Pengrajin Tungku Tembikar di Cibeber Tetap Eksis Walau Ditelan Zaman

Kampung Ciluncat RT 03 RW 01 Desa Cibadak Kecamatan Cibeber menjadi kampung sentra pengrajin tungku tembikar, usaha tersebut sudah digeluti masyarakat selama puluhan tahun lamanya. Foto : Bayu Nurmuslim / Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Ditengah pendemi Covid 19 ini tentunya berdampak kepada sektor ekonomi, banyaknya UMKM ataupun perusahaan yang gulung tikar akibat tak mampu bersaing.

Namun di Kampung Ciluncat RT 03 RW 01 Desa Cibadak Kecamatan Cibeber masyarakatnya mampu bertahan di tengah pendemi covid 19 dengan mayoritas bekerja atau memiliki usaha memproduksi tungku dari tanah liat.

Tungku dari jenis tembikar tersebut masih diminati hingga saat ini dan mampu eksis ditengah ketidakpastian pendemi Covid 19 yang belum berakhir.

Ditemui Radar Cianjur, salah satu pengrajin tungku kompor berbahan dasar tanah liat tersebut Hermawan (26) mengaku, memilih pekerjaan sebagai pengrajin tungku karena penghasilan yang menjanjikan.

“Alhamdulillah, pekerjaan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga saya,” katanya kepada Radar Cianjur Sabtu (03/04/2021).

Hermawan menambahkan, dalam sehari dapat menghasilkan 10 sampai 20 tungku berbahan dasar tanah liat tersebut.

“Tergantung cuaca juga sih, kalau panas bisa sampai 20. Tapi kalau musim hujan yah paling 10, soalnya kan ada proses penjemuran juga di bawah sinar matahari, ” tambahnya.

Sementara itu, Basir (67) pemilik usaha tersebut mengatakan, usaha pembuatan tungku tembikar sudah di geluti 17 tahun lamanya dan mampu bertahan walaupun ditelan zaman.

“Rata- rata para pengrajin udah mulai menekuni usaha tungku ini dari tahun 2006. kalau saya dari tahun 2004 sudah bergelut di usaha ini, ” tuturnya.

Menurutnya, Keuntungan yang diperoleh dari bisnis tungku tersebut cukup besar dalam perbulannya sehingga masyarakat sekitar enggan meninggalkan bisnis yang digelutinya selama puluhan tahun tersebut.

“Yah, alhmdulillah saya dan masyarakat yang sama-sama sebagai pengrajin tungku sebulan dapat rata-rata keuntungan 8 juta rupiah atau bisa dapat lebih juga, ” ungkapnya.

Lanjut Basir, dalam pembuatan tungku tersebut menggunakan pasir khusus yang hanya di pasok dari Desa Cikondang, Kecamatan Cibeber agar menjaga kualitas dari tungku tersebut.

“Kalau pakai pasir lain jelek hasilnya. Jadi udah tradisi bahan baku pasir kita ngambil dari daerah Cikondang, ” bebernya.

Selain itu harga tungku per buahnya dipatok cukup murah dan pemasaran produk tersebut sudah mencapai luar kota.

“Harga jualnya sih murah per tungku kita jual 24.000. Alhamdulillah pemasarannya juga sekarang tersebut sudah sampai Jakarta, Tangerang dan lain-lain ” tandasnya. (cr1)