Awal Tahun, Sudah Ada Empat Kasus Kekerasan Seksual Anak

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com– Awal tahun 2021 diwarnai dengan kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur. Tak kurang empat kasus kekerasan dan pelecehan terhadap anak dan 11 tengah menjalani konseling.

Ketua Harian P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidiya Indayani Umar mengatakan, untuk tahun 2021 untuk kekerasan perempuan dan anak yang dirujuk dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan (PP), dari KPAI kurang lebih ada empat perkara anak.

“Dua yang kami tangani langsung di Cianjur dan ada 4 perkara yang masih dalam proses hukum, termasuk kemarin salah satu dukun cabul, guru ngaji yang di Ciranjang itu masih dalam proses. Nah sama dengan yang kemarin terkahir sodomi anak kurang lebih diperkirakan 25 korban, tapi yang baru kami konseling sekitar 11 orang,” ujarnya.

Menanggapi adanya kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum guru ngaji, Lidiya mengaku sangat prihatin.

“Kami sangat prihatin ternyata tahun 2021 perkara itu masih terjadi juga bahwa anak-anak yang harusnya dilindungi, diajarkan dia adalah panutan bagi anak anak, ternyata dia malah melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap anak,” tuturnya.

Menurutnya hal itu sangat tidak layak dan undang-undangnya sekarang sudah ada undang undang penambahan tentang hukuman kebiri.

“Hah ini juga kita melihat Polres Cianjur keseriusannya untuk memasukan pasal tersebut biar ada efek jera, terutama pada orang orang terdekat atau guru guru ngaji yang memang harusnya menjadi pelindung bagi muridnya,” jelasnya.

Lanjutnya, langkah yang dilakukan P2TP2A Kabupaten Cianjur pertama tentang perlindungan. Karena ia menyebut, sesuai dengan tupoksi P2TP2A SOP nya adalah bagaimana melindungi upaya perlindungan terhadap korban terlebih dahulu, bagaimana apabila ada korban mengalami kekerasan fisikis.

“Nah kita akan terus merubah mencoba memberikan dia konseling dulu agar dia merasa nyaman, aman tatkala dia di BAP dia bisa memberikan keterangan yang benar,” paparnya.

Jadi, anak tidak takut lagi dan memang fisikisnya harus disembuhkan terlebih dahulu.

“Jadi tindakan yang kami ambil yaitu yang pertama adalah upaya penanganan dan perlindungan korban terlebih dahulu, setelah itu baru kita dampingi ke Polres Cianjur,” terangnya.

Disisi lain, ia menyebut, peran orangtua juga sangat penting. Terlebih dalam masa pandemi Covid-19 sangat berpengaruh tinggi sekali terhadap kehidupan dan bahkan terjadi kekerasan terhadap anak ini karena anak tidak sekolah dan melakukan pembelajaran secara daring.

“Jadi kan anak di luar, orangtua membiarkan mereka main di mana saja, pengawasannya berkurang ya, ini yang kita imbau agar orangtua tetap menerapkan fungsi pengawasan anak di rumah selama mereka belajar di rumah atau daring,” paparnya.

Yang ke dua, tetap harus meningkatkan ketahanan keluarga, karena penting. Banyak sekali korban terjadi tapi tetap orangtua lalai dalam melihat anak. Akhirnya anak bergaul sembarangan sudah dua hari anak tidak pulang tidak di cari dan ini yang sekarang banyak terjadi.

“Nah kalau menurut saya saat ini orangtua lalai, jadi tetep kami mengimbau bagaimanapun orangtua saat kondisi seperti ini, tetap tingkatkan ketahanan keluarga dan fungsi pengawasan terhadap anak-anak,” tutupnya. (kim)