Sang Pejuang Rupiah di Tengah Pandemi Covid-19

BERJUANG: Raka (30) tetap berjibaku dengan panasnya matahari untuk tetap bisa membantu orang tuanya. (Foto Hakim Radar Cianjur)

PANAS terik sudah biasa. Siang itu, Raka (30) harus berjibaku dengan panas matahari dan pengapnya kostum badut yang ia kenakan. Warna merah menyala pada lampu lalulintas pertanda dirinya harus beraksi dan meminta sedikit rezeki dari para pengendara.

Laporan: Abdul Aziz N Hakim, Cianjur

Pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan dampak bagi kesehatan. Namun ternyata, ekonomi pun turut berimbas. Tak sedikit orang harus berjuang untuk dapat bertahan hidup di tengah ekonomi yang semakin merosot akibat pandemi.

Raka warga Kampung Kebandungan Desa Talaga Kecamatan Cugenang merupakan salah satu dari jutaan orang yang merasakan imbasnya.

Akibat pandemi ini, dirinya harus bermandikan keringat dari pukul 8.30 WIB hingga 18.00 WIB agar dapat bertahan hidup dan memberikan hasil jerih payahnya kepada orang tuanya.

Tak pelak, terkadang Raka merasa gerah dan tak nyaman. Namun dirinya tetap menjalani itu semua. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai kuli bangunan di Jakarta. Akibat pandemi ini, dirinya tidak mendapatkan panggilan.

“Sudah satu tahun tidak ada panggilan untuk kerja bangunan lagi. Jadi saya memilih jadi badut aja untuk mengisi kekosongan,” ujarnya di sela-sela waktu istirahat.

Akan tetapi, ia tetap bersyukur dengan semua yang dijalaninya. Baginya, yang terpenting halal dan tidak menipu bahkan harus mencuri.

Pria dengan senyuman khasnya ini, sebelum di lampu merah Tugu Pramuka, berkeliling kampung dengan kostum badutnya.

Dalam sehari, dirinya bisa meraup hingga Rp70 ribu. Sementara di akhir pekan, dirinya bisa mendapatkan Rp150 ribu.

“Paling kalau Sabtu-Minggu dapat Rp100 ribu atau Rp150 ribu kalau hari biasa paling Rp50 ribu sampai Rp70 ribuan. Ya insya Allah dicukupkan,” ungkapnya.

Tak banyak keinginan dirinya. Setelah pandemi ini berakhir, ia ingin mendapatkan pekerjaan yang layak untuk keluarganya.

“Inginnya ya dapat pekerjaan. Tapi di situasi sekarang, daripada kerja yang nggak-nggak lebih baik yang halal saja,” harapnya.

(*)