangasih, Kecamatan Karangtengah. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Petani di Desa Sindangasih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, mulai melakukan budi daya tanaman umbi-umbian porang sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian di tengah pandemi COVID-19.

Tanaman umbi-umbian ini sekarang menjadi komoditas yang menjanjikan. Tidak hanya berpeluang menjadi komoditas ekspor, porang juga memiliki nilai jual tinggi. Dulu porang ini dianggap makanan ular, tapi sekarang sudah tidak. Bahkan sudah banyak kisah sukses petani porang,

Koordinator Penyuluh Pertanian Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Karangtengah Dinas Pertanian Pangan Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Abdul Sidik, mengatakan di wilayah tugasnya, pengembangan tunbuhan porang di Desa Sindangasih bisa dikatakan sebagai pionir. Langkah yang dilakukan petani di wilayah itu, kata Sidik, diharapkan bisa diadopsi di desa-desa lainnya dan berkolaborasi.

“Ini bisa menjadi nilai tambah pendapatan bagi para petani,” kata Sidik seusai meninjau lahan tanaman porang di Desa Sindangasih, Kamis (15/10/2020).

Tumbuhan porang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai produk komersil. Misalnya untuk bahan baku kosmetik, obat-obatan (farmasi), jeli, dan sebagainya.

“Tumbuhan porang ini merupakan komoditas ekspor, sebab di luar negeri dijadikan bahan baku berbagai produk. Makanya, tumbuhan porang ini bisa menjadi peluang besar untuk para petani. Pasarnya pun sudah jelas. Apalagi sekarang dibantu Kementerian Pertanian untuk ekspor ke luar,” tutur Sidik.

Sidik mengatakan Desa Sindangsari merupakan wilayah yang pertama mengembangkan tumbuhan porang di kawasan Cianjur utara. Sebelumnya di wikayah Cianjur selatan ada juga yang mengembangkannya di Kecamatan Cijati.

“Lahan yang dikembangkan untuk tumbuhan porang di Desa Sindangasih juga cukup mumpuni. Ada yang mencapai 5 hektare, bahkan pengembangannya mencapai 15 hektare. Ini sangat luar biasa,” beber Sidik.

Sebagai tumbuhan berjenis liar, kata Sidik, porang bisa ditanam pada lahan berkarakteristik apapun. Artinya, mau ditanam di dataran tinggi maupun rendah, tumbuhan ini bisa tetap bertahan.

“Salah satunya di Desa Sindangasih yang notabene merupakan daerah dataran rendah. Dengan ketinggian 300-400 mdpl, cocok juga tumbuhan porang di tanam di sini,” ucapnya.

Pun dari segi perawatan tidak terlalu rumit. Namun, lanjut Sidik, BPP akan ikut mengawal seandainya terjadi potensi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Petani atau kelompok tani bisa melaporkan kalau ada potensi menurunkan hasil akibat hama atau penyakit. Kita akan coba bantu. Yang jadi fokus perhatian kami dari tumbuhan porang ini adalah bagian umbinya. Selain itu elemen batang dan daun,” tandasnya.

Petani porang, H Yandi Sopiandi, mengatakan ada empat lokasi yang dijadikan lahan pengembangan tumbuhan porang. Luasannya mencapai sekitar 5,4 hektare.

“Di sini (Desa Sindangasih) baru dikembangkan di lahan seluas 1 hektare,” terang Yandi.

Dari 1 hektare lahan, kata Yandi, membutuhkan sekitar 40 ribu bibit atau biji tumbuhan porang. Ada tiga jenis bibit tumbuhan porang yaitu katak, umbi, dan polybag.

“Kalau ingin irit modal, bisa menggunakan bibit jenis katak. Harga per kilogramnya sekitar Rp300 ribu yang isi 300 biji. Jadi, kalau untuk 1 hektare, berarti membutuhkan sebanyak 120 kilogram. Dihitung-hitung, untuk modal bibit hanya Rp40 juta,” terang Yandi.

Untuk proses pemupukan, kali pertama menggunakan kompos dari kotoran kambing. Estimasi volume penggunaannya di lahan 1 hektare sekitar 200 kilogram. Selang sebulan kemudian setelah proses tanam, dilakukan lagi pemupukan kedua yang masih menggunakan kompos kambing. Yandi memastikan, pengembangan tumbuhan porang yang dilakukannya ramah lingkungan karena menggunakan pupuk organik.

“Pada bulan kedua setelah tumbuh batang dan daun, kita gunakan pupuk kompos kotoran sapi. Ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan umbi. Jadi ada dua macam pupuk kompos yang kami gunakan,” ucapnya.

Yandi menuturkan awalnya ia hanya mengembangkan tumbuhan porang di lahan 1.000 hektare. Hasil dari panen digunakan sebagai bibit. Setelah diestimasi secara finansial, ada keuntungan yang bisa diperoleh.

“Setelah itu baru kita berani mengembangkannya di lahan hampir 5,4 hektare,” jelasnya.

Masa tanam tumbuhan porang biasanya pada Oktober atau November. Musim panennya diperkirakan pada Juni atau Juli.

“Saat panen akan diawali terjadinya dorman atau daun gugur dengan sendirinya. Kita diamkan selama 2 minggu. Setelah itu baru bisa dipanen,” ungkapnya.

Harga jual umbi porang bisa mencapai kisaran Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Yandi biasa menjual hasil panennya ke Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

“Di Cariu, Bogor, harganya bisa mencapai Rp15 ribu per kilogram,” pungkasnya. (dil)