Penyalahgunaan Bansos, Komisi D DPRD Cianjur : Pendamping PKH janga Sekali-kali Berbuat Curang!

Ilustrasi Bansos.(ist)
Ilustrasi Bansos.(ist)

RADARCIANJUR.com- Tertangkapnya oknum pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) beberapa waktu lalu oleh Polres Cianjur di Kecamatan Sindangbarang, semakin menambah daftar carut marutnya kondisi penyaluran bantuan sosial (bansos) yang diberikan kepada masyarakat Kabupaten Cianjur.

Kejadian tersebut menjadi tamparan keras agar setiap pihak turut berperan dalam memonitoring penyalurannya. Tidak hanya pemerintahan, namun masyarakat pada umumnya.

Ketua Komisi D DPRD Cianjur, Sahli Saidi mengatakan, pelaku memang patut diproses hukum. Pasalnya telah memakan hak orang terlebih anggaran untuk masyarakat tidak mampu.

“Dan saya sarankan buat pendamping PKH supaya jujur dan jangan sekali-kali berbuat curang apalagi bantuan buat masyrakat yang tidak mampu digelapkan. Saya mewakili Komisi D mengucapkan terima kasih kepada kepolisian yang telah menangkap pelaku yang menggelapkan uang PKH,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Sahli, bantuan PKH tidak bisa dilihat secara langsung seperti BPNT yang memiliki penyaluran sehingga masyarakat bisa langsung komplain jika tidak sesuai.

“Tapi nanti kita lihat dalam jangka waktu dekat kita juga akan kordinasi sama pihat kepolisian untuk turun kemasyarat untuk memantau pemberian dari bantuan PKH kita akan ke desa-desa karena minggu ini dewan masuk dalam kegiatan reses seminggu,” jelasnya.

Sahli berharap kasus penggelapan dan korupsi PKH seperti di Sindangbarang tidak terjadi kembali dan bantuan bisa tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran. Begitu pun BPNT yang harus baik penyalurannya.

“Penyalur atau supplier bisa bersaing secara sehat dalam arti memberikan beras yang terbaik, buah-buahan yang segar daging yang enak dikonsumsi. Jangan sampai ada daging busuk yang diterima KPM,” terangnya.

Ia pun menyinggung masalah penyaluran BPNT yang menggunakan ayam hidup di Kecamatan Pagelaran. Ia menilai hal itu harus diganti agar bisa dikonsumsi langsung oleh penerima untuk penambahan gizi.

“Beda dengan ayam hidup nggak dipotong malah dipelihara. Kalau daging kan langsung di masak sama penerimanya,” tutupnya. (kim)