Sisi Lain Jubir Satgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Cianjur, Hampir Stres Karena Ratusan Telepon dan Pesan

Sisi Lain JubirSatgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Cianjur, dr Yusman Faisal.

SOSOKNYA yang ramah dan murah senyum di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur memberikan sambutan hangat bagi siapapun. Berbalut kemeja batik berwana putih dengan corak hitam menceritakan satu kalimat demi kalimat sebagai Juru Bicara Pusat Informasi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Percepatan Kabupaten Cianjur selama kurun waktu kurang lebih satu tahun.

Laporan Abdul Aziz N Hakim, Cianjur

Di ruangan kerja Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur berukuran 3×4 meter dengan ciri khas cat hijau, tertata rapi berbagai berkas serta satu unit laptop yang bertengger di meja kerjanya. Tak sungkan. Terbuka dan merangkai kata demi kata mengenai tugasnya sebagai Juru Bicara.

Ya, dr Yusman Faisal. Semenjak bulan Maret 2020, dirinya sudah ditunjuk sebagai Juru Bicara Pusat Informasi Satuan Tugas Penanganan Percepatan Covid-19 Kabupaten Cianjur. Namanya kiat melejit di setiap media massa yang ada di Kabupaten Cianjur selain sebagai Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Cianjur.

Bukan tugas yang mudah. Bahkan, ayah dari tiga orang anak ini harus rela membagi waktu antara tugas, pekerjaan dan keluarga.

Kalimat demi kalimat terurai menceritakan suka duka dalam kesehariannya sebagai juru bicara. Tidak sedikit kalangan pemerintahan di Kabupaten Cianjur menemuinya untuk mengetahui perkembangan Covid-19 di Cianjur.

“Sukanya saya bisa kenal dengan banyak kalangan terutama di lingkup Pemerintahan Kabupaten Cianjur, rekan-rekan media dan juga jajaran Forkopimda,” ujarnya.

Saat mengemban tugas sebagai juru bicara, dirinya sempat berpikir akan memiliki waktu luang yang banyak bersama keluarga. Namun itu hanya menjadi angin surga.

Tidak menyangka. Dalam waktu satu hari, ratusan telepon dan pesan singkat diterimanya mengenai informasi Covid-19. Tentunya terkejut dengan hal baru yang dialaminya.

Seiring berjalannya waktu. Hal baru tersebut menjadi ‘santapan’ sehari-hari sebagai juru bicara. Dari ratusan pesan dan telepon tersebut mengubah hidup serta pola pikir pria lulusan Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum Universitas Trisakti, Jakarta tahun 2000.

“Kalau dalam sehari, ada ratusan telepon sama pesan di WhatsApp. Apalagi kalau sedang di rumah, pas dicek sudah banyak pesan,” tuturnya seraya tertawa.

Pria yang berencana melanjutkan pendidikan S2 bidang dokter spesialis kandungan ini pun sedikit tertunda pekerjaannya sebagai kepala bidang.

Tak habis akal. Gawai yang dimilikinya pun disenyapkan agar semua tugas yang tengah dikerjakannya bisa terselesaikan satu persatu.

“Kalau saya terus terpaku ke ponsel, bisa-bisa kerjaan tidak selesai dan saya bisa stres,” ungkapnya. (kim)