Meraup Rupiah dari Hobi di Tengah Pandemi Covid-19

Heri (kanan) meraup rupiah di tengah pandemi Covid-19 dengan beternak merpati lomba di tengah pandemi Covid-19

CIANJUR – Sudah lebih kurang tujuh bulan lamanya masyarakat Indonesia bergelut dengan pandemi Covid-19 yang berbuntut pada segala aktivitas yang dibatasi.

Hal ini berpengaruh pada minimnya asupan psikologis bagi masyarakat. Kondisi ini tentu membikin tingkat stres meningkat.

Pada level berbahaya, hal ini juga mempengaruhi kesehatan mental, jasmani dan gangguan fungsi otak.

Ditambah desakan dan tuntutan ekonomi yang juga semakin sulit.

Namun, kondisi ini dijawab sejumlah warga Kampung Warungkiara Wijaya Kusumah RT 03/09, Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur dengan bijak.

Heri Subagja, salah satunya. Dengan banyaknya waktu luang di rumah, dimanfaatkannya dengan menyalurkan hobi dan kesukaannya pada hewan peliharaan jenis unggas.

Ia memilih merawat dan berternak burung merpati. Berawal dari hobi, kini ia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Kisah ini berawal saat dirinya kerap melihat konten di media sosial berbagi video.

“Kok, sepertinya mudah yah ternak burung merpati. Akhirnya saya beranikan diri buat nyoba. Waktu itu sekitar bulan April (2020) kalau gak salah,” tuturnya.

Di rumahnya yang tak cukup besar, Heri menyisihkan lahan 4×3 meter di belakang rumahnya untuk dijadikan kandang burung merpati.

Ditambah, sepasang burung merpati lomba siap breeding yang dibelinya seharga Rp500 ribu.

“Agak murah, soalnya beli dari punya teman,” ungkap Heri.

Dari temannya pula, ia belajar untuk mengembangbiakkan burung merpati lomba. Mulai dari pakan, perawatan, hingga melatih burung merpati.

Akhirnya, tak sampai sebulan, sepasang burung merpati lomba miliknya itu sudah bertelur.

“Alhamdulilah, sekitar 3 minggu habis beli sudah bertelur. 10 telurnya,” katanya sembari tertawa.

Dari 10 telur itu, tak semuanya menetas.

“Cuma tujuh yang menetas. Sisanya busuk, jadi dibuang aja,” sambung Heri.

Tujuh burung merpati lomba anakan itu ia besarkan dan dirawatnya.

Jerih payah, keuletan dan kesabarannya pun berbuah manis. Tujuh burung itu tumbuh besar dan ternyata laku dijual.

“Eh, tenyata dibeli sama teman sesama penghobi merpati lomba. Laku per ekor Rp100.000. itu umurnya baru dua bulan. Gak nyangka juga,” ucapnya terkekeh.

Uang hasil penjualan tujuh burung itu lantas ia belikan lagi calon indukan.

“Dapat tiga pasang masih muda. Sekitar sebulan, eh bertelur lagi. Total dari 3 pasang itu telurnya ada 19 butir,” ungkap dia.

Sementara, sepasang indukan yang ia beli pertama kali, juga kembali menghasilkan enam butir telur. Alhasil, ia memiliki total 25 telur.

“Alhamdullilah semuanya menetas. Soalnya kan belajar dari yang pertama, jadi enggak ada yang busuk,” tuturnya.

Saat ini, dirinya memilih untuk mulai memperbanyak merpati lomba hasil ternakannya.

Tujuannya tidak lain untuk semakin memperbanyak burung anakan yang dihasilnya.

“Sekarang total saya punya 10 pasang indukan. Ini juga sudah ada yang bertelur lagi,” kata Heri.

Heri mengaku, untuk memesarkan anakan burung merpati miliknya itu tidak sulit.

Apalagi, ia juga bergabung dengan komunitas penghobi burung merpati lomba di Cianjur.

Dari komunitas itu pula, selain mendapatkan ilmu tambahan, anakan burung merpati lomba miliknya laku terjual.

“Kalau enggak yang dijual di medsos. Cukup upload aja, nanti sudah ada yang nawar, diambil ke rumah,” beber Heri.

Sejak Oktober lalu, dalam sebulan rata-rata ia bisa menjual empat sampai enam ekor anakan burung merpati lomba.

Untuk merpati yang sudah siap lomba, Heri mengaku membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Selain itu, dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang berbeda, ditambah proses latihan yang tak sebentar.

“Kalau untuk yang siap lomba harganya lumayan. Per ekor bisa laku sampai Rp250 ribu,” beber dia.

Awalnya, ia mengaku sangat stres dan tertekan dengan pandemi Covid-19. Kini, ia sudah memiliki penghasilan sampingan dari hasil berternak merpati.

“Kuncinya, jangan putus asa, sabar, belajar terus dan yang paling penting itu niat. Apalagi kalau hobi kan kita lakuinnya selalu senang. Itu aja,” pesan Heri.

Reporter: Cepri Ramdan/RadarCianjur.com/FJPP