Pengakuan Pelaku Pencekok Gadis Belia, Setubuhi Korban Usai Beri Minuman Oplosan Dicampur Obat

BEJAT: PR tega melakukan persetubuhan terhadap RSM (14) dalam kondisi tak sadarkan diri karena miras. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Mengenakan baju tahanan Polres Cianjur berwarna hijau, PR tersangka pemerkosaan terhadap gadis di bawah umur yakni RSM (14) tertunduk lesu dihadapan aparat kepolisian.

Tak banyak kata yang dilontarkan saat beberapa awak media menanyakan awal mula dirinya melakukan aksi bejatnya terhadap korban yang masih belia.

Kejadian berawal saat RSM diajak oleh temannya untuk berkumpul bersama dengan PR dan juga teman tersangka. Tak menaruh curiga sama sekali. RSM ikut berkumpul dan berbincang-bincang. Tidak berselang lama, tersangka pun menawarkan minuman opolosan yang sudah dicampur dengan delapan obat eximer.

Pil kuning yang dicampur dengan minuman keras tersebut, membuat korban tak sadarkan diri. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan tersangka. Tanpa ada rasa bersalah dan di bawah pengaruh minuman haram, tersangka menggagahi korban. Tidak cukup sampai disitu saja. Tersangka pun mengabadikan tubuh koban dalam keadaan tanpa busana. Hal tersebut diduga agar korban tidak melakukan pelaporan mengenai aksi yang dilakukannya.

“Kejadiannya pada hari Selasa (26/2) tersangka PR membawa RSM (14) di Kampung Bojongpicung Rt1 Rw3 Desa Bojongpicung Kecamatan Bojongpicung dan melakukan pesta miras bersama teman-temannya yang dicampur delapan pil eximer. Korban pun akhirnya tidak sadarkan diri. PR pun melakukan persetubuhan terhadap korban,” ujar Kapolres Cianjur, AKBP Mochamad Rifai.

Ternyata, dari pengakuan tersangka, teman-teman PR pun turut meraba-raba tubuh korban saat tidak sadarkan diri. Sementara persetubuhan hanya dilakukan oleh tersangka yang masih berusia remaja. Namun, untuk kasus persetubuhan secara beramai-ramai, tidak ditemukan titik temu yang menuju terhadap kasus tersebut.

“Sementara belum ada merujuk kepada persetubuhan yang digilir. Setelah melakukan persetubuhan, korban tidak diantarkan pulang tapi dititipkan di salah satu warung,” ungkapnya.

Persetubuhan tersebut murni karena pengaruh minuman keras. Saat ini korban dalam pendampingan untuk pemulihan psikologis. Tersangka pun diganjar Pasal 81 ayat 1 dan atau Pasal 82 ayat 1 UU Nomor 17 tahun 2016 sebagai perubahan kedua di UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara dengan denda Rp5 juta. Sementara rekan tersangka masih berstatus saksi, jika ada keterlibatan, kemungkinan bisa turut menjadi tersangka,” tutupnya.(kim)