OJK Harus Audit Sistem IT Perbankan Agar Tak Mudah Dibobol

TAK MAU JADI KORBAN: Puluhan nasabah BRI Cianjur mengantri untuk mengecek dan menarik uang agar tidak menjadi salah satu korban. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com– Dunia perbankan perlu mencermati serius saat terjadinya kasus skimming atau pencurian informasi nasabah yang disalin dari kartu anjungan tunai mandiri (ATM). Bukan hal baru dalam dunia perbankan mengenai kasus tersebut. Baru-baru ini, kasus tersebut menimpa ratusan nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Cianjur. Uang nasabah menghilang secara tiba-tiba dalam waktu singkat.

Terkait kasus tersebut, Pengamat Ekonomi Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Herlan Firmansyah mengatakan, pihak perbankan dalam hal ini BRI harus lebih meningkatkan mitigasi risiko dari para peretas dan error sistem.

“Itu terkait dengan mitigasi risiko dari digitalisasi layanan, BRI mesti lebih meningkatkan mitigasi risiko dari para peretas dan error system,” ujarnya.

BACA JUGA : Uang di ATM Tiba-tiba Hilang, Ratusan Nasabah Geruduk BRI Cianjur

Di sisilain, kegiatan rush money atau penarikan uang secara besar-besaran menurutnya tidak akan terjadi. Hanya saja, akan ada kurangnya kepercayaan mengenai penyimpanan uang di bank.

“Kalau mengurangi kepercayaan menyimpan di bank pasti, hanya presentasinya tidak terlalu besar karena tampaknya BRI gerak cepat melakukan penanganan,” ungkapnya.

Ia pun berpesan agar ini menjadi pelajaran bagi nasabah agar lebih hati-hati dalam menggunakan alat pembayaran nontunai berupa APMK, baik yang berupa ATM, uang elektronik, m-banking, internet-banking dan lainnya. Lanjutnya, jika BRI Cianjur tidak sesuai janji pasti akan menjadi lebih ramai. Namun, dirinya berpikir BRI tidak akan mengambil risiko itu.

“Kita lihat dulu beberapa hari ke depan,” singkatnya.

Sementara itu, Pengamat Informatika Universitas Putra Indonesia (Unpi) Cianjur, Eva Susilawati menilai, terkait kasus tersebut membuktikan bawah sistem informasi perbankan sangat lemah. Selama sistem informasi tidak menggunakan keamanan yang baik, kejadian tersebut akan kembali terulang.

Selain itu, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mengaudit sistem IT perbankan agar tidak mudah dibobol oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Bahkan menurutnya, yang akan merugi adalah nasabah yang akhirnya menurunkan tingkat kepercayaan terhadap perbankan.

“Untuk mengantisipasi agar kejadian seperti itu tidak terjadi lagi pak, maka Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebaiknya mengaudit sistem IT perbankan agar tidak mudah dibobol. Bahkan mungkin bukan sebaiknya, tapi seharusnya memang diaudit karena yang akan dirugikan udah jelas nasabah yang akhirnya tingkat kepercayaan nasabah terhadap bank juga akan menurun dengan terus terjadi hal seperti ini,” paparnya.

Lanjutnya, internal kontrol dari pihak bank pun juga sangat penting untuk mengecek keamanan sistemnya. Karena biasanya hal tersebut terjadi ada kebocoran data yang disebabkan kelalaian pihak internal.

“Sehingga paling tidak bank harus mempekerjakan orang-orang yang jujur dan selalu memberikan pelatihan kepada mereka, karena tiadak menutup kemungkinan ada kecurangan dari pihak internal juga,” terangnya.(kim)