Jangan Jadikan Anak Korban Dari Kesibukan Orang Tua

KETUA: Harian P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar. (FOTO: RISMA RUSTIKA SARI/ RADAR CIANJUR)

RADARCIANJUR.com- Orang tua yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tidak hanya memberikan dampak secara ekonomi saja. Namun, ada dampak lain yang terjadi. Seperti halnya anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya bekerja ke luar negeri dan hanya melalui komunikasi telepon untuk menjalin silaturahmi.

Dampak dari anak yang ditinggalkan orang tua bekerja ternyata beragam dari mulai kurangnya kasih sayang hingga anak yang tidak dirawat oleh ayah atau ibu yang fokus pada kesibukannya masing-masing.

Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar mengatakan, banyak dampak jika anak ditinggalkan orang tua untuk menjadi PMI atau TKW karena pengasuhan dialihkan ke keluarga yang lain.

Lidya menyebut pola tersebut sangat keliru. Meskipun secrara hukum dan agama tidak mempermasalahkan apabila seorang perempuan atau istri bekerja.

“Di sini anak banyak tidak mendapatkan perhatian dan kasih saayng dari orang tua ada juga beberapa, ayahnya tidak mau bekerja atau mungkin males dan mengizinkan istrinya namun setelah berangkat suaminya nikah lagi, anak ditelantarkan dan dititipkan ke neneknya tidak dikasih biaya, akhirnya tidak sekolah. Cuman karean di Cianjur dalam kondisi pandemi dan pekerjaan untuk laki-laki itu sulit itu juga menjadi serius dalam menanggapi ini,” ujarnya.

Di kondisi saat ini, banyak sekali ditemukan wanita lebih dominan bekerja dibandingkan laki-laki. Seperti contoh di berbagai pabrik yang ada di Kabupaten Cianjur yang didominasi oleh perempuan. Sementara suaminya hanya mengantar jemput atau menjadi tukang ojek.

“Ada juga anak yang karena nenek yang sudah tua sudah tidak bisa mendidik, sudah tidak bisa menjaga dan mengawasi sepenuhnya akhirnya anak-anak juga banyak yang kita lihat dari data sebelumnya berdasarkan kasuistik akhirnya menjadi korban persetubuhan, korban trafficking karena kekurangan kasih sayang,” paparnya

Pihaknya pernah melakukan penelitian mengenai hal ini dan ada sekitar 200 keluarga di Cianjur yang memiliki istri sebagai PMI sehingga meninggalkan anaknya. Kebutuhan anak diperhatikan mulai dari gizi hingga pendidikan.

“Kebanyakan dari assessment itu kehidupannya di bawah rata-rata secara ekonomi jauh, lalu kasih sayang dan perhatian kurang. Ada juga anak-anak yang sampai terlantar karena memang pola asuh yang salah dan dititipkan ke nenek yang mengurus diri sendiri juga susah, bagaimana mengurus cucu ini yang menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.

Lanjutnya, masih ada ayah yang peduli terhadap anaknya ketika sang istri menjadi PMI. Namun, ia menyayangkan fungsi keluarga diambil alih oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

“Sementara anak itu memiliki hak-hak dan akhirnya tidak terpenuhi. Hak anak itu harus diberikan hak sipil, hak hidup, harus bermain hak untuk mendapatkan inspirasi, piknik, hak untuk berpendapat. Kita lihat di beberapa tempat untuk anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya menjadi PMI itu tidak dipenuhi haknya,” tutupnya. (kim)