Begini Cikal Bakal Beras Pandanwangi

Beras Pandanwangi

RADARCIANJUR.com – Padi bulu atau dalam bahasa latin yakni japonica memang asing terdengar di kalangan sejumlah masyarakat. Bahkan mungkin nama Padi Harum pun tidak terlalu diketahui banyak khalayak umum. Namun, nama-nama tersebut ternyata awal mula nama Padi Pandanwangi. Sebelum menjadi idaman, konsumen kelas menengah di era tahun 1970-an sudah kerap kali mencicipi beras pulen ini. Pada masa itu, nama Pandawangi sama sekali belum pernah disebutkan namun hanya mengenal beras Jambudipa yang merupakan satu-satunya beras dari desa di Kecamatan Warungkondang.

Hingga pada tahun 1970-an, H Nawawi dari Kampung Cisalak, Desa Mayak Kecamatan Cibeber dan H Damiri dari Kampung Sadamaya, Desa Peteuycondong Kecamatan Cibeber memperkenalkan satu jenis padi bulu kepada Jalaludin warga Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang yang memiliki citarasa seperti beras Jambudipa namun beraroma daun pandan. “Seiring berjalannya waktu, beras yang kini disebut Pandanwangi tersebut dikembangkan dan diikuti oleh petani-petani lainnya,” ungkap Ketua Masyarakat Peduli Padi Pandanwangi Cianjur (MP3C), Usman Suparman.

Pada hari Krida Pertanian Jawa Barat 1980 yang bertempat di Kecamatan Warungkondang, padi berbulu yang beraroma harum tersebut pun diperkenalkan. Sehingga menyita perhatian Gubernur Jawa Barat kesepuluh yakni H Aang Kunaefi dan langsung diberi nama padi Pandanwangi.

Sejak tahun 1981 hingga tahun 2000, perkembangan Padi Pandanwangi mengalami penurunan produksi hingga 30 persen. Berbagai upaya pun dilakukan untuk melestarikan Pandanwangi. Hingga akhirnya, di tahun 2002 PT Kresna Jaya Abadi mencoba mengembangkan Pandanwangi dengan tujuan ekspor melalui pola kerjasama dengan petani. “Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama,” tambah petani Pandanwangi ini.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur akhirnya turun tangan. Melalui Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur melakukan program pelestarian dan pemurnian benih padi Pandanwangi yang bekerjsama dengan Balai Penelitian Padi (Balitpa) dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Padi dan Hortikultura (BPSBTPH) Provinsi Jawa Barat pada tahun 2000-2004. Pandanwangi pun mendapatkan SK dari Menteri Pertanian Republik Indonesia dengan Nomor 163/Kpts/LB.204/3/2004 tertanggal 4 Maret 2004. Sehingga dilepaskanlah Galur Padi Sawah Lokal Pandanwangi Cianjur sebagai varitas lokal dengan nama Pandanwangi.

Tertatih-tatih, Pandanwangi berjuang mempertahankan eksistensi. Namun perkembangan produksi masih tetap menurun. Pasalnya, saat itu mengenai pemasaran belum adanya payung hukum yang menaungi. Perjuanganpun membuahkan hasil. Pada 2012, Pemkab Cianjur mengeluarkan Perda Nomor 19 Tahun 2012 tentang pelestarian dan perlindungan Padi Pandanwangi Cianjur dan Keputusan Bupati Cianjur Nomor 520/Kep.240-Distan/2012 tentang Pewilayahan Komoditas Unggulan Tanaman Pangan dan Hortikultura.(kim)