Ada Kampung Kolang Kaling di Cianjur

DIOLAH: Buah dari pohon aren tengah disiapkan untuk dimasukan kedalam tong berisikan air panas yang direbus selama kurang lebih dua jam. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com- Bulan suci Ramadan tak lepas dari berbagai menu takjil yang selalu mudah didapatkan di tempat-tempat makanan yang berada di pinggiran jalan di Kabupaten Cianjur. Dari sekian banyak makanan untuk berbuka puasa tersebut, tentu masyarakat sudah tak asing dengan kolang-kaling. Ternyata, di Kabupaten Cianjur terdapat satu kampung yang mengolah buah dari pohon aren menjadi kolang kaling yang biasa dikonsumsi untuk manisan maupun santapan untuk berbuka puasa.

Kampung kolang kaling terletak di Kampung Kedung Hilir Rt4 Rw3 Desa Cangklek Kecamatan Cugenang. Setiap tahunnya, terlebih di bulan Ramadan, hampir seluruh masyarakat sekitar mengolah buah dari pohon aren menjadi kolang kaling. Bahkan, tak sedikit masyarakat yang rela membeli buah dari pohon aren ke wilayah seperti Cianjur Selatan. Pasalnya, tak banyak masyarakat sekitar yang memiliki kebun pohon aren, sehingga beberapa diantaranya harus membeli ke luar kampung.

Makmur (65) salah satu pengolah kolang kaling yang sudah sepuluh tahun menekuni aktifitas turun temurun tersebut mengaku, dirinya memesan buah dari pohon aren dari salah satu kecamatan di Cianjur Selatan. Dengan harga Rp1,5 juta, dirinya membeli buah dari lima pohon aren.

“Modalnya sekitar Rp1,5 jutaan, kalau dari pohon sendiri jarang. Karena panennya enggak barengan. Kadang juga enggak panen, makanya saya beli dari selatan aja,” ujarnya.

Namun, dari sekian banyak yang diolah menjadi kolang kaling, hasilnya tidak sebanyak yang diperkirakan. Pasalnya, selalu ada saja buah yang kurang bagus untuk dijual. Menurutnya, kolang kaling yang memiliki kualitas bagus yakni berwarna putih susu.

“Dari sekian pohon, paling yang bisa kejual setengah ton. Karena enggak semua kualitasnya bagus,” paparnya.

Selain itu, keuntungan yang didapat pun tidak seberapa. Dalam satu hari produksi dan penjualan, dirinya hanya mendapatkan untung Rp350 ribu dan belum dipotong untuk upah tiga orang pekerja yang masing-masing menerima Rp100 ribu. Sehingga dirinya hanya menerima Rp50 ribu saja.

Kendala lainnya yakni penjualan yang tidak menentu, sehingga dirinya harus bersabar untuk mendapatkan untung dari penjualan kolang kaling. Tapi, jika menjelang Hari Raya Idulfitri, penjualan kolang kaling akan meninggkat drastis.

“Ramenya itu menjelang lebaran, itu banyak tuh yang nyari dari Bogor, Cianjur, Cipanas dan Sukabumi,” terangnya.

Dirinya pun berharap, pemerintah bisa membantu dalam permodalan usaha pengolahan kolang kaling yang sudah turun temurun digeluti masyarakat Kampung Kedung Hilir tersebut. Sehingga tidak hanya menjadi cerita semata mengenai adanya Kampung Kolang Kaling. (kim)