Sisi Lain Jubir Satgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Cianjur (2), Harus Edukasi Tujuh Pasien Selama Empat Jam

Sisi Lain JubirSatgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Cianjur, dr Yusman Faisal.

SOSOKNYA yang ramah dan murah senyum di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur memberikan sambutan hangat bagi siapapun. Berbalut kemeja batik berwana putih dengan corak hitam menceritakan satu kalimat demi kalimat sebagai Juru Bicara Pusat Informasi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Percepatan Kabupaten Cianjur selama kurun waktu kurang lebih satu tahun.

Laporan Abdul Aziz N Hakim, Cianjur

dr Yusman Faisal. Namanya sudah tak asing ketika pemberitaan perihal informasi Covid-19 di berbagai media di Kabupaten Cianjur. Tentu tugasnya sebagai Juru Bicara Satgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Kabupaten Cianjur akan menjadi acuan segenap awak media.

Lika liku serta perjalanan sebagai juru bicara ‘dilahap’ dan tetap dijalani sebagai tugas mulia. Banyak pengalaman berharga yang didapat dari ayah tiga orang anak ini.

Selain menyampaikan informasi, dirinya pun harus memberikan edukasi serta pemahaman mengenai bahaya Covid-19 dan merubah stigma masyarakat terhadap pasien terpapar.

Setiap wilayah di Kabupaten Cianjur sudah dipijak untuk mengemban tugas mengenai informasi Covid-19. Namun bukan hal mudah. Pasalnya, sebagian besar masyarakat pada awalnya pasien yang terpapar merasa harus dijauhi.

“Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat sudah terbiasa dan berubah stigma. Tidak seperti dulu,” terangnya.

Bahkan, pada satu momen, dirinya harus mengedukasi tujuh orang santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Pusat Isolasi Bumi Ciherang. Berdebar. Khawatir dan cemas. Manusiawi memang. Tapi tugas tetaplah tugas. Ia mempersiapkan keberanian untuk menemui tujuh santri yang enggan menjalani swab tes.

Petugas di pusat isolasi pun sudah kewalahan. Alasan tersebut yang mengharuskan pria yang pernah menjabat sebagai Plt Dirut RSUD Pagelaran ini turun tangan.

“Awalnya takut juga, karena harus menemui pasien yang positif. Memang saya menggunakan APD lengkap, tapi tetap saja ada ketakutan,” jelasnya.

Waktu yang berikan untuk memberikan edukasi kepada tujuh pasien hanya setengah jam. Namun, tanpa disadari dirinya dengan APD lengkap seakan terhipnotis dan terbawa suasana obrolan.

“Itu saya diingatkan oleh petugas pusat isolasi, karena sudah kelamaan. Harusnya setengah jam, ini jadi empat jam dari jam 11 siang sampai jam 15 sore,” paparnya sembari tertawa.

Agar terhindar dari penyebaran virus, dirinya langsung mandi sebersih mungkin ketika tiba di kediamannya dan memilih tidur di lantai dua.

“Pulang langsung mandi sampai benar-benar bersih dan tidur pisah sama istri. Istri di lantai satu, saya di lantai dua. Besoknya langsung swab tes dan alhamdulillah negatitf,” tutupnya. (kim)