Gara-gara Ini, Santri Pesantren Terbesar di Karangtengah Kena Pukul Santri Lainnya

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com-Salah satu santri di pondok pesantren terbesar di Kecamatan Karangtengah diduga menjadi korban penganiayaan santri lainnya. Dari informasi yang terhimpun, penganiayaan dilakukan oleh santri berinisial DO kepada FM pada Jumat (12/2) sekitar pukul 10.00 WIB.

Kejadian itu berawal saat korban menegur terduga pelaku yang menagih iuran untuk kalender kepada teman korban. Karena temannya tidak memiliki uang, korban berniat membela.

Tidak terima ditegur oleh korban, terduga pelaku melakukan penganiayaan terhadap korban dengan cara menendang korban sampai terjatuh kemudian langsung memukuli korban menggunakan tangan kosong sebanyak tiga kali ke arah wajah korban sehingga mengakibat korban mengalami luka memar dan pecah pembuluh darah pada mata sebelah kanan.

Korban pun diancam untuk tidak melaporkan kejadian tersebut kepada siapapun termasuk guru. FM yang ketakutan pun lebih memilih berdiam diri di kamar dan teman satu kelas korban pun tidak berani untuk memberitahu.

Bahkan, ketika orangtua korban akan mengantarkan makanan. Korban meminta makanan yang lunak. Saat ditanya kondisinya, korban mengalihkan pembicaraan. Tidak percaya begitu saja. Orangtua FM pun memintanya untuk melakukan video call.

Mendapati anaknya kondisi lebam pada bagian mata kanan, pihak keluarga pun langsung mendatangi ponpes untuk mengetahui kondisi anaknya. Keluarga pun meminta pertanggungjawaban ponpes dan santri yang melakukan penganiayaan.

Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Anton mengatakan, jajarannya masih melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait dugaan kasus penganiayaan yang terjadi di lingkungan ponpes itu.

Anton menyebutkan, sejumlah saksi termasuk korban telah dimintai keterangan oleh penyidik.

“Betul, kejadiannya dilingkungan pondok pesantren. Terduga pelaku dan korbannya merupakan santri di pesantren tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Ponpes, Wandi Ruswanur membenarkan adanya kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan santri di lingkungan pesantrennya.

Meski begitu peristiwa tersebut sudah lama terjadi dan sudah diselesaikan secara kekeluargaan antara pihak keluarga korban dan pihak keluarga pelaku.

“Kejadian itu sudah lama dan kami pihak pengelola pondok pesantren sudah menyerahkan hal itu ke keluarga dengan melakukan mediasi anatara keluarga terduga pelaku dengan korban,” terang Wandi didampingi pihak sekolah.

“Saat ini santri yang merupakan terduga pelaku sudah dikembalikan ke keluarganya, karena sebelumnya terduga pelaku juga sudah pernah mendapatkan surat peringatan sebanyak dua kali,” tambahnya.(*/kim)