Sosialisasi Ajengan Masuk Sekolah, Wagub Uu Menyebut Harus Mampu Baca Kitab Kuning

Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan menggelar sosialisasi program Ajengan Masuk Sekolah (AMS) 2020. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan menggelar sosialisasi program Ajengan Masuk Sekolah (AMS) 2020 di Hotel Sangga Buana, Rabu (4/11/2020).

Program AMS ini guna memperkuat karakter generasi muda bangsa melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), kolaborasi antara guru PAI yang ada di sekolah dengan para ajengan khususnya yang berasal dari pondok pesantren yang ada di Jawa Barat.

Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum yang hadir membuka acara sosialisai tersebut mengatakan, bahwa dirinya tidak ingin ada kemerosotan moral terjadi pada generasi muda di Jawa Barat.

“Jadi tujuannya dengan ajengan masuk sekolah ini adalah sebagai implementasi dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik serta nawacita nya Pak Jokowi,” ujar Uu saat ditemui di Kecamatan Pacet, Rabu (4/11).

Dalam klasifikasinya sebagi guru atau ajengan masuk sekolah ini, Uu menuturkan, salah satunya adalah mereka yang mampu menerangkan agama yang tidak tendensius, dan tidak berafiliasi kepada politik serta mampu membaca kitab kuning dan menerangkannya.

“Jadi tidak usah memiliki ijazah setara sarjana tetapi legalitasnya diserahkan kepada Ketua MUI dengan harapan bisa baca kitab kuning,” katanya.

Selain itu, Uu juga menyampaikan, bahwa AMS ini harus bisa menerangkan kepada siswa dan mempersiapkan generasi yang keimanan dan ketaqwaannya hebat untuk 2045.

“Karena 2045 nanti kita tau bahwa ada bonus demografi. Dimana 2045 usia produktif hingga 70% adalah di bawah 20 tahun, diatas 25 tahun kebawah,” imbuhnya.

Menurut orang nomor dua di Jabar itu berujar, bahwa kesuksesan dalam bidang pendidikan bukan terletak hanya di madrasah atau di sekolah, tapi juga orang tua sangat berpengaruh dalam memberikan pendidikan kontekstual.

“Jadi kalau pendidikan di sekolah itu tekstual, tapi pendidikan agama itu kontekstual,” ujarnya. (dan)