Mengunjungi Kampung Budaya Pandanwangi di Warungkondang

DISIMPAN DI DALAM: Salah satu pengurus Kampung Budaya Pandanwangi, Ace menunjukkan sejumlah alat pertanian tradisional yang ada di dalam museum. FOTO: ABDUL AZIZ N HAKIM/RADAR CIANJUR

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Cianjur jorjoran mengklaim turut melestarikan padi maupun beras Pandanwangi. Pemkab Cianjur mengaku sudah melakukan segudang upaya salah satunya dengan membangun objek wisata bertajuk Kampung Budaya Pandanwangi yang berada di Desa Mekarwangi, Kecamatan Warungkondang. Bagaimana kondisi objek wisata yang dikatakan sejumlah orang ini menarik. Berikut laporannya.

ABDUL AZIZ N HAKIM, Warungkodang, Radar Cianjur

BERDIRI di atas lahan seluas delapan hektar, tertata rapi berbagai jenis bangunan rumah panggung serta area persawahan. Jajaran bangunan itu terlihat mencolok dengan tekstur yang didominasi berwarna coklat. Ya, Kampung Budaya Pandanwangi namanya. Tulisan besar itu terpajang besar dengan warna kuning yang terpaku di kayu pintu masuk. Wisata edukasi yang menjadi ikon Pandanwangi ini merupakan salah satu bukti kebudayaan khas Kota Taucho.

Ketika masuk, pengunjung akan disambut dengan lapang parkir yang relatif luas. Lahan parkir itu ditata sedemikian rupa di atas paving blok hexagonal berwarna abu-abu. Ada juga sejumlah pohon kecil berjarak dua meter berbaris di tengah-tengah lahan parkir. Pohon-pohon itu sengaja ditanam untuk menandakan garis parkir kendaraan ketika pengunjung mendadak membludak datang.

Untuk membantu penerangan, di Kampung Budaya Pandanwangi dipasang tiang-tiang putih lampu bertenaga surya di sejumlah area. Bangunan tradisional berbentuk rumah panggung nampak serasi berdampingan dengan gudang tempat penyimpanan hasil panen beras atau leuit. Bangunan yang ada di sana dibangun dengan bahan dasar kayu sebagai alas atau bagian paling bawah rumah. Selanjutnya, kayu yang dicat cokelat muda itu dipasangi bilik sebagai dindingnya.

Rata-rata jumlah jendela yang ada di bangunan sebanyak dua dengan pintu keluar masuk satu buah yang semuanya terbuat juga dari kayu. Pada bagian atap, terdapat ijuk hitam dan tebal. Jarak antar bangunan di sana tak hanya dipisah jarak saja namun juga ketinggian tanah yang berbeda-beda. Satu bangunan dengan bangunan yang lain pun dipisahkan dengan gundukan tanah. Untuk mempermudah akses antar bangunan, pengelola Kampung Budaya Pandanwangi memberikan fasilitas anak tangga yang didesain tradisional.

Secara rinci, dari delapan hektar luas Kampung Budaya Pandanwangi, dua hektar diantaranya memang dikhususkan untuk bangunan. Sedangkan dua hektar sisanya digunakan sebagai area pertanian Pandanwangi.

Apabila datang dan berdiri di sana, semua serba alami dan nuansa masa dahulu kental terasa. Sebenarnya, objek wisata ini bukan menjadi sesuatu yang baru. Objek wisata yang dibangun sejak awal 2017 tersebut sudah banyak dikenal masyarakat. Pengunjung tidak akan kesulitan menuju lokasi yang berada di Jalan Jambudipa ini.

30 Bangunan khas masyarakat terdahulu nampak berjejer di antara area pesawahan yang ditanami Pandanwangi. Hamparan hijau Pandanwangi berjejer rapi dan tegak dengan ukurang kurang lebih 130 sentimeter berada di sisi maupun belakang rumah panggung. Ternyata tidak seluruh area pesawahan ditanami padi Pandanwangi. Ada beberapa lahan yang terpaksa ditanami tanaman seperti daun bawang dan singkong.

Bukan tanpa alasan, area yang ditanami singkong itu digadang-gadang akan segera dibuat bangunan. Sehingga jika ditanam Pandanwangi saat ini dinilai akan merusak Pandanwangi yang nantinya sudah terlanjur tumbuh.

Tak hanya rumah panggung dan gudang beras saja, di Kampung Budaya Pandanwangi ini juga berdiri aula, tempat ibadah, saung dan museum mengenai Pandanwangi. Semua bangunan ini terlihat apik dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu atau bilik. Sama halnya dengan dinding, bagian langit-langit bangunan dibalut dengan bilik anyaman bambu. Sementara lantainya menggunakan papan kayu yang disusun secara berjejer.

Selain rumah yang penuh suasana khas masyarakat terdahulu, suasana alam yang sejuk dan dikelilingi area pebukitan pesawahan, semakin membawa kenyamanan pengunjung yang datang. Memanjakan dan mengundang rasa betah membuat wisawatan lokal maupun luar ingin berlama-lama. Hanya cukup dengan biaya Rp7 ribu per orang, pengunjung bisa leluasa untuk berkeliling dan berswafoto.

Dari 30 bangunan yang berdiri, ada dua bangunan yang menarik perhatian. Bangunan museum dan aula. Sebelum memasuki area aula yang bersebrangan dengan bangunan museum, pengunjung akan diperlihatkan patung Dewi Sri Rezeki berdiri dengan tinggi kurang lebih dua meter dan memegang padi. Sedangkan di dalam museum terdapat alat-alat tradisional seperti ani-ani, bajak, penumbuk padi dan lainnya yang dapat dilihat pengujung.

Namun, kondisi saat ini, Kampung Budaya Pandanwangi tidak terlalu ramai didatangi pengunjung. Hanya pada hari tertentu saja. Sebelum pandemi, pengunjung berdatangan hingga 30 orang perhari dan di akhir pekan bisa mencapai 50 orang. Berbeda seperti saat ini, hanya beberapa pengunjung yang datang untuk melepas penat dan berswafoto. “Kalau hari biasa itu biasanya bisa sampai 30 orang per harinya, kalau akhir pekan bisa sampai 50 orang lebih. Tapi kondisi pandemi sekarang malahan tidak ada sama sekali. Hanya beberapa saja yang datang,” ujar Pengelola Kampung Budaya Pandanwangi, Sopidin.

Meski indah dan membuat nyaman berada di sana, namun sejumlah fasilitas yang ada dinilai kurang perhatian. Masih ada beberapa bangunan yang kurang terawat akibat debu. Langit-langit yang berada di sejumlah bangunan nampak rapuh akibat lembab pengaruh air hujan. Belum lagi, kondisi pengairan belum maksimal. Masih butuh banyak perbaikan menyeluruh untuk ‘menyempurnakan’ wisata edukasi ini. “Fasilitasnya belum menyeluruh, seperti tempat tidur dan airnya juga belum ada,” paparnya. (**)