Harga Cabai di Cianjur Belum Stabil

RADARCIANJUR.com -Harga kebutuhan pokok jenis cabai-cabaian di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Cianjur masih belum stabil. Kendati mulai mengalami penurunan, tapi masih jauh di atas harga normal.

Salah satunya di Pasar Induk Cianjur, Pasirhayam. Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Cianjur di lapangan, ketidakstabilan harga berbagai jenis cabai-cabaian itu sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Salah seorang pedagang Pasar Induk Cianjur, Iyan (35) menduga, tidak stabilnya harga cabai itu disebabkan cuaca buruk dan suplai telat dari petani.

“Biasanya memang gitu. Akibat cuaca buruk dan pengiriman yang telat dari petani. Kalau cabai dikirimnya dari Bandung,” ungkap Iyan, Kamis (11/3).

Untuk saat ini, kenaikan harga cabai pun bervariasi. Cabai rawit hijau misalnya, kini dijual Rp60 ribu per kilogram. “Kalau cabai rawit domba dan cabai merah tanjung harganya Rp120 ribu per kilo,” tuturnya.

Menurutnya, harga saat ini sejatinya sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya yang naik sampai melebihi harga daging sapi per kilogramnya.

“Kemarin harga cabai rawit domba sama cabai merah tanjung naiknya sampai Rp160 per kilogram. Untuk hari ini sih turun, tapi turunnya tidak sampai ke harga normal,” terangnya.

Kenaikan harga cabai-cabaian itu, untuk di Pasar Induk Cianjur, mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat harga normal.

“Kalau lagi normal cabai merah tanjung dan cabai merah domba cuma Rp40 ribu per kilogram. Kalau cabai rawit hijau sih gak terlalu drastis kenaikanya,” imbuhnya.

Tidak stabilnya harga itu, jelas memberikan pengaruh yang cukup besar bagi para pedagang. Pasalnya, pembeli lebih memilih mengurangi pembeliannya. Dari awalnya yang biasa membeli satu kilogram, kini hanya membeli paling banyak setengahnya saja.

“Biasanya jam 8 sampai jam 9 pagi kalau lagi normal 10 kilogram semua jenis cabai bisa habis terjual. Kalau sekarang bisa laku 5 kilogram saja seharian. Sore masih ada sisa,” ungkap dia.
Sementara itu, Imas (40), pemilik warung nasi mengaku imbas dari ketidakstabilan jenis cabai sangat dirasakan dampaknya.

“Biasanya kalau bawa uang segitu bisa cukup buat beli kebutuhan pokok lainnya. Sekarang cuma cukup buat beli cabai aja,” Kata Imas.

Dampak lain adalah jenis makanan dan sayuran yang dijualnya. Dirinya pun tak bisa menaikkan harga satu porsi nasi kepada pelanggannya. Di sisi lain, modal yang harus ia keluarkan membengkak.

“Kalau cabainya dikurangi ke masakan kan kurang enak. Saya juga tidak mau kehilangan pelanggan. Akhirnya keuntungan juga sangat kecil,” tandasnya.(cr1)