Pengakuan Ustad Dian Mantan Teroris : Kaum Milenial Lebih Mudah Direkrut

BERUBAH: Ustad Diansyah tengah memberikan pembelajaran agama di pondok pesantren yang berada di Desa Bangbayang Kecamatan Gekbrong. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com– Ustad Diansyah (34) alias Ustad Syahid yang berfprofesi sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren yang berada di Desa Bangbayang Kecamatan Gekbrong, kini kehidupannya berubah. Bukan seperti dulu yang menjadi seorang pembaiat mujahid atau calon teroris. Kehidupannya lebih tenang dan tidak ada beban.

Kalimat demi kalimat dirinya tuturkan saat bercerita pertama kali masuk ke dalam jaringan teroris yang saat ini tengah diberantas. Awal mula di tahun 2011. Dirinya melihat Timur Tengah dari media televisi dan internet dengan beragam fenomena seperti revolusi Suriah. Mulai tertarik bagaimana perjuangan mengatas namakan Islam, hingga sampai menemukan kelompok yang kini dikenal ISIS.

“Saya menggali secara mandiri, bahwa kelompok tersebut saya pikir betul-betul menjadi bagian ajaran Islam, artinya mereka betul-betul menyelamatkan kaum muslimin. Tapi ternyata, kelompok ISIS ini bukan ajaran Islam yang mereka pakai tapi hanya simbol-simbol Islam saja yang dipakai sehigga terbius dan terdoktrin. Mengikuti segala arahan ajaran ISIS yang jauh dari ajaran Islam,” tuturnya.

Dirinya termasuk orang yang mandiri yang menemukan informasi mengenai ISIS dan mengunduh dari internet lalu membuat kajian mandiri serta kelompok sendiri yang berbasis di Cianjur. Karena magnet tentang khilafah ini menurutnya sangat luar biasa, terutama daya tarik tentang akhir zaman dengan ayat-ayat atau hadist-hadist sehingga orang tertarik dengan adanya khilafah apalagi masyarakat yang menantikan konsep sistem khilafah.

“Perekrutan meluas bukan hanya di Cianjur saja. Beberapa kota seperti Jakarta, Tangerang, Bogor dan Tasikmalaya,” ungkapnya.

Ayah dari empat orang anak ini bertugas sebagai perekrut dan membaiat anggota-anggota baru yang ingin berafiliasi ke ISIS. Beberapa orang pun tertarik dan mengikuti apa yang menjadi kajiannya selama ini dipelajari.

“Inisiatif sendiri, karena ketika itu dengan keilmuan saya sendiri yang saya miliki hingga hari ini saya sesalkan bahwa itu sebuah kesalahan terbesar dalam hidup saya, maka saya pun berjanji dengan kemauan sangat kuat ingin merubah seseorang yang terindikasi paham-paham seperti itu untuk berubah,” ujarnya.

Memang tidak mudah. Calon anggota kelompok terlarang ini jika tidak memiliki dasar ataupun pemahaman akan memakan waktu cukup lama. Namun, jika memiliki dasar, hanya satu kali pembicaraan maka akan langsung terdoktrin.

“Kalau mereka memiliki dasar, satu kali pertemuan biasanya langsung nyambung. Tapi jika belum, maka harus dua kali pertemuan,” tuturnya.

Lanjutnya, tahapan-tahapan setelah direkrut nanti akan mengikuti kajian-kajian tentang khilafah, tauhid dan syariat Islam. Setelah mengikuti kajian, akan dipersiapkan untuk latihan semi militer dan teknik-teknik militer yang dilakukan di gunung-gunung dan pernah di kepulauan seribu serta tempat lain yang tidak terdeteksi oleh aparat penegak hukum. Setelahnya merencanakan sebuah aksi untuk bertujuan bahwa ini menjalankan perintah kekhilafahan yang ada di Suriah.

Kajian yang berikan atau disampaikan yakni janji Allah SWT dan Rosul itu tidak mungkin salah, maka itu yang kita doktrin melalui surat Annur ayat 55 dan saya sandingkan dengan khilafah ISIS. Mereka pun tertarik. Dibenturkan juga sistem pemerintahan di Indonesia yang tidak menggunakan sistem khilafah atau tidak memberlakukan syariat Islam.

“Melalui metode cocoklogi itu yang saya sampaikan,” singkatnya.

Menurutnya yang paling mudah direkrut yakni sebanyak 70 persen kalangan milenial. Karena ISIS ini lahir atau ada ketika masa internet atau digital sedang berkembang. Kaum milenial banyak menghabiskan waktu kesehariannya di masa tersebut. Berbeda dengan yang sudah lanjut usia, sehingga sulit menguasai teknologi.

“Karena saya sebagai perekrut pun berpengalaman seperti itu, bagi anak muda sangat mudah. Tapi untuk orang tua perlu tahapan-tahapan,” jelasnya.

Dirinya pun bersyukur sudah berubah seratus persen dan terkadang sering merenungi atas kekeliurannya dalam mempelajari keilmuan. Ia pun menyampaikan kepada semua pihak agar tidak salah langkah seperti dirinya dahulu.

“Pertama saya bersyukur kepada Allah SWT yang sudah merubah seseorang dari baik ke buruk dan sebaliknya. Saya sadar, bahwa informasi yang saya terima hanya sepihak atau satu arah. Saya tidak dipaksa oleh siapapun, kajian saya waktu itu banyak kekurangan dan keterbatasan. Saya pun kembali belajar dan mencari informasi penyeimbang, sehingga ternyata apa yang saya waktu itu yakini tidak benar. Karena dulu saya terdoktrin dengan media, maka saya pun bertahap mengikuti media-media bertolak belakang dengan informasi ISIS,” papar mantan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ini.

Baginya, tindakan di Makassar dan Mabes Polri tidak dibenarkan, karena tidak ada satu dalil maupun hadist untuk tidakan jihad seperti itu. Karena tidak jelas apa yang dilakukan. Sehingga setelah adanya peristiwa-peristiwa tersebut malah menjadikan panik, cemas dan khawatir kaum muslimin di Indonesia. Mari perbaiki dan kita koreksi bahwa tindakan-tindakan tersebut tidak dibenarkan dalam agama.

“Saya berpesan yang pertama mencari guru dan ilmu yang benar, nyambung dengan keilmuannya. Harus berbagai sumber,” tutupnya. (kim)