MUI Minta Vaksinasi Kiai, Santri, dan Hafiz

RADARCIANJUR.com-Dukungan terhadap penggunaan vaksin AstraZeneca terus mengalir. Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama, kemarin (22/3) giliran sejumlah tokoh agama di Jawa Timur yang menyatakan kesiapan untuk menerima suntikan vaksin yang kehalalannya sempat diragukan tersebut. Selain para tokoh agama, pernyataan kesiapan disampaikan beberapa pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur. Itulah yang disampaikan Presiden Joko Widodo di sela-sela vaksinasi massal di Pendapa Delta Wibawa, Sidoarjo, kemarin.

”Tadi pagi saya bertemu dengan MUI Jawa Timur dan para kiai di Provinsi Jawa Timur mengenai vaksin AstraZeneca. Beliau-beliau tadi menyampaikan bahwa Jawa Timur siap diberi vaksin AstraZeneca dan akan digunakan di pondok-pondok pesantren di Jawa Timur,” ujar Jokowi.

Jokowi sangat mengapresiasi hal tersebut dan bakal menginstruksikan menteri kesehatan (Menkes) untuk mendistribusikan vaksin AstraZeneca ke Jawa Timur (Jatim) dan provinsi-provinsi lain yang membutuhkan.

Dalam kesempatan tersebut, presiden turut menyaksikan pemberian vaksin AstraZeneca kepada Ketua Umum MUI Jatim KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah. Vaksin yang sama diberikan kepada KH Ahmad Rofiq Siraj hingga mantan atlet sepak bola nasional Uston Nawawi.

Vaksinasi massal itu melibatkan sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan pekerja publik, tokoh agama, hingga atlet. Pada saat bersamaan, vaksinasi massal serupa berlangsung di beberapa lokasi lain di Kabupaten Sidoarjo.

”Saya ingin memastikan kesiapan kabupaten, rumah sakit, dan puskesmas yang ada sehingga kita harapkan ke depan vaksinasi nasional ini berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.

Berdasar data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), hingga 21 Maret, 9.397 tenaga kesehatan di Kabupaten Sidoarjo telah menerima dua dosis vaksin Covid-19. Sebanyak 19.482 pekerja atau pelayan publik juga telah mendapatkan dosis kedua vaksin di antara total keseluruhan 31.902 peserta yang telah menerima suntikan dosis pertama.

Hasan menegaskan, vaksin AstraZeneca halal dan tayib. ”Vaksin AstraZeneca ini hukumnya halalan dan tayyiban serta memang seharusnya dimanfaatkan untuk program vaksinasi pemerintah,” katanya.

Mantan ketua PWNU Jatim tersebut juga berpendapat bahwa pemberian vaksin itu menuai respons yang baik dari para kiai dan pengasuh ponpes di Jatim. Dia menjelaskan, vaksinasi massal yang diadakan pemerintah memang bertujuan menjaga jiwa dan keselamatan rakyat dari pandemi Covid-19 yang tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga sebagian besar negara di dunia. ”Tidak ada pemerintah yang akan mencelakakan rakyatnya,” tegas Hasan.

Dia juga menyampaikan permohonan agar para santri, ustad, ustadah, dan tokoh-tokoh keagamaan lainnya segera dapat memperoleh dosis vaksin tersebut. ”Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden bila para santri, para ustad dan ustadah, serta hafiz dan hafizah segera diberi vaksin AstraZeneca ini dan kami bersyukur mudah-mudahan nanti dapat ditiru komponen masyarakat lain,” tuturnya.

Sementara itu, sidang Komisi Fatwa MUI Jatim kemarin menghasilkan tiga kesepakatan. Pertama, mendorong pemerintah tetap mengoptimalkan vaksinasi untuk meminimalkan pandemi Covid-19. Kedua, seluruh masyarakat harus berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilakukan pemerintah sebagai upaya menghindari penularan dan mengakhiri pandemi. Ketiga, vaksin Covid-19 yang dalam rangkaian uji penemuan dan produksinya menggunakan bahan yang sudah mengalami perubahan bentuk (istihalah/istihlak) adalah halal dan tidak najis. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak ragu atas kehalalan dan kesucian vaksin dalam kategori yang dimaksud, apalagi berkaitan dengan vaksinasi yang menjadi kebutuhan darurat nasional. Poin ketiga itu merujuk pada penggunaan vaksin AstraZeneca.

Salah satu dasar yang diambil komisi fatwa adalah hukum mengenai kesucian benda najis yang mengalami perubahan. Disebutkan, ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa benda najis bisa suci dengan mengalami perubahan. Sebab, agama menentukan sifat najis pada hakikat benda tadi. Hakikat benda najis bisa berubah karena perubahan sebagian saja, apalagi perubahan seluruhnya.

Contohnya, embrio janin. Saat masih berupa sperma dan darah, hukumnya najis. Namun, ketika berubah jadi daging manusia menjadi suci. Selain itu, ada contoh tentang perasan anggur yang termasuk suci. Namun, saat menjadi khamar (minuman memabukkan), hukumnya najis. Saat menjadi cuka dan tidak memabukkan bisa suci lagi. Dengan begitu, perubahan sebuah benda akan menghilangkan sifat pada benda tersebut secara otomatis.

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI menyampaikan ringkasan hasil kajian dokumen terhadap penggunaan bahan asal babi pada vaksin AstraZeneca. Direktur LPPOM MUI Muti Arintawati menyatakan, ada dua informasi yang menyebut penggunaan bahan asal babi pada pembuatan vaksin AstraZeneca.

Pertama adalah tahap penyiapan inang virus. Pada proses itu, terdapat penggunaan bahan dari babi berupa tripsin yang berasal dari pankreas babi. Bahan tersebut digunakan untuk memisahkan sel inang dari microcarrier-nya.

Lalu, yang kedua pada penyiapan bibit vaksin rekombinan hingga siap digunakan untuk produksi. Ada penggunaan tripsin dari babi. Pada tahap itu, tripsin babi menjadi salah satu komponen pada media yang digunakan untuk menumbuhkan E.coli dengan tujuan meregenerasi transfeksi plasmid p5713 p-DEST ChAdOx1 nCov-19. ”Dua informasi tersebut tercantum dalam dossier yang dikaji,” jelasnya.

Sementara itu, perluasan kelompok penerima vaksin terus dilakukan. Kemarin Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Sandiaga Uno meninjau pelaksanaan vaksinasi bagi para pekerja Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Setidaknya tercatat ada 5.000 pekerja yang akan divaksin secara bertahap hingga Jumat (26/3). ”Ini difokuskan bagi seribu petugas frontliner bandara dan maskapai penerbangan,” kata Sandiaga.

Itulah upaya untuk menghadapi rencana pembukaan penerbangan internasional pada Juni mendatang. Diharapkan, perekonomian mampu bangkit seiring dengan upaya menekan penularan Covid-19.

Sebelumnya, 680 orang menjalani vaksinasi di Puri Saren Agung, Ubud. Jumlah tersebut meliputi pelaku industri pariwisata, pimpinan umat beragama, perwakilan budayawan, perwakilan pemuda, dan masyarakat setempat. Di Denpasar, vaksinasi massal telah dilakukan untuk 500 pekerja industri pariwisata.

Sementara itu, di pulau berbeda, tepatnya di Kepulauan Riau, ada 3.500 pekerja parekraf yang menerima vaksin perdana. Sebanyak 1.500 orang mengikuti vaksinasi di wilayah Batam dan 2.000 orang lainnya di Lagoi, Bintan. ”Targetnya, 30 ribu orang harus divaksin sebelum 21 April untuk safe travel corridor,” tuturnya.(jpc)