Keluarga jadi Garda Terdepan Cegah Berkembangnya Paham Radikalisme

RADARCIANJUR.com-indonesia dalam sepekan lalu dihebohkan dengan beragam penangkapan dan penyerangan aksi terorisme. Penyerangan terjadi di Gereja Katedral Makassar dan Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta, keduanya melibatkan perempuan yang masih muda.

Mengenai hal itu, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Ratna Susianawati menilai bahwa ketahanan keluarga dan strategi komunikasi yang baik, sangat dibutuhkan sebagai fondasi dan filter dalam pengasuhan anak di keluarga. Kemajuan teknologi dan informasi serta bervariasinya modus-modus kejahatan baru, bisa dimanfaatkan pihak tidak bertanggungjawab untuk menyasar keluarga yang tidak melakukan pengawasan pada anak.

“Oleh karena itu orang tua harus bisa menjalin hubungan baik dengan anak, mengawasi dan mengontrol anak, memberikan edukasi, menerapkan pola komunikasi yang terbuka dan mudah dipahami, menerapkan pola pengasuhan dengan kesiapsiagaan, dan mendeteksi risiko karena banyak perempuan yang tidak tahu apa saja risiko yang akan ia hadapi, mengingat minimnya pengetahuan,” terang Ratna, Senin (5/4).

Untuk menangani persoalan terorisme dan radikalisme di Indonesia, pemerintah tentunya tidak bisa bergerak sendiri. Pentingnya sinergi semua pihak masyarakat sipil untuk bergerak secara masif dan berkelanjutan.

Khususnya dengan melakukan sistem deteksi dini karena persoalan terorisme dan radikalisme ini merupakan tantangan besar bangsa dalam menghasilkan SDM berkualitas.
“Mari kita bersinergi lindungi perempuan dari bahaya terorisme dan radikalisme, demi mewujudkan Generasi Emas Indonesia pada 2045. Jika perempuan berdaya, anak terlindungi, saya yakin Indonesia pun akan maju,” tegas Ratna.

Sementara itu, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Akhmad Nurwakhid menekankan, pentingnya memperkuat civil society dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Khususnya tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam memerangi adanya pemahaman dan ideologi menyimpang yang mengarah pada aksi terorisme dan radikalisme.

“Setiap orang berpotensi memiliki pemahaman radikal, di sinilah pentingnya ajaran dalam bentuk narasi dari para tokoh masyarakat dan tokoh agama yang mengandung budi pekerti, pembangunan karakter, serta nilai-nilai positif, supaya masyarakat kebal terhadap ancaman pemahaman radikal,” ujar Akhmad.

Akhmad menambahkan adanya anggapan perempuan memiliki perasaan yang lebih sensitif, peka, emosi labil, dan memiliki sikap taat pada suami, cenderung membuat mereka lebih mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan teroris laki-laki dalam melakukan aksinya.
Menindaklanjuti persoalan ini, BNPT telah berupaya menanggulanginya.

Di antaranya dengan membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang sudah dibentuk di 32 provinsi untuk melakukan sosialisasi kepada generasi muda, termasuk perempuan, dan anak. Dia menegaskan, aksi radikalisme dan terorisme bukanlah bentuk monopoli satu agama, melainkan ada di setiap agama, kelompok, bahkan berpotensi ada di setiap individu manusia.

“Segala bentuk terorisme yang mengatasnamakan agama, sejatinya adalah manipulator agama dan tidak terkait dengan agama apapun. Ini menjadi musuh kita bersama, kita harus bersatu untuk menanggulanginya,” tutup Akhmad.(jpc)