Siswa di Cijati Tak Miliki Gawai, UAS Dilakukan Secara Tatap Muka

TETAP BERJALAN: SMK Al Barokah di Kecamatan Cijati tetap melakukan Ujian Akhir Semester (UAS) secara tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. (Foto Istimewa)

RADARCIANJUR.com- Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan dunia pendidikan untuk terus mencetak generasi bangsa. Seperti halnya SMK Al Barokah di Kecamatan Cijati Kabupaten Cianjur yang tengah melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) secara tatap muka dengan segala keterbatasan seperti jarak dan sarana prasarana.

Alasan tidak dilangsungkannya UAS secara daring atau online dikarenakan hampir semua siswa tidak memiliki gawai atau ponsel. Selain itu, jaringan ponsel pun terbatas.

Kepala SMK Al-Barokah, Apep Mubarok mengaku, banyak kendala ketika pelaksanaan UAS secara tatap muka. Bahkan jika dilakukan secara daring.

“Ditengah pandemi Covid-19 ini kami melaksanakan UAS atau Penilaian Akhir Semester (PAS) dengan tatap muka, dikarenakan kendala listrik yang mati dan sinyal internet yang tidak ada ketika hujan serta mati lampu. Maka kami terpaksa dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat melaksanakan UAS atau PAS dengan tatap muka di sekolah,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Bahkan, pihaknya dilema dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Pasalnya beresiko penyebaran Covid-29. Namun, jika sama sekali tidak belajar, dirinya sangat menyayangkan siswanya yang tidak diperhatikan pendidikannya.

“Karena sangat banyak kendala yang ada, diantaranya tidak semua siswa memiliki ponsel dan tidak mampu beli kuota internet. Jarak antara rumah siswa dengan sekolah serta rumah temannya sangat berjauhan, bahkan melewati banyak hutan. Tingkat kemalasan untuk belajar sangat meningkat, anak-anak jadi bergerombol dan melakukan hal-hal yang negatif di luar pemantauan sekolah,” ungkapnya.

Ia mengatakan, UAS tersebut dilaksanakan dari tanggal 1 Desember hingga 11 Desember 2020 mendatang. Terdapat 15 mata pelajaran yang diujikan.

“Harapan kami kepada pemerintah bisa menyesuaikan lingkungan dan daerah sekolah. Tidak bisa di sama ratakan setiap daerahnya. Kami berharap kepada pihak terkait tengok dan sapa keluhan dan permohonan kami dari sekolah pelosok negeri,” harapnya. (kim)