Hampir Dua Pekan Pasca Libur Nataru, Harga Cabai Masih Tembus 100 Ribu Perkilo

PEDAGANG: Salah seorang pedagang sayuran dan jenis cabe-cabean di pasar Cipanas, Cianjur. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Harga sejumlah bahan masakan jenis cabai rawit merah di pasar rakyat Cipanas masih tembus Rp 100 ribu perkilogram. Padahal libur natal dan tahun baru (Nataru) 2021 telah usai hampir dua pekan hingga kini.

Salah seorang pedagang sayur mayur di Pasar Cipanas, Hadi Sapaat (39) mengaku, untuk harga jenis cabai masih mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Harga yang cukup tinggi itu terjadi lantaran kebutuhan masyarakat yang relatif masih banyak. Namun pasokan cabai di para petani mulai cukup berkurang.

“Kemungkinan juga disebabkan karena cuaca yang kurang mendukung, termasuk harga pupuk subsidi yang belum normal. Sehingga hasil sayur terutama jenis cabai jadi sedikit berkurang. Akibatnya harganya pun terus meninggi,” ujar Hadi kepada radarcianjur.com, saat dikonfirmasi, Senin (11/1/2021).

Selain jenis rawit merah, harga cabai rawit hijau pun masih dibandrol Rp 60 ribu per kilogram. Padahal harga sebelumnya di saat normal berkisar Rp 30 hingga Rp 40 ribu perkilogramnya.

Lebih lanjut Hadi menyebut, harga cabai lain yang belum reda hingga kini yakni jenis keriting merah. Cabai tersebut dijual Rp 40 ribu perkilogram.

“Harga jenis cabai itu sudah naik hampir sebulan lamanya. Kenaikan terjadi sejak sebelum libur Nataru dan kini di awal tahun masih cukup mahal,” kata dia.

Menurutnya, kenaikan sejumlah bahan olahan makanan itu pun berimbas pada tingkat daya beli konsumen. Sehingga terjadi penyusutan omset kepada para pedagang yang serupa di pasar rakyat.

“Penurunan konsumen mencapai 40%. Omset pun jelas mengalami anjlok,” kata dia.

Dirinya berharap, pemerintah serta dinas-dinas terkait bisa mengupayakan cara yang baik untuk segera membuat kondisi tersebut kembali normal.

“Intinya kami pedagang sayur mayur dan cabe bisa menjual dengan normal. Pasokan dan stok dari petani pun bisa lancar. Sehingga tak ada yang diberatkan,” tandasnya.

Sementara melejitnya harga cabai rawit pun dikeluhkan pembeli. Salah satunya Atik (52) warga Cipanas, Cianjur. Ia yang berprofesi sebagai penjual masakan itu mengaku harus nambah putar otak untuk memenuhi kebutuhan belanja karena harga cabai rawit naik.

“Inginnya harga jenis cabai itu bisa normal. Karena kan saya jualan lotek, dan masakan lainnya. Kalau terus mahal, bingung untuk menjual dagangan saya,” kata dia. (dan)