Fatwa MUI Pusat Tentang Aturan Sholat Berjamaah, Ini Penjelasan MUI Cianjur

Foto : Jawapos

RADARCIANJUR.com – Bulan suci Ramadan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh penjuru nusantara. Ramadan menjadi bulan yang dianggap masyarakat yang memeluk agama Islam sebagai bulan yang penuh keberkahan karena berbagai macam pahala besar yang didapatkan dalam melaksanakan setiap berbagai macam amalan ibadah.

Sholat umumnya kerap dilakukan bersama-sama di masjid menjadi ibadah yang wajib dilaksanakan disetiap masjid di manapun.

Namun pelaksanaan sholat berjamaah bulan ramadan tahun ini terkendala adanya wabah Covid 19 melanda Indonesia sehingga di berbagai daerah mempunyai cara tersendiri dalam melaksanakannya sesuai dengan zona daerah tersebut.

Begitu pun dengan Kabupaten Cianjur dengan mayoritas DKM masjidnya mengadakan sholat berjamaah di setiap daerahnya.

Ketua MUI Kabupaten Cianjur, KH.Abdul Rouf menjelaskan, telah adanya fatwa dari MUI Pusat tentang adanya himbauan tentang sholat berjamaah di masa pendemi Covid 19.

“Memang sudah ada fatwa dari MUI Pusat, dalam pelaksanaan shalat berjamaah harus menggunakan masker, cuci tangan serta saf nya di berlakukan jarak,” katanya kepada Radar Cianjur melalui sambungan telpon, Rabu (14/04/2021).

Menurut KH Abdul Rouf dalam pelaksanaan fatwa tersebut pelaksanaannya disesuaikan dengan zona masing-masing tiap daerah.

“Fatwa kan berupa himbauan atau aturan, didalam fatwa tersebut disesuaikan dengan daerahnya. Apa itu daerah nya termasuk zona merah, hijau, orange dan lain-lain,” terangnya.

Namun menurutnya, MUI Kabupaten Cianjur hanya dapat menghimbau tentang pelaksanaan sesuai Fatwa MUI Pusat, karena Kabupaten Cianjur tidak termasuk zona merah.

“Pihak kami hanya dapat menghimbau saja, kembali lagi kepada masyarakat mau atau tidaknya mengikuti fatwa MUI tersebut. Selain itu Kabupaten Cianjur bukan termasuk zona merah penyebaran Covid 19,”terangnya.

Abdul Rouf berpendapat, Fatwa yang dikeluarkan MUI tentang sholat berjamaah adalah salah satu bentuk Ikhtiar agar memutus rantai penyebaran Covid 19.

“MUI mengeluarkan fatwa seperti itu dalam hukum Islam di sebut ikhtiar yaitu usaha. Usaha dalam mencegah penularan wabah penyakit dan itu termasuk melaksanakan anjuran agama Islam,”tandasnya.

Pemerintah membolehkan masjid melaksanakan salat berjemaah selama Ramadan 1442 H, dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan.

Menurut Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh, sesuai fatwa yang dikeluarkan pada 12 April 2021, pelaksanaan ibadah selama Ramadan, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah harus menerapkan protokol kesehatan.

“Jadi semuanya harus menggunakan protkes dan itu tidak mengurangi sahnya salat,” kata Asrorun dalam fatwa MUI nomor 24 tahun 2021 tentang panduan penyelenggaraan ibadah Bulan Ramadan dan Syawal 1442 H

Adapun ketentuan saat salat berjemaah adalah:

1. Penerapan physical distancing (menjaga jarak) saat salat jemaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, salatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjemaah karena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah.

2. Menggunakan masker yang menutup mulut dan hidung saat salat hukumnya boleh dan salatnya sah.

“Setiap muslim wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang bisa menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, umat Islam selama Ramadan harus makin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, tadarus Al-Qur’an, menyelenggarakan dan menghadiri majlis taklim dan pengajian, taubat, istighfar, zikir, membaca Qunut Nazilah, memperbanyak salawat, sedekah.

“Juga senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya khususnya dari wabah Covid-19,” pungkasnya. (net/cr1)