Menko PMK: Puasa Tidak Hanya Siang, tapi Juga Malam

RADARCIANJUR.com-Ramadan merupakan bulan penuh hikmah dan memiliki banyak keberkahan. Pada bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebagai wujud kepatuhan dan ketakwaan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, puasa Ramadan bukan hanya dilakukan pada siang hari, melainkan termasuk malam hari. Artinya, upaya menahan diri harus tetap dilakukan selama sebulan penuh Ramadan.

“Puasa kita itu adalah puasa 1 bulan Ramadan. Bukan puasanya itu hanya siang hari saat tidak makan tidak minum. Malam juga puasa, hanya saja ada keringanan, yaitu boleh makan dan boleh berhubungan suami istri. Jadi jangan berpikiran, puasanya kan siang, kalau malam ya bebas kita boleh ke diskotek, boleh macam-macam (yang negatif), yang penting puasanya tidak makan minum, jadi tidak batal. Inilah makna yang keliru dari ibadah puasa,” tutur Muhadjir dalam keterangannya, Jumat (16/4).

Muhadjir lalu menjelaskan keringanan puasa. Barang siapa yang bepergian ataupun sakit, maka orang itu dapat membatalkan puasa dan mengganti dengan hari yang lain.

Apalagi, jika kondisi bepergian dan sakit itu dapat mengancam keselamatan orang tersebut maka puasanya dapat dibatalkan. Sesungguhnya, ungkap Muhadjir, Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran.

“Kalau dia bepergian dan dia sakit tapi nekat berpuasa, hukumnya adalah haram. Saat pandemi seperti sekarang yang dapat mengancam kehidupan berbangsa, kita dapat meninggalkan (puasa), berupaya mencegah, membendung ancaman bahaya yang sedang melanda bangsa Indonesia,” tegas dia.

Lebih lanjut, dijelaskan Muhadjir menurut kaidah fikih Islam, mencegah terjadinya kerusakan dan kehancuran lebih diutamakan daripada mencari manfaat atau mencari faedah yang belum tentu bisa didapat. “Itulah kenapa misalnya mudik ditiadakan, salat tarawih dibatasi,” ujar dia.

Seperti pernah dijelaskan, mudik berpotensi menyebarkan Covid-19 ke ayah, ibu, sanak saudara di kampung halaman. Oleh karenanya, pemerintah kembali melarang mudik lebaran tahun ini mulai tanggal 6 sampai 17 Mei.(jpc)