Pandanwangi yang tak Mewangi

Beras Pandanwangi

RADARCIANJUR.com – Seiring berjalannya waktu, nama Pandanwangi yang menjadi unggulan di sektor pertanian Jawa Barat khususnya Kabupaten Cianjur semakin tenggelam. Luas lahan dan jumlah petani penggarap padi Pandanwangi terus merosot. Belum lagi, pemasaran dan minat masyarakat untuk membeli beras Pandanwangi yang relatif rendah. Paket kendala itu dilengkapi dengan munculnya ragam produk Pandanwangi gadungan yang gentayangan di sejumlah toko beras di Cianjur.

Hingga hari ini, hanya tersisa 279 petani yang masih setia menggarap lahannya khusus untuk menanam Pandanwangi tanpa polyculture atau metode Tumpang Sari. Jumlah yang terus merosot itu mencapai persentase di angka 1. Dari tujuh kecamatan yang ‘didaulat’ mampu menanam Pandanwangi, Kecamatan Cilakulah yang memiliki jumlah petani Pandanwangi paling banyak yaitu 67 orang. Sedangkan Kecamatan yang memiliki jumlah petani paling buncit yaitu Warungkondang dengan 15 orang.

Cilaku boleh dibilang sukses dibandingkan enam kecamatan lainnya. 67 petani Pandanwangi di Cilaku diberikan keleluasaan di tiga desa dengan menggarap luas lahan jumbo di sana. Sebut saja Desa Ciharashas dengan luas 160 ribu meter persegi, disusul dengan Sukasari 297 ribu meter persegi dan terakhir yang terluas yaitu Sirnagalih 306 ribu meter persegi.

Perlu diketahui, padi Pandanwangi hanya mampu ditanam di tujuh kecamatan yaitu di Kecamatan Warungkondang, Gekbrong, Cibeber, Cianjur, Cugenang, Campaka dan Cilaku. Masing-masing kecamatan itu rata-rata memiliki tiga desa untuk menanam Pandanwangi. Hanya Kecamatan Campaka yang memiliki satu desa yaitu Desa Margaluyu dengan luas 66 ribu meter persegi.

Angka penurunan jumlah petani dan luas lahan itu memiliki jejak buruk catatan setiap satu tahun sekali. “Setiap tahun itu ada trend penurunan jumlah petani dan luas lahan sebesar satu hingga tiga persen. Hal itu terjadi akibat lahan yang terus berkurang dampak dari pembangunan-pembangunan yang terus terjadi,” ungkap ujar Ketua Masyarakat Pelestari Padi Pandanwangi Cianjur (MP3C), Usman Suparman.

Dampak pengurangan lahan tanam Pandanwangi sangat dirasakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Sukawangi Kecamatan Warungkondang. Di Sukawangi saja, kini hanya tersisa 10 petani yang setia menanam padi Pandanwangi. Padahal, nada lantang mereka pun disuarakan kepada pemerintah daerah untuk dapat memerhatikan dan menjaga Pandanwangi di Kabupaten Cianjur.

“Saat ini hanya tiga kelompok tani yang masih menanam Pandanwangi dengan kurang lebih 10 petani yang setia menanam Pandanwangi. Di Desa Sukawangi sendiri memiliki luas lahan pertanian sekitar 250 hektar, namun hanya 15 hektar yang ditanami Pandanwangi,” tutur Ketua Gapoktan Desa Sukawangi Kecamatan Warungkondang, Solehudin.

Solehudin yang turut menjadi petani Pandanwangi inipun tertunduk miris dengan kondisi saat ini. Tak banyak petani yang menanam Pandanwangi. Ia menginginkan penanaman seperti dulu diterapkan kembali dengan menggunakan pupuk organik, sehingga Pandanwangi benar-benar murni dan tidak ada campur tangan zat kimia. Kesuburan tanahpun akan tetap terjaga.

Berkurangnya petani yang menanam Pandanwangi dikarenakan berbagai kendala. Permainan harga dari tengkulak hingga keuntungan yang dirasa kurang oleh para petani menjadi faktor-faktor vital pengurangan jumlah petani. Namun, menurut ayah dari lima orang anak ini, padahal apabila dikaji lebih dalam, Pandanwangi memiliki keuntungan dari segi ekonomis. Memang, kendala masa tanam yang lama membuat petani terlalu lama untuk proses panen.

Artinya, semakin lama masa panen maka akan semakin banyak tenaga dan waktu yang terkuras. Belum lagi, para petani akan diperhadapkan dengan ragam hama yang menyerang. Kendati demikian, demi menjaga kelestarian Pandanwangi, pria berusia 58 tahun ini pun mewajibkan setiap anggota Gapoktan diwajibkan menanam Pandanwangi setengah dari lahan pertaniannya.

Secara teknis, jika satu anggota memiliki lahan dua hektar, satu hektar wajib ditanami oleh Padi Pandanwangi.

“Kendala juga dari serangga yang ada di batang padi. Ingin budaya Pandanwangi diangkat kembali agar tidak sampai hilang yang sudah turun temurun dan tetap ada hingga berkelanjutan untuk generasi selanjutnya. Selain itu, saya berharap program Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali diwajibkan dengan membeli beras Pandanwangi,” paparnya.

Berbagai macam persoalan membuat beras asli Kabupaten Cianjur ini di ambang kepunahan. Sebut saja, minat tanam dari petani serta tidak adanya dukungan dari berbagai pihak. Menurut Pakar Pertanian Fakultas Sains Terapan (Faster) Universitas Suryakancana (Unsur), Ahmad Nur Rizal, Beras Pandanwangi adalah beras lokal jenis aromatik yang didalamnya terdapat kandungan beras tesebut menyimpan rasa harum yang memiliki ciri khasnya tersendiri. “Beras Pandanwangi itu beras yang semakin wangi, semakin wangi kalau di tanamnya menggunakan pupuk organik. Kalau beras pandanwangi wanginya kurang berarti hal tersebut dampak dari penggunaan pupuk kimia,” katanya kepada Radar Cianjur.

Beras Pandanwangi saat ini sulit untuk dibudidayakan seratus persen organik karena beberapa kendala dalam proses penanamannya. “Sangat sulit dikatakan organik, karena walaupun dalam proses penanamannya menggunakan bahan-bahan organik tetapi air di sekitar area sawah tersebut masih banyak mengandung bahan-bahan kimia. Banyak juga kan sawah yang ditanami pandanwangi tetapi sawah disekelilingnya banyak disemprot pestisida dan pupuk-pupuk berbahan dasar kimia,” tambahnya.

Dalam Ketentuan Menteri Pertanian Republik Indonesia bahwa sebuah tanaman yang ditanami menggunakan bahan-bahan organik dapat dikatakan sebagai tanaman sehat. ” Yah, tidak seperti dulu petaninya masih menggunakan pupuk organik tetapi sekarang sedang menuju kesana, berusaha kembali ke zaman dulu,” ucap Wakil Dekan III Faster Unsur ini.

Selain itu menurutnya, lahan pandanwangi hingga saat ini sangat berkurang padahal potensi lahan pertanian yang dapat ditanami beras pandanwangi di Kabupaten Cianjur sangat banyak. Hal tersebut terindikasi karena beberapa faktor. “Padahal potensi penanaman Padi Pandanwangi itu 300 sampai 400 hektare akan tetapi dari keseluruhan yang sekarang ditanami berkisar 50 sampai 100 hektare. Hal tersebut akibat dari gairah petani yang tidak mau ribet dengan penanaman Pandanwangi yang berlangsung lebih lama dari jenis padi lainnya serta pemasaran beras tersebut,” ungkapnya.

Rizal berujar, sudah ada upaya dari Universitas Suryakancana dalam pelestarian beras Pandanwangi dengan mengajak kerjasama Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. “Udah coba juga komunikasi dengan pemkab dan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur akan tetapi tidak ada kesepakatan kerjasama dengan pihak kami,” ujarnya.

Selain itu, upaya dalam pelestarian pandanwangi dengan membangun Wisata Pandanwangi dinilai sangat kurang karena lebih fokus terhadap pengembangan bangunan wisatanya daripada budidaya pandanwangi. “Wisata pandanwangi kan tujuannya sebagai sarana wisata sekaligus lahan untuk ditanami Pandanwangi akan tetapi dari jumlah keselurah lahan dengan luas tujuh hektare tersebut hanya tiga hektare yang ditanami pandanwangi dan itupun tidak semua malah ditanami tanaman singkong,” pungkas Rizal. (cr1/kim)