Gunakan Sinopharm-Moderna, Vaksinasi Mandiri Libatkan 806 Fasyankes

RADARCIANJUR.com-Target vaksinasi 1 juta orang per hari masih sangat jauh dari realisasi. Hingga kini pemerintah hanya mampu memvaksin 10 ribu–100 ribu orang per hari. Target Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memvaksin 181,5 juta penduduk sampai akhir tahun ini pun sulit terpenuhi.

Capaian minim itu diungkapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR kemarin (15/3).

Dia menyatakan, lambatnya vaksinasi disebabkan stok vaksin yang terbatas. ”Kita hanya punya 10 juta dosis,” ujarnya. Tambahan vaksin sebanyak 15 juta dosis baru datang sekitar akhir Maret ini. Lalu, bulan depan datang lagi 15 juta dosis. Dengan demikian, total ada 30 juta dosis.

Untuk mengejar target vaksinasi, pemerintah juga mengizinkan vaksinasi secara mandiri yang berbayar. Untuk yang satu ini, pemerintah menggunakan istilah vaksinasi gotong royong. Sasarannya adalah para karyawan beserta keluarga. Pembiayaan dibebankan kepada perusahaan pemberi kerja. ”Kami gandeng swasta, kelompok masyarakat, dan sebagainya agar bisa menyentuh 500 ribu penyuntikan per hari,” katanya.

Budi menerangkan, vaksinasi gotong royong akan lebih banyak melibatkan peran PT Bio Farma serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Sedangkan tarif vaksinnya akan ditentukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). ”Kami akan tentukan tarif setelah BUMN dan Kadin duduk bersama, lalu datang ke kami,” ucapnya. Budi juga menegaskan bahwa vaksin yang digunakan untuk vaksinasi gotong royong berbeda dengan vaksin gratis. Tujuannya, vaksin gratis tidak bocor ke program gotong royong.

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir menyatakan, pihaknya sudah melakukan pemetaan fasilitas layanan kesehatan (fasyankes). Ada 806 fasyankes yang siap. Jumlah itu merupakan gabungan dari pihak swasta, jaringan Bio Farma, dan BUMN. ”Angka ini masih bisa berubah,” katanya.

Rata-rata setiap fasyankes mampu memvaksin 75 hingga 100 orang per hari. Dengan demikian, dalam satu bulan bisa tercapai 2 hingga 3 juta vaksinasi. ”Untuk distribusi vaksin, semua perusahaan yang terlibat harus memiliki cara distribusi obat yang baik (CDOB),” ungkapnya.

Pendistribusian vaksin akan dilakukan PT Bio Farma dan perusahaan yang memiliki sertifikat tersebut. Vaksinasi gotong royong akan menggunakan vaksin Sinopharm dari Tiongkok dan Moderna dari Amerika. ”Kami sudah meminta komitmen dari Sinopharm 15 juta dosis dan Moderna 5,2 juta dosis,” beber Honesti.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengungkapkan, antusiasme pengusaha yang ingin mengikuti program vaksinasi gotong royong terbilang tinggi. Hal itu terbukti dari bertambahnya jumlah perusahaan yang mendaftar. Sejak 28 Januari sampai 10 Maret 2021, tercatat sudah 11.542 perusahaan yang mendaftar dengan total target vaksinasi 7.403.356 orang. ”Dan ini masih terus berjalan,” kata Rosan.

Pendaftar vaksinasi gotong royong bukan hanya perusahaan besar. Tidak sedikit pelaku UMKM yang ikut mendaftar meski hanya memiliki 5–10 karyawan. ”Ini hal yang positif. Dari asosiasi pun bertanya apakah UMKM boleh mendaftar. Kami sampaikan, selama entitasnya itu ada identitas Indonesia, maka silakan,” tegas alumnus Oklahoma State University tersebut. Rosan mengungkapkan, program itu sudah dibahas dengan Presiden Jokowi pada awal 2021.

Chairman Recapital Group tersebut menjelaskan, program vaksinasi gotong royong tidak memberatkan pengusaha sama sekali. Sebab, saat ini pun pengusaha sudah menerapkan protokol kesehatan ketat untuk karyawannya. Mulai rapid test antigen dua minggu sekali hingga swab test PCR. Dengan vaksinasi gotong royong, para karyawan lebih terlindungi. Produktivitas kerja bisa meningkat. Terkait pelaksanaan, pihaknya terus berkomunikasi dengan pemerintah. Kadin kini masih terus mendata perusahaan yang ingin mengikuti vaksinasi gotong royong. Data telah diberikan kepada Kemenkes dan Bio Farma untuk disempurnakan. Tujuannya, tidak ada overlapping data vaksinasi.

Sementara itu, Jubir Pemerintah untuk Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, vaksin yang digunakan pada vaksinasi gelombang kedua yang menyasar kelompok prioritas seperti pekerja media, pelayan publik, dan pedagang pasar adalah produk terbaru hasil dari produksi Bio Farma. Penegasan itu disampaikan Nadia untuk membantah isu bahwa vaksin di Indonesia akan kedaluwarsa pada 25 Maret 2021.

”Yang akan expired pada akhir Maret itu adalah vaksin Sinovac yang kita terima dalam bentuk jadi. Atau vaksin Coronavac yang bentuknya 1 dosis vial kecil. Isinya satu dosis untuk penyuntikan satu orang,” jelas Nadia kemarin.

Vaksin yang didapatkan pada batch pertama itu, kata Nadia, sudah disuntikkan kepada tenaga kesehatan pada tahap pertama vaksinasi. ”Sebagian lagi untuk petugas layanan publik,” ujarnya.

Sedangkan vaksin yang saat ini digunakan untuk menyuntik para pekerja media, lansia, hingga pedagang pasar hasil produksi Bio Farma yang diterima dalam 35 juta dosis berbentuk bulk setengah jadi. ”Sudah diproses Bio Farma menjadi vaksin jadi. Kemasannya berbeda dengan yang akan kedaluwarsa di bulan Maret,” terangnya.(jpc)