1 Juta Lebih Nakes Sudah Divaksin

PERDANA: 60 orang dari 350 tenaga kesehatan (nakes), giliran pertama menjalani vaksinasi yang dipusatkan di RSUD Cianjur, kemarin.(Foto:Hakim/Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, hingga saat ini pemerintah memvaksinasi tenaga kesehatan sampai 1 juta lebih.

“Intervensi kesehatan untuk mempercepat pengendalian juga diupayakan melalui vaksinasi demi mencapai kekebalan kelompok dengan target sasaran 181,5 juta penduduk,” ujarnya dalam konferensi

Siti Nadia menjelaskan, saat ini pemerintah sudah memiliki sebanyak 630 laboratorium pemeriksa tes PCR. Namun hal itu belum merata di seluruh Indonesia, sehingga perlu ditingkatkan.

“WHO sendiri sudah merekomendasikan screening menggunakan tes rapid Antigen untuk mendiagnosis Covid-19,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga menggunakan tes rapid Antigen untuk membantu secara cepat mendeteksi penularan dan dengan begitu pemerintah bisa dengan cepat menelusuri kontak-kontak pasien.

“Sehingga kasus bisa ditemukan lebih dini dan penanganan juga dilakukan lebih dini. Dengan rapid Antigen ini apabila hasilnya positif seharusnya sudah bisa melakukan isolasi mandiri, sambil menunggu hasil tes PCR,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ahli Epidemiologi FKM UI Syahrizal mengatakan, tes rapid Antigen memang disetujui WHO sebagai alat diagnosis dalam keadaan tertentu, sensitivitasnya juga di atas 80 persen dan spesifitas di atas 97 persen.

“Saya mendukung langkah pemerintah memberlakukan tes rapid Antigen sebagai alat diagnostik. Situasi ini memang akan meningkatkan laporan kasus, namun seperti kata Menteri Kesehatan, kita jangan panik kasus harian kita nanti meningkat,” imbuhnya.

Syahrizal juga menyampaikan, strategi melakukan tes dengan lebih cepat itu sangat bagus, karena kalau tidak menemukan kasus secepat mungkin maka wabah tidak cepat bisa dikendalikan. Kuncinya bukan sekadar puskesmas memiliki tes rapid Antigen tapi bagaimana puskesmas juga mampu menelusuri kontak dengan baik.

“Di sisi lain dalam proses pelacakan kasus kita sangat membutuhkan kerjasama dengan masyarakat. Karena masyarakat diminta mengingat siapa saja orang yang pernah kontak dengan dirinya. Tentu keterbukaan masyarakat juga diperlukan saat pernah melakukan kontak dengan pasien positif, sehingga mau melakukan tes,” pungkasnya.(jpc)