Derita Nelayan Janyanti Saat Cuaca Ekstrem, Bertaruh Nyawa, Hasil Tangkapan Turun 50 Persen

Karena cuaca buruk puluhan perahu nelayan ditambatkan didermaga pelabuhan Jayanti. Foto Fadiah Munajat/ Radar Cianjur

Deburan ombak berwarna putih menghantam batu dermaga pantai Jayanti, Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur. Puluhan perahu terparkir tampak bergesekan satu sama lain.

Laporan Fadilah Munajat, Cidaun, Radar Cianjur

Pagi itu angin bertiup kencang. Awan mendung di langit menghalangi sinar matahari untuk turun ke bumi. Namun, hal itu tidak menyurutkan nelayan untuk mengecek perahunya yang bersandar di dermaga.

“Kalau cuaca lagi kurang bersahabat saya hanya mengecek perahu yang bersandar,” ujar Ketua kelompok nelayan Jayanti Agus Bambang Irawan.

Menurutnya jika memaksakan untuk melaut, akan membahayakan terhadap keselamatan, selain itu kondisi ini juga membuat tangkapan ikan turun 50 persen.

“Sekitar tiga hari lalu ada nelayan yang memaksakan diri melaut, namun dia malah tenggelam, beruntung dapat diselamatkan,” ujarnya.

Agus menceritakan, pengalaman melaut saat gelombang tinggi pada tahun sebelumnya, perahunya sempat pecah dihantam gelombang.

“Waktu Itu perahu yang saya pakai terbuat dari kayu, jadi saat perahu pecah tidak langsung tenggelam, berbeda dengan perahu yang terbuat dari piber, kalau pecah pasti langsung tenggelam,” ujar bapak dua anak ini

Sembari di temani rekan nelayan lainya Agus mengatakan, perahu miliknya ditambatkan di dermaga sudah sepekan ini akibat cuaca buruk. Kondisi cuaca di tengah laut akhir-akhir ini sedang kurang bersahabat, dan anginnya cukup kencang. Sehingga para nelayan sementara waktu memilih untuk tidak pergi melaut.

“Untuk sementara kami tidak melaut, untuk mengisi waktu kami memperbaiki jaring yang rusak,” katanya

Pria 50 tahun ini mengatakan, cuaca buruk seperti ini hampir terjadi setiap tahun, datangnya cuaca buruk biasanya terjadu pada bulan Januari hingga Maret.

“Kami berharap kondisi cuaca bisa segera normal, biar bisa melaut lagi. Bingung juga kalau sudah tidak ada pendapatan seperti ini,” tuturnya

Menurut Agus cuaca seperti ini, disebut musim baratan yang berarti musim angin barat. Disaat musim seperti ini rata-rata nelayan tidak berani melaut.

“Kalaupun ada yang berangkat hanya ke jalur dua tidak berani ke jalur tiga,” ujarnya (**)