OJK Serius Awasi BRI Cianjur

TAK MAU JADI KORBAN: Puluhan nasabah BRI Cianjur mengantri untuk mengecek dan menarik uang agar tidak menjadi salah satu korban. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Kasus raibnya saldo rekening nasabah di Bank BRI Cianjur tak luput dari pengamatan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat. Seiring berjalannya hari, OJK nyatanya sudah melakukan langkah terstruktur guna mendapatkan solusi dan mencari titik terang dari peliknya masalah perbankan yang tengah ramai di Kota Tauco ini.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo mengatakan, untuk menyikapi peliknya peristiwa ini, ia mengimbau agar setiap nasabah yang bersangkutan atau yang merasa dirugikan akibat hilangnya sejumlah nominal uang di dalam rekeningnya maka wajib melaporkan peristiwa kerugian ini. “Yang pertama itu, nasabah harus buat dulu pengaduan. Itu langkah yang pertama,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Anto pun menilai, belum bisa memberikan kesimpulan pasti terkait kasus ini. Pasalnya, OJK harus melakukan investigasi terlebih dahulu. Namun, apabila BRI terbukti melakukan kesalahan, maka proses yang akan berjalan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. “Kami melihat case by case dari kasus ini. Kalau itu kesalahan bank tentu BRI perlu mengganti,” tuturnya.

Kejahatan skimming atau pencurian informasi dengan cara menyalin, masih asing di kalangan masyarakat. Namun, kondisi ini tengah ramai di Kabupaten Cianjur dengan menimpa sejumlah masyarakat yang merupakan nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Cianjur. Dari prakteknya, kejahatan ini bukan dilakukan oleh orang biasa. Namun pelakunya memang sudah ahli dalam bidang teknologi.

Dari segi kriminolog, kejahatan tersebut masuk dalam kategori nonkonvensional. Kejahatan yang jarang terjadi di lingkungan masyarakat ini dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian khusus dan menyasar korban dengan tanpa batas.

Kriminolog Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Kuswandi mengatakan, selama pelaku memiliki kesempatan, pelaku akan terus melakukan tanpa batasan korban yang diincar. “Jika memang ini skimming, maka perlu dilihat dari prakteknya paling tidak tersangkanya mengenal mengenai teknologi. Kejahatan yang menggunakan alat teknologi canggih dan masuk dalam UU ITE,” ujarnya.

Lanjutnya, proteksi bank meskipun sudah sangat maksimal, tapi celah kejahatan selalu ada. Sehingga perlu ditempuh dengan meningkatkan keamanan agar kejahatan bisa berhasil ditangani dan diminimalisir. Hal tersebut pun menjadi pertaruhan kredibilitas. Namun, semua harus menanti hasil dari penyelidikan agar bisa menentukan apakah ada unsur kelalaian dari pihak BRI atau tidak. Jika ada, maka pihak bank harus mempertanggungjawabkan. “Adapun kejadian seperti ini kegiatan yang sangat luar biasa. Semua hasil dari penyelidikan, apakah ini ada unsur kelalaian dari pihak bank atau tidak? Jika salah satunya terjadi, harus dapat dipertanggungjawabkan. Penelusuran dari APH (Aparat Penegak Hukum) akan menguatkan, apakah faktor kelemahan dari perbankan atau tidak?,” paparnya.

Pihak nasabah bank bisa membawa kasus tersebut ke ranah hukum, bisa juga melalui instrumen pidana atau perdata. Dengan kata lain, proses tersebut akan menemui titik terang mengenai pembuktian dan kejelasan titik lemah dari perbankan sehingga peristiwa ini sampai terjadi.

Selain itu, penarikan uang besar-besaran (rush money) pun bisa terjadi jika kepercayaan masyarakat tidak direspon. Semua kembali kepada kepercayaan masyarakat. Pasalnya, yang terlihat saat ini, di beberapa ATM BRI, masyarakat terlihat berbondong-bondong untuk mengamankan uang atau berupaya mengubah PIN rahasia. “Bisa bertahan atau tidak itu tergantung kepercayaan, jika itu sampai terjadi penarikan secara besar-besaran, bank akan kekurangan liquiditas. Jika sudah kekurangan liquiditas, ini akan menjadi permasalahan, ini harus dijaga betul,” terangnya.

Dirinya menambahkan, yang berpengaruh adalah psikologis masyarakat, ada kekhawatiran besar. Yang paling penting pelayanan kepada masyarakat dengan memberikan informasi yang jelas, sehingga secara psikologis masyarakat tenang dan tidak lagi khawatir sehingga keinginan untuk menarik uang tidak ada atau diurungkan. (kim)