Geng Motor Kembali Berulah di Cianjur, Bawa Sajam Aca-acak Rumah Kost

SEPI: Pasca kejadian aksi genk motor di salah satu kosan yang berada di Gang Ikhlas Rt001 Rw016 Desa Limbangansari terlihat lenggang. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Kembali terjadi dan belum terselesaikan. Ya, aksi genk motor kembali terjadi di Kabupaten Cianjur. Tindakannya pun bukan terarah dan direncanakan. Namun aksi tersebut dilakukan secara acak. Seakan sudah tak asing. Masyarakat pun kerap mengetahui ciri-ciri genk motor yang selalu berulah di setiap menjelang petang. Bersenjata tajam dan menggunakan kendaraan roda dua. Seakan siap mencari mangsa atas tindakan yang dirasa bisa memuaskan jiwa muda.

Rentetan aksi genk motor di Kota Santri ini pun terbilang sering. Beberapa waktu sebelumnya, orang tak bersalah menjadi korban pembacokan atas tindakan para anggota genk motor yang terbilang masih muda bahkan bisa dibilang berusia remaja.

Belum lama ini, yang menjadi korban yakni seorang pewarta berita atau wartawan yang dirusak kendaraannya saat melintas di Jalan Pangeran Hidayatullah dan berujung pengejaran hingga bundaran Tugu Lampu Gentur.

Terakhir, penyerangan ke salah satu indekos yang berada di Jalan Pangeran Hidayatullah Gang Ikhlas Rt001 Rw016 Desa Limbangansari Kecamatan Cianjur. Masyarakat pun dibuat khawatir dan resah atas aksi yang terbilang bar-bar tersebut. Tindakan yang terekam kamera pengawas atau CCTV pun turut diabadikan oleh salah satu penghuni indekos dan viral di jagat media sosial.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Radar Cianjur (@radar_cianjur)

Dalam rekaman tersebut, sejumlah remaja yang berjumlah kurang lebih enam orang dengan santai mengacung-acungkan senjata tajam seperti samurai dan cerulit berukuran besar. Tidak sedikit masyarakat meminta tindakan tegas kepada aparat penegak hukum (APH) agar hal tersebut tidak kembali terulang dan para pelakuk bisa diamankan.

Ketua Rt001, Bakur menuturkan mengenai awal kronologis kejadian tersebut. Pada Rabu (10/3) malam, sekitar pukul 00.00 WIB dirinya tengah melakukan ronda sendirian dan berdiam diri di depan gang. Tak berselang lama, tiga motor dengan berbonceng dua orang akan memasuki Gang Ikhlas dengan menggesekkan senjata tajam ke jalanan.

“Saya sempat tanya anak-anak tersebut, mau apa dan ada apa? Tapi malah melotot dan langsung masuk ke dalam gang,” ujarnya.

Tidak ingin menjadi korban salah sasaran, dirinya pun lebih memilih kembali ke dalam rumah. Sempat beberapa kali dirinya mendengar teriakan demi teriakan yang dilontarkan oleh beberapa pemuda tersebut. Selain itu, kondisi lingkungan yang sepi membuat keadaan semakim mencekam.

Masyarakat sekitar yang ketakutan lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Selang beberapa jam setelah kejadian tersebut, dirinya keluar rumah dan melihat kondiri indekos yang sudah didatangi oleh remaja yang diduga merupakan anggota genk motor. Satu unit motor dan satu drum berwarna hijau di gulingkan di sekitar kos.

Bahkan dari penuturannya, salah satu penghuni kosan sempat memanggil salah satu remaja tersebut agar menghentikan aksinya. Dari informasi terhimpun, sebelumnya pernah terjadi salah satu penusukan dan masalah tersebut sudah diselesaikan secara baik-baik.

“Bisa jadi ada sangkut pautnya dengan kasus yang sebelumnya terjadi. Dari informasi yang saya dapat sih begitu. Tapi masalahnya kan sudah selesai secara baik-baik atau musyawarah,” paparnya.

Kapolres Cianjur, AKBP Mochamad Rifai mengatakan, pihaknya sudah mengetahui mengenai kejadian yang dilakukan oleh sejumlah remaja yang menyerang salah satu indekos di Desa Limbangansari tersebut. Bahkan, pihaknya saat ini tengah melakukan pencarian dan pengejaran terhadap para terduga pelaku.

“Saya sudah mengetahui info tersebut dan saat ini dalam pencarian,” singkatnya.

Kasus genk motor bukanlah kasus baru di Indonesia maupun Kabupaten Cianjur. Seakan padam surut, kejadian tersebut kembali mencuat ke permukaan beberapa waktu ini.

Berbagai cara pun sudah dilakukan untuk meredamkan kekerasan atas aksi jalanan tersebut. Tahun lalu, Polres Cianjur melakukan aksi deklarasi damai dengan mengundang berbagai jajaran pengurus dari kelompok genk motor yang ada di Kabupaten Cianjur.

Tentu deklarasi yang telah dilakukan menjadi tercoreng dengan kembalinya aksi brutal tersebut. Tak ada nilai berarti. Pudar dan bias. Berbagai pihak pun dituntut untuk bahu membahu dalam merumuskan permasalahan genk motor yang tak kunjung usai.

Kriminolog Univeristas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Kuswandi berpendapat, semua pihak harus bekerja keras menanganai masalah kenakalan remaja yang sudah sangat meresahkan ini. Bahkan, penanganan pun tidak hanya digantungkan kepada APH. Selain itu, penyelesaiannya tidak setengah-setengah atau hanya pada saat kejadian saja. Akan tetapi secara berkelanjutan.

“Ini permasalahan klasik, bukan kali ini saja. Perlu pendekatan dari berbagai elemen. Bisa melalui APH, Tokoh Masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur,” tuturnya.

Wakil Dekan II Fakultas Hukum ini pun menambahkan, penyelesaian masalah ini jangan disamakan seperti memadamkan api. Perlu terus menerus ditelusuri akar awal mulanya. Selain itu, memposisikan anak kepada para remaja yang melakukan aksi tersebut. Sehingga penghukumannya bukan bentuk pembalasan atas tindakannya.

“Tidak selalu dengan hukum, paradigmanya harus dirubah. Tempatkan mereka seolah-olah korban, perlu ditolong dan dipulihkan. Karena mereka dari struktul sosial yang tidak sehat,” jelasnya.

Selain itu, pendekatan selama ini yang sudah dilakukan, perlu dievaluasi lebih mendalam. Karena dinilai tidak dianggap terlalu berhasil dalam penyelesaiannya. Meski kejadian dari aksi tersebut tidak memakan korban jiwa, perlu adanya tindakan prefentif dengan kembali menggiatkan patroli pada malam hari.

Namun. lanjutnya, jika sudah memakan korban dan sampai kehilangan nyawa. Perlu adanya tindakan tegas. Meskipun preentif dan prefentif dirasa sangat ideal sebagai bentuk membangun pola pikir masyarakat agar tidak menjadi pemicu tindakan-tindakan yang merugikan.

“Kalau sudah seperti itu (beringas, red) harus ditindak secara represif. Harus ada penegakan hukum. Namun yang jadi pertanyaan atau persoalan, setelah ditindak hukum apakah menjadi baik atau tidak? Selesai atau tidak permasalahannya,” imbuhnya.

Lahirnya genk motor bukan terjadi pada baru-baru ini, namun sudah sejak tahun ’80 an. Berbeda pada tahun tersebut. Remaja yang melakukan aksi merupakan kalangan berada. Pasalnya, hanya segelintir orang yang memiliki uang yang bisa membeli kendaraan roda dua saja.

Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Semua orang bisa membeli kuda besi. Ditambah orangtua yang membebaskan kepada anaknya dan memanjakan dengan bentuk penuh kasih sayang serta menyediakan kebutuhan anak seperti kendaraan.

Selain itu, pelaku yang melancarkan aksi secara acak tersebut rata-rata memiliki kecenderungan tidak memiliki panggung baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Para pelaku pun memiliki motivasi eksistensi. Sehingga, semakin sadis melakukan aksinya, maka semakin dianggap luar biasa.

“Bukan karena kebutuhan ekonomi, tapi karena krisis identitas. Mereka cenderung tidak memiliki panggung di lingkungan. Jadi sangat jarang jika genk motor melakukan aksi kejahatan serius,” terang Pakar Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati.

Menurutnya, yang patut menjadi penanggungjawab atas tindakan tersebut yakni orangtua yakni berupa denda atau mencabut surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, fenomena tersebut bukan menjadi rentetan dari kejadian yang sempat ramai di jagat dunia maya yakni aksi genk motor di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

“Dalam kondisi Covid-19 ini kan semua di dalam rumah, sekolah juga dilakukan daring atau online. Jadi mereka memanfaatkan waktu luangnya untuk hal yang kurang produktif atau tindakan yang bisa memuaskan mereka,” tambahnya.

Penjagaan lingkungan pun perlu digalakkan lagi, seperti menghidupkan kembali siskamling atau ronda. Kerjasama lingkungan sosial dan rumah pun perlu bersinergi, sehingga penanggulangan aksi tersebut bisa diatasi sedini mungkin.

“Ini menjadi problem orangtua, jadi mau menjadikan anaknya sebagia penyerang atau korba,” tegasnya.

Psikologi, Retno Lelyani Dewi menilai, saat masuk ke masa remaja, peran teman menjadi dominan. Keinginan individu untuk diakui dan memiliki teman banyak menjadi penting. Sehingga berbagai alasan pun dihalalkan agar bisa dirangkul dan keberadaannya dianggap ada. Seperti dianggap keren, pintar dan hebat.

Pada genk motor, kesetiakawanan dan penghormatan pada pimpinan merupakan hal mutlak. Ini yang menyebabkan perintah dari ketua genk akan segera diikuti. Termasuk saat diminta untuk melakukan aksi yang membahayakan orang lain.

“Anggota genk motor tidak akan peduli dengan akibat, yang mereka pikirkan hanya bagaimana menunjukkan bahwa dirinya layak disebut hebat oleh teman se-genk. Terlebih jika disebut hebat oleh ketua genk,” tuturnya.

Ada beberapa alasan mengapa remaja-remaja tergabung dalam genk motor. Seperti merasa dapat melarikan diri dari masalah yang dialami dengan menyalurkan agresifitas melalui genk motor, merasa ingin menunjukan bahwa dirinya bisa bergabung dan melakukan aksi yang tergolong berani atau nekat. Artinya, tidak semata-mata krisis eksistensi.

“Peran keluarga dan lingkunggan tentunya sangat besar. Idealnya, saat anak masuk ke fase pubertas, sekitar usia 10-11 tahun, orangtua bisa terlibat dalam kegiatan anak dan sebaliknya, orangtua juga melibatkan anak dalam kegiatan orangtua. Ajak dan kondisikan agar anak akan merasa nyaman dan tertarik dengan kegiatan yang dilakukan. Hal ini memperkuat ikatan emosional dengan anak. Sehingga definisi anak tentang perilaku baik, menyenangkan dan bermanfaat terbentuk kuat,” jelasnya.

Retno menambahkan, peran media membantu mengedukasi orangtua menjadi penting. Karena banyak orangtua merasa anaknya sudah ‘gede’ jadi tidak perlu didampingi. Orangtua merasa santai dan sibuk menikmati kehidupannya. (kim)