Pengaruh Covid-19 pada Pembelajaran di Kabupaten Cianjur

Nanang Rustandi
Nanang Rustandi

*) Nanang Rustandi

DITUTUP sementara seluruh lembaga pendidikan di Indonesia sebagai upaya menahan penyebaran pandemik Covid-19. Hal tersebut berdampak pada mundurnya proses belajar mengajar jutaan pelajar, tidak terkecuali di Kabupaten Cianjur.

Gangguan dalam proses belajar langsung antara siswa dan guru dan pembatalan nilai belajar berdampak pada psikologi anak didik dan menurunnya kualitas keterampilan murid menjadi salah satu faktor akibat meluasnya Covid-19 di seluruh dunia.

Beban itu merupakan tanggung jawab semua elemen pendidikan, khususnya Negara dalam memfasilitasi kelangsungan sekolah dalam proses belajar mengajar bagi semua jenjang pendidikan yang memakai pembelajaran jarak jauh. Jadi bagaimana mestinya Indonesia merencanakan, mempersiapkan, dan mengatasi pemulihan Covid-19 untuk menekan kerugian dunia pendidikan di masa mendatang.

Penyebaran Covid-19 juga mengalami peningkatan sehingga ketidakpastian masih terus mengaruhi laju dunia pendidikan. Salah satunya pendidikan di Indonesia yang mulai tidak nyaman. Hal ini sama dengan di Kabupaten Cianjur dimana para pelajar banyak yang mengeluh dengan adanya system Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemik ini. Maka ada pertanyaan yang muncul seperti halnya apakah Covid-19 berpengaruh terhadap pendidikan di Kabupaten Cianjur, dan bagaimana pengaruh penyebaran Covid-19 terhadap pendidikan di Kabupaten Cianjur?.

Seperti diketahui bahwa penyebaran virus corona ini pada awalnya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai memburuk, tetapi kini dampaknya dirasakan juga oleh dunia pendidikan. Kebijakan yang diambil oleh banyak Negara termasuk Indonesia dengan meliburkan seluruh aktivitas pendidikan, membuat pemerintah dan lembaga terkait harus menghadirkan alternative proses pendidikan bagi peserta didik maupun mahasiswa yang tidak bisa melaksanakan proses pendidikan pada lembaga pendidikan.

Korban akibat wabah Covid-19 tidak hanya pendidikan di tingkat sekolah dasar/madrasah, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, tetapi juga perguruan tinggi. Seluruh jenjang pendidikan memperoleh dampak buruk, karena pelajar,siswa,dan mahasiswa “dipaksa” belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka ditiadakan untuk mencegah penularan Covid-19. Padahal tidak semua pelajar, siswa dan mahasiswa terbiasa belajar melalui online. Apalagi guru dan dosen masih banyak belum mahir mengajar dengan menggunakan teknologi internet atau media social terutama diberbagai daerah.

Jika merujuk pada pendapat Hongyue dan Rajib (Ginting, 2020), dampak penyebaran Covid-19 terhadap berbagai bidang seperti, sosial, ekonomi, keamanan, dan politik dinilai akan berimbas pada keadaan kondisi psikologis serta perubahan perilaku yang lebih luas dan memakan waktu cukup lama. Perubahan perilaku mengakomodir seperti mengguanakan teknologi, pola kesehatan, perilaku dalam pendidikan, perilaku menggunakan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, serta perilaku sosial keagamaan.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Pada bidang pendidikan contohnya, pengajar dan peserta didik akan terbiasa melakukan interaksi pembelajaran jarak jauh. Banyak aplikasi pembelajaran online yang bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Molinda (2005) mengambil pernyataan Arizona (2020) bahwa pembelajaran online adalah wujud pembelajaran jarak jauh melalui pemanfaatan teknologi telekomunikasi dan informasi baik langsung maupun tidak langsung.

Kehidupan yang terus berkembang ini selalu menarik dan tidak habis untuk diperbincangkan karena menyangkut persoalan kehidupan manusia yang paling fundamental, yaitu keyakinan dan ekonomi seperti diungkapkan Nanang Rustandi (Tsaqofah: Jurnal Agama dan Budaya, Vol.18 No.02 Tahun 2020).

Sesuai juga dengan himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui surat edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus corona atau Covid-19. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (pc), laptop atau handphone (hp) yang terhubung dengan koneksi jaringan internet.

Pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup media sosial seperti whatsapp, aplikasi zoom cloud meeting, google meet, youtube, dan media lainnya. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagai masyarakat sosial sangatlah harus didukung oleh kelompoknya.

Dari pendapat di atas sudah jelas bahwa pelaksanaan pendidikan dimasa Covid-19 sangat terasa sekali imbasnya pada pola kegiatan dan psikologis baik guru maupun peserta didik. Seperti halnya diungkapkan Yeni Lisnawati seorang guru SDN Ibu Dewi 2 Cianjur, bahwa, pandemi ini sangat menghambat dunia pendidikan, khususnya dalam pendidikan Sekolah Dasar. Alasanya adalah karena memang pembelajaran menjadi kurang efektif dan membuat siswa kurang menyerap materi yang disampaikan oleh guru. Apalagi murid sekolah dasar harus dalam bimbingan langsung guru, karena memang harus gurulah orang yang mengajarkan langsung mengenai pembelajaran.

Selain itu juga karena setiap murid di sekolah dasar keluarganya belum tentu semua mencukupi dalam hal ekonominya untuk membeli alat komunikasi seperti halnya ponsel sebagai salah satu media belajar online, belum tentu juga setiap anggota keluarga tersebut ada yang dapat mengoperasikan aplikasi yang digunakan untuk pembelajaran  secara online.

Hal yang sama juga dikatakan Fahmi Jatnika guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah SMK Negeri 1 Cianjur. Menurutnya pandemi Covid-19 ini sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan khususnya dalam penerapan sikap terpuji untuk modal murid-murid kedepanya dan untuk kehidupan mereka di masyarakat nanti. Karena pandemi ini juga membuat mereka para guru cukup kesulitan tentang bagaimana cara agar pembelajaran bisa tersampaikan dengan baik dan mudah diserap dalam pembelajaran oleh para siswa.

Wahyu Rusmana salah seorang murid SMK di Kabupaten Cianjur mengatakan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia membuat murid-murid SMK juga merasa sulit untuk mencerna materi yang disampaikan oleh guru mereka. Apalagi untuk murid-murid yang di akhir tahun pembelajaran mereka sangat mengeluh tentang system pendidikan yang serba online tersebut. Alasanya ialah, mereka takut setelah mereka lulus, mereka gagal dan sulit untuk melakukan apa yang sudah diajarkan dikarenakan kurangnya pemahaman yang mereka rasakan.

Maka dari penjelasan di ataa bahwa penyebaran Covid-19 ternyata berpengaruh terhadap pendidikan, khususnya di Kabupaten Cianjur, karena proses pembelajaran yang kurang efektif. Pengaruh penyebaran Covid-19 juga sangatlah berdampak bagi siswa dan guru-guru di wilayah Kabupaten Cianjur. Hal ini terbukti dengan apa yang dirasakan oleh para guru dan siswa di Kabupaten Cianjur. Hal itu juga menuntut agar keputusan pemerintah yang mendadak meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi di rumah, membuat kekacauan proses pembelajaran.

*) Penulis adalah Doktor di Bidang Religious Studies (Dosen Tetap FEBI UNSUR, Dosen LB FIKOM UNPI dan Jurnalis)