Tembus 10 Juta Penyuntikan Vaksin Covid-19

RADARCIANJUR.com-Jumlah vaksin yang diberikan kepada target sasaran masyarakat Indonesia saat ini telah menembus angka 10 juta pada Jumat (26/3). Dengan jumlah tersebut, kecepatan pemberian vaksin telah mendekati angka 500 ribu penyuntikan dosis vaksin per hari.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kombinasi program vaksinasi dan pembatasan mobilitas warga akan efektif menekan penularan Covid-19. Kesimpulan itu melihat pengalaman yang terjadi di negara-negara Eropa.

”Dari seluruh negara Eropa, ada dua tipe negara yang tidak mengalami lonjakan kasus lagi. Pertama, cakupan vaksinasinya tinggi, bisa 30–40 persen dari total populasi. Kedua, yang mobilitas penduduknya tidak tergolong tinggi,” kata Menkes seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo dan jajaran kabinet terkait di kantor presiden, Jakarta, Jumat (26/3).

Dia lantas mencontohkan laju penularan Covid-19 di Inggris yang mobilitas penduduknya tergolong tinggi, namun tidak mengalami lonjakan signifikan. Hal itu kemungkinan terjadi karena cakupan vaksinasinya juga tinggi. ”Selain itu, pembatasan mobilitas warga yang diterapkan di negara Eropa seperti Spanyol berhasil menahan laju penularan Covid-19,” sebutnya.

Upaya melakukan vaksinasi massal juga sudah berlangsung secara baik di Indonesia. ”Alhamdulillah dan insya Allah vaksinasi telah menembus 10 juta dengan kecepatan harian kita mendekati 500 ribu penyuntikan per hari. Diharapkan di bulan Maret dan April, di mana ketersediaan vaksin 15 juta per bulan kita sudah sesuai kecepatan penyuntikannya,” tambahnya.

Namun, berdasar dinamika terkini, Menkes memberikan catatan mengenai lonjakan kasus di beberapa negara yang memungkinkan terjadinya embargo pengiriman vaksin. Hal itu berpotensi mengganggu jadwal kedatangan dan ketersediaan vaksin di Indonesia selama beberapa bulan ke depan, terutama yang berasal dari negara-negara yang melakukan embargo.

Mengantisipasi hal tersebut, Budi mengatakan bahwa pihaknya perlu berhati-hati dan melakukan manajemen yang baik untuk mengatur laju penyuntikan dosis vaksin agar nanti tidak ada kekosongan stok vaksin di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga mengajak masyarakat untuk membantu mendaftarkan para orang tua dan saudara-saudaranya yang lanjut usia (lansia) untuk mengikuti vaksinasi Covid-19.

Berdasar data yang dimiliki, warga lansia merupakan kelompok rentan dan pasien terbanyak yang membutuhkan perawatan Covid-19 di rumah sakit sehingga pemberian vaksinasi ini diharapkan mampu menekan persebaran virus di kalangan lansia.

”Tolong dibantu semua orang tuanya, kakek-neneknya, mertua, tante, semua yang di atas 60 tahun, tolong segera diajak untuk vaksinasi. Semua kepala daerah dan tenaga kesehatan harap konsentrasi memberikan vaksin ke para lansia,” tutur Budi.

PRIORITAS PERTAMA: Tenaga kesehatan menunjukkan kartu vaksinasi setelah mendapatkan vaksin Covid-19 di Rumah Sakit Umum Andika, Jagakarsa, Jakarta. (FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Memperbanyak Sentra Vaksinasi
Vaksinasi lansia dan petugas pelayanan publik menjadi prioritas penyuntikan tahap kedua setelah sebelumnya vaksinasi terhadap tenaga kesehatan. Lansia termasuk kelompok berisiko tinggi yang apabila tertular virus SARS-CoV-2 akan memperburuk kesehatan mereka.

Masalahnya, pelaksanaan vaksinasi lansia tidak bisa berlangsung cepat karena beberapa faktor seperti kesehatan fisik maupun jarak. ”Memang saya ingin fokus ke lansia. Namun, lansia ini agak sulit juga memvaksinnya. Ada yang ragu-ragu datang. Mereka nggak lebih mobile dari yang lebih muda,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Untuk mengatasi hal tersebut, Budi mengatakan, diperlukan model baru pelaksanaan vaksinasi bagi lansia agar mereka nyaman untuk segera disuntik. Model baru pelaksanaan vaksinasi yang sudah berjalan berupa sentra vaksinasi.

Selain itu, Kemenkes menawarkan anak muda atau relawan untuk mengajak para lansia agar mau divaksin. Sebagai kompensasi, mereka juga akan mendapatkan vaksin bersama lansia yang dibawanya.

”Kita bikin sentra-sentra vaksinasi dan mendorong kerja sama-kerja sama dengan institusi yang bisa akses ke lansia seperti organisasi masyarakat keagamaan,” tuturnya.

Pemerintah pusat maupun daerah bertugas mengoptimalkan vaksinasi bagi lansia. Hal itu bertujuan untuk meminimalkan angka kesakitan dan kematian akibat Covid-19, terutama bagi kelompok lansia.

Hingga saat ini penularan Covid-19 masih terjadi. Pasien terkonfirmasi positif sejak kasus pertama hingga 28 Maret 2021 mencapai 1.496.085 kasus. Pada kasus terkonfirmasi positif terdapat lima provinsi dengan angka tertinggi. Angka kumulatif DKI Jakarta masih yang menduduki posisi tertinggi dengan 379.692 kasus.

Disusul Jawa Barat dengan kumulatif 246.786 kasus, Jawa Timur kumulatif 138.715 kasus, Kalimantan Selatan kumulatif 27.119 kasus, serta Kalimantan Timur kumulatif 63.093 kasus.

TERUS BERTAMBAH: Pada 25 Maret lalu, sebanyak 16 juta bulk vaksin Covid-19, termasuk 1,5 juta untuk overfill dari Sinovac, tiba di Bandara Soekarno-Hatta. (Foto: JawaPos/com)

Datangkan 16 Juta Bulk Vaksin Sinovac
Dalam rangka melaksanakan program vaksinasi untuk mencapai target herd immunity pada 2021, pemerintah terus berupaya menghadirkan vaksin Covid-19 yang aman, bermutu, dan berkhasiat secara bertahap. Salah satunya pada 25 Maret lalu. Sebanyak 16 juta bulk vaksin Covid-19, termasuk 1,5 juta untuk overfill dari Sinovac, tiba di Bandara Soekarno-Hatta.

Selanjutnya, vaksin dalam sembilan envirotainer tersebut langsung dibawa menggunakan tiga truk menuju Bio Farma. Kedatangan bulk vaksin itu merupakan yang keempat sebagai perwujudan dari komitmen PT Bio Farma dalam penyediaan vaksin Covid-19 kepada pemerintah sebanyak 122,5 juta dosis.

”Vaksin Covid-19 tahap ketujuh dari keseluruhan tahap sebesar 16 juta vaksin dalam bentuk bulk. Secara kumulatif berarti kita telah memiliki sekitar 53,3 juta bulk vaksin,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam keterangannya di terminal kargo 530.

Total bulk vaksin yang tersedia saat ini mulai diproduksi Bio Farma pada 13 Januari lalu. Jumlah 53,5 juta bulk vaksin ini diperkirakan bisa menghasilkan sekitar 43 juta dosis vaksin jadi. ”Ini tentu akan menambah ketersediaan vaksin Covid-19 di Indonesia dalam rangka meningkatkan percepatan vaksinasi di Indonesia,” terang Wamenkes.

Selanjutnya, BPOM melakukan evaluasi kepada 16 juta vaksin yang tiba tersebut untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiatnya sebelum diedarkan dan dipergunakan dalam program vaksinasi nasional. ”Terima kasih sebesar-besarnya kepada TNI dan Polri yang telah mendukung sepenuhnya proses mulai pengawalan saat kedatangan vaksin hingga ke pabrik Bio Farma, lalu pendistribusian ke seluruh provinsi di Indonesia,” tuturnya.
Tetap Patuh Protokol Kesehatan

Saat ini di sejumlah negara di Eropa dan Asia kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19. Penyebabnya, ada jenis virus mutasi baru yang juga masuk ke Indonesia sejak awal tahun ini serta mobilitas yang tinggi.

”Terkait lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara, saya ingin sampaikan bahwa meski sudah mengalami percepatan dalam vaksinasi, kita perlu berhati-hati mengatur laju penyuntikan karena adanya potensi embargo dari negara produsen vaksin yang mengalami lonjakan kasus di negaranya. Kita perlu mengatur ritme vaksinasi agar tidak ada kekosongan vaksin nanti,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

Dia menambahkan, lonjakan kasus di negara lain juga mengingatkan untuk senantiasa waspada dengan menahan mobilitas dan mematuhi disiplin protokol kesehatan, apalagi jenis mutasi virus baru Covid-19 sangat cepat menyebar. ”Hindari bepergian, paling tidak sampai pandemi benar-benar terkontrol. Kalau nanti terjadi lonjakan kasus, kasihan tenaga kesehatan kita akan kelelahan,” kata Menkes.

Vaksin Covid-19 saat ini sudah menjadi isu geopolitik. Negara-negara di seluruh dunia saling berebut untuk mendapatkan vaksin. Indonesia beruntung karena sudah menjalin kerja sama dengan empat produsen vaksin, yakni Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer. Karena itu, vaksin yang tersedia adalah vaksin yang terbaik untuk digunakan.

Pemerintah harus mengombinasikan penggunaan berbagai merek vaksin Covid-19 dalam rangka memenuhi kebutuhan vaksin untuk seluruh populasi sasaran. Tidak ada satu pun produsen vaksin di dunia ini yang dapat memenuhi seluruh permintaan negara-negara besar seperti Indonesia.

”Ketersediaan vaksin sangat penting dalam menjaga kelancaran program vaksinasi pemerintah,” sebutnya.

Menkes menyatakan bahwa per Jumat (26/3) Indonesia telah melakukan penyuntikan di atas 10 juta vaksin untuk suntikan pertama dan kedua. Hal itu sekaligus menempatkan Indonesia di posisi empat besar negara yang bukan produsen vaksin, tapi telah melakukan penyuntikan di atas 10 juta.

”Saat ini laju penyuntikan vaksin kita telah mencapai 500 ribu suntikan per hari dan kita sudah tembus 10 juta penyuntikan Jumat lalu. Dengan capaian ini, Indonesia masuk posisi empat besar negara di dunia yang bukan produsen vaksin, tapi tertinggi dalam melakukan penyuntikan. Kita di bawah Jerman, Turki, dan Brasil serta berhasil melampaui Israel dan Prancis. Ini sebuah kabar gembira,” tuturnya.(jpc)