Waria, Homoseksual, dan Pengguna Narkoba Suntik Paling Rentan AIDS

RADARCIANJUR.com – Sejumlah kelompok berisiko paling rentan tertular HIV/AIDS. Mereka adalah pengguna narkoba suntik, lelaki seks dengan lelaki (LSL) alias homoksesksual, wanita pekerja seks (WPS) hingga waria. Dalam Survei Terpadu Biologis dan Perilaku 2018–2019 oleh Kementerian Kesehatan, kelompok-kelompok tersebut ternyata sebagian besar di antara individunya sudah melakukan hubungan seksual sejak usia remaja.

Dalam survei terungkap, pada LSL sebanyak 17 persen berusia 15–19 tahun, median responden 25 tahun. Pada WPS, median usia pertama kali melakukan hubungan seksual adalah 18 tahun (termuda 14 tahun dan tertua 20 tahun). Kelompok <19 tahun paling banyak.

Sedangkan untuk kelompok pelanggan, kelompok >49 tahun paling banyak, tetapi beberapa kota <19 tahun melebihi total 10 persen responden. Sebanyak 72,1 persen responden berusia 25–49 tahun, namun umur rata-rata pertama kali menggunakan narkoba adalah 19 tahun (BNN 2015).

 

Sedangkan pada kelompok waria, pada responden usia 15–19 tahun yang sudah memiliki pelanggan sebanyak 3,9 persen. ’’Risiko tertular HIV/AIDS meningkat apabila pasien punya penyakit kelamin. Risikonya meningkat 2–3 kali lebih mungkin terkena HIV/AIDS,’’ tegas dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Yudo Irawan dalam webinar bersama PT. Reckitt Benckiser (RB) Indonesia, Senin (30/11).

Dia juga mengungkapkan berdasarkan penilaian insiden HIV berdasarkan variabel proksi, kelompok LSL, lebih dari 11 persen juga berhubungan intim dengan perempuan. Dan sebanyak 26 persen LSL sempat membeli atau menjajakan seks dalam 2 tahun terakhir.

’’Artinya, walaupun laki-laki itu berhubungan seks dengan LSL, bukan berarti tak berhubungan intim dengan perempuan, atau LSL juga ada yang punya istri,’’ ungkapnya.

Menurut dr. Yudo, dari kacamata kesehatan, hubungan seksual secara bebas meningkatkan risiko infeksi menular seksual yang mampu menyebabkan kematian janin dan neonatus akibat sifilis pada kehamilan, kanker serviks akibat infeksi HPV, infertilitas akibat infeksi gonore dan klamidia. Hingga risiko tertular HIV, terutama pada orang yang terinfeksi sifilis, gonore, atau herpes genital akan meningkatkan risiko tertular dua hingga tiga kali lebih besar.

’’Hubungan seksual di luar nikah dapat mengakibatkan kehamilan, kemungkinan berganti pasangan seksual sehingga meningkatkan kontak seksual berisiko risiko terinfeksi Infeksi Menular Seksual (IMS). Lalu secara psikologis, dapat menimbulkan perasaan berdosa, ketergantungan emosi dan seksual. Hingga potensi kekerasan pada pasangan, salah satu pihak dipaksa untuk melakukan hubungan seks,’’ jelasnya.

(*)