PTM Digelar Bulan Juli 2021? Ini Tanggapan Dokter Anak

Dokter Spesialis Anak dan Edukator Kesehatan, dr Lucy Amelia

RADARCIANJUR.com– Penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya akan digelar pada bulan Juli 2021 masih menjadi kontroversi. Pasalnya, pelaksanaan terhadap tenaga pengajar pun belum sepenuhnya dilaksanakan. Terlebih tenaga pengajar yang berstatus honorer. Namun, beberapa daerah tetap ‘ngotot’ untuk segera melakukan PTM pada Juli mendatang.

Akan tetapi, hal tersebut perlu dilakukan kajian terlebih dilakukan dan beresiko terhadap siswa atau pelajar. Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun bahkan belum mengeluarkan rekomendasi atau tanggapan dalam rencana PTM tersebut.

“Sebelumnya IDAI menunda pembelajaran tatap muka sebelum statement guru divaksin ada. Tapi rencana ini belum dapat setatement dari IDAI,” ujar Dokter Spesialis Anak dan Edukator Kesehatan, dr Lucy Amelia dalam Webinar ‘Kiat Menjaga Keluarga Tetap Sehat di Kala Pandemi’ yang digelar Klinik Pintar.

Lanjutnya, secara teori, apabila orang dewasa sudah dua kali mendapatkan vaksinasi Covid-19, tetap tidak boleh merasa aman terlebih melepaskan segala protokol kesehatan. Bahkan, menurutnya, badan kesehatan dunia atau WHO pun menyarankan untuk memeriksa antibodi masing-masing masyarakat.

“WHO pun tidak menyarankan untuk memeriksa antibodi, tapi saya ingin tahu dan alhamdulillah lumayan tinggi tapi belum ada penelitian akan bertahan berapa lama. Apakah saya pede? tidak. Merasa aman? tidak, tapi lebih tenang karena sudah melaksanakan ikhtiar saya selama ini. Jadi tetap kita tidak menghilangkan mindset aman karena aman itu tetap menggunakan masker,” paparnya.

Selain itu, Lucy menjelaskan, anak khususnya usia TK dan SD sedikit beresiko apabila melaksanakan sekolah tatap muka meskipun gurunya sudah mendapatkan vaksinasi

“Dan gurunya pasti tetap memakai masker kumlah anak dikasih jarak. Kalau anak TK-SD itu kurang setuju untuk sekolah tatap muka terlebih anak biasanya rentan infeksi oleh penyakit apapun. Kalau SMP-SMA baru bisa karena sudah tahu soal protokol kesehatan,” terangnya.

“Dan tetap menggunakan protokol kesehatan karena pembelajaran online sangat tidak efektif,” sambungnya. (kim)