Beras Pandanwangi Tak Bisa Ditanam Sembarang Tempat

Sawah Beras Pandanwangi. Foto : Hakim Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Padi Pandanwangi merupakan padi khas dari Kabupaten Cianjur yang sudah turun temurun ditanam oleh petani. Namun, ternyata Pandanwangi tidak bisa ditanam di sembarang tempat. Karakteristik dan juga lokasi yang harus strategis menjadi beberapa faktor untuk media dan modal tanam. Dalam Indikasi Geografis (IG), Pandanwangi hanya bisa ditanam di wilayah yang memiliki ketinggian antara 450-800 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Di tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Cianjur memiliki karakter ketinggian yang cocok seperti Warungkondang, Gekbrong, Cugenang, Cianjur, Cilaku, Cibeber dan Campaka. Selain ketinggian, Pandanwangi pun harus ditanam di areal pesawahan dengan suhu udara antara 25-30 derajat celcius.

Bukan hanya memerlukan tempat tanam yang berada di ketinggian tersebut saja. Pandanwangi harus memiliki aliran air irigasi yang baik. Sehingga di tujuh kecamatan tersebut keadaan pesawahan umumnya memiliki tangkapan air yang berasal dari Gunung Gede dan Gunung Kancana. Sehingga air berkecukupan untuk menanam Pandanwangi.

Perbedaan mencolok pun terlihat jelas dari sisi tanaman. Padi pada umumnya hanya berkisar 80-120 centimeter. Sementara Pandanwangi kurang lebih 160 centimeter. Bahkan, jika Pandanwangi murni bisa mencapai dua meter. “Kesuburan tanah dan pupuk yang digunakan berpengaruh terhadap pertumbuhan padi Pandanwangi,” tutur Kepala UPTD Benih Induk Pertanian Kabupaten Cianjur, Ikhwan Munajat.

Pada saat akan melakukan penanaman Pandanwangi, benih terlebih dahulu disortasi dengan larutan garam dapur sekitar empat persen untuk memisahkan gabah yang hampa dan kurang bernas. Jika bernih yang bernas dan baik akan tenggelam, sementara yang hampa atau kurang bagus akan mengapung. Benih pun melewati tahapan selanjutnya yakni dengan direndam ke dalam air selama 24 jam dan diperam selama 48 jam. Setiap 12 jam, dilakukan penyiraman dan pembalikan. Benih yang sudah siap disemai, akan terlihat bakal akar sepanjang 0.5-1 centimeter.

Selain itu, keistimewaan lainnya dari Pandanwangi ini yakni masa panennya yang berbeda dari padi pada umumnya. Masa panen Pandanwangi hingga 150 hari atau kurang lebih lima bulan. “Jika menggunakan pupuk organik akan lebih cepat panen yakni sekitar empat bulan dua puluh hari. Sementara pupuk kimia berlangsung kurang lebih lima bulan,” ungkap Ikhwan.

Sehingga, dalam kurun waktu satu tahun hanya dua kali masa panen. Pemberian pupuk pun berpengaruh terhadap hasil panen. Jika diberikan pupuk organik, rasa dan juga tekstur pun berbeda. Tekstur kulit atau gabah pun lembut dan beras berwarna agak kekuningan. Rasa asli Pandanwangi akan harum hingga dimasak. Sementara penggunaan pupuk kimia, tekstur kulit kasar dan warna beras berwarna putih. Wangi beras pun akan hilang setelah dimasak. Pupuk pun mempengaruhi harga jual, jika bukan murni atau menggunakan pupuk kimia, Pandanwangi hanya berkisar Rp23 ribu per kilogram dan Pandanwangi murni dihargakan Rp37 ribu perkilogram.

Proses panen pun berbeda. Pemotongan Pandanwangi menggunakan alat potong yang disebut ani-ani atau lebih dikenal oleh masyarakat yakni etem. Cara memanen Pandanwangi tersebut sudah dilakukan sejak dulu hingga sekarang dengan memotong tangkai malai yang sudah siap panen, sehingga menghasilkan malai kering panen (MKP).

Pemotongan dilakukan dengan dua cara, yakni memotong tangkai panjang dan tangkai pendek. Memotong tangkai panjang, biasanya petani menyimpan hasil panen Pandanwangi sebagai persediaan makanan di lumbung atau menunggu harga yang baik untuk dijual kepada pedagang maupun pengusaha. Dalam satu ikatan, memiliki berat antara tiga hingga lima kilogram kering panen. Jika dipanen dengan tangkai pendek, malai kering langsung dimasukan ke dalam karung dan dijual langsung kepada pedangan atau pengusaha penggilingan padi.

“Masa tahan Pandanwangi yang disimpan di lumbung atau gudang bisa mencapai hingga tiga bulan. Jika lewat dari masa tersebut, maka aroma khas Pandanwangi akan hilang. Namun jika sudah menjadi beras, Pandanwangi hanya sanggup bertahan hingga satu bulan setengah saja,” paparnya.(kim)