Kacang Kedelai Langka, Kabid Perdagangan : Mungkin Ada Penimbunan?

TERBATAS: Ketersediaan tahu dan tempe sudah kembali normal di Kabupaten Cianjur, namun tidak sebanyak seperti sebelumnya. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Pasca kelangkaan kacang kedelai selama kurang lebih tiga hari, saat ini tahu dan tempe sudah bisa ditemui di Pasar Induk Cianjur (PIC). Namun, keberadaan tempe dan tahu tidak dengan stok yang banyak. Selain itu, ukuran tempe pun sedikit kecil dari ukuran sebelumnya.

Bahkan, pada pukul 10.30 WIB, stok tahu sudah habis terjual diburu oleh beberapa konsumen. Hanya tersisa tahu kuning dan tahu kering.

Sri (40) pedagang tahu Los D mengatakan, sebelumnya selama tiga hari tahu tidak ada di pasaran.

“Tiga hari enggak ada, harganya tetap sama Rp5000 tapi ukurannya saja dikurangi atau kecil,” ujarnya kepada RADARCIANJUR.com saat ditemui di PIC.

Menurutnya, ketersediaan kacang kedelai tidak susah, hanya saja harga dari pasaran yang dijual ingin naik.

“Enggak sih, cuma harganya aja pengen naik,” singkatnya.

Senada dengan Sri, Dudu (29) pedagang tahu di Los E mengungkapkan, semenjak pagi hari tempe sudah habis terjual. Hanya tersisa tahu saja.

“Udah habis kalau tempe, karena dari pagi. Ini tinggal tahunya aja,” jelasnya.

Menurutnya, harga kacang kedelai saat ini sudah mencapai Rp10 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp4 ribu.

“Dari sananya kacang kedelai sudah naik jadi Rp10 ribu dari sebelumnya Rp4 ribu. Kita yang jualan jadi membatasi tahu yang akan dijual dan ukuran juga agak dikecilkan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Diskoperindagin Kabupaten Cianjur, Nana Rukmana mengatakan, harga tempe dan tahu naik karena produksi kedelai impor berhenti.

“Memang harga kedelai naik karena kedelainya impor sesuai regulasi pusat daerah tidak bisa intervensi soal hal itu,” ungkapnya.

Meskipun ada kedelai lokal yang lebih murah, lanjutnya, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan dan kualitasnya berbeda dengan kedelai impor.

“Dan salah satunya jalannya adalah menaikan harga kalau tahu ya diperkecil atau tempe ya diperkecil kan kurang bagus. Paling naik antara 10 sampai 20 persen,” jelasnya.

Nana mengaku sempat mendapatkan informasi bahwa kedelai tetap tersedia. Namun, ia juga sempat mendapat informasi bahwa kedelai sedang kosong.

“Kemarin ada cuma harganya naik yang awalnya Rp7500 sekarang Rp9500 naik sekitar Rp2 ribu. Kalau harga pasar memang segitu. Berbeda kalau harga pabrik,” paparnya.

Menanggapi informasi ketersediaan kedelai yang tidak senada dari beberapa produsen. Dirinya berspekulasi adanya penimbunan barang. Namun, tetap harus dilakukan pemeriksaan.

“Gak tahu mungkin ada penimbunan mungkin, kita harus memeriksa dulu. Memang belum jelas barang itu ada atau tidak. Kemarin saya nanyain ada, ada juga yang menyebutkan harga naik,” tutupnya. (kim)