Belum Ada Mekanisme Khusus untuk Pembelajaran di Ponpes

Ilustrasi santri di pesantren

RADARCIANJUR.com- Pembelajaran tatap muka (PTM) di sejumlah sekolah di Kabupaten Cianjur belum mendapatkan restu untuk diberlangsungkan. Ternyata, bukan hanya sekolah reguler saja, sama halnya pondok pesantren (ponpes). Saat ini, ponpes belum memiliki mekanisme khusus dalam melakukan pembelajaran.

Juru Bicara Pusat Informasi Satgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum memiliki aturan khusus mengenai proses pembelajaran di pondok pesantren.

“Semua daring karena kemarin waktu arahan bersama antara bupati dengan KCD itu semua sama-sama mengintruksikan untuk daring. Nah untuk pondok pesantren itu belum ada mekanisme,” ujarnya

Ia pun menegaskan untuk sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA sederajat harus tetap memberlakukan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

“Untuk pondok pesantren belum mekanisme khusus. Kita masih menunggu peraturan dari pusat seperti apa,” paparnya.

Sebelumnya, Plt Bupati Cianjur, H Herman Suherman dengan tegas tidak memperbolehkan seluruh sekolah tanpa terkecuali untuk menggelar pembelajaran tatap muka.

“Bukan sanksi yang akan diberikan, tapi ditegur jangan sampai membuat klaster baru untuk anak-anak seklah karena rentan terhadap Covid-19,” tuturnya.

Ia menjelaskan, pihaknya tidak mengizinkan sekolah menggelar pembelajaran tatap mua karena saat ini kasus Covid-19 sedang meningkat di Kabupaten Cianjur.

“Kita lihat rumah sakit penuh, bumi Ciherang penuh. Banyak yang menyampaikan ke saya dari pakar Covid-19, Cianjur hati-hati kalau diibaratkan seperti gunung es di lautan yang munculnya 1500 (kasus) tapi di dalamnya banyak. karena kita lebih fokus pada kesehatan, karena anak-anak rentan terhadap Covid-19,” jelasnya.

Bahkan tegas tidak mengizinkan semua sekolah di Cianjur tanpa terkecuali untuk menggelar pembelajaran tatap muka. Namun, jika situasi Covid-19 sudah membaik dan aman pihaknya akan segera mengambil tindakan.

“Karena banyak dorongan darai masyarakat Cianjur ingin anak-anaknya tatap muka, tapi yang jauh lebih penting adalah keselamatan,” tutupnya. (kim)