Tahun Pandemi, Tradisi Berburu Tanda Tangan Imam Tarawih Pupus

Para siswa sekolah saat berburu tanda tangan imam tarawih. (Foto: Dokumentasi)

RADARCIANJUR.com – Tradisi berburu tanda tangan imam tarawih dan kuliah subuh dalam satu buku khusus bulan Ramadan yang diberikan sekolah, beberapa tahun kini telah pupus.

Pandemi Covid-19 sejak 2019 silam ternyata masih berdampak terhadap dunia pendidikan, termasuk saat Ramadan kini.

Padahal, salah satu kisah yang paling berkesan saat duduk di bangku sekolah ketika memasuki bulan Ramadan adalah mengisi buku kegiatan Ramadan.

Buku tersebut adalah buku pegangan yang wajib dibawa dalam setiap kegiatan keagamaan di bulan Ramadan. Pasalnya, di dalam buku tersebut berisi kolom-kolom yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di bulan Ramadan. Seperti puasa, tarawih, tadarus, kuliah subuh, sholat wajib, dan lain-lain.

Menariknya, di setiap kegiatan tersebut harus ditandatangani oleh orangtua, murid tersebut, serta imam tarawih atau Ustadz yang memberikan ceramah atau kultum.

Hal itu jelas wajib diisi sebagai bukti bahwa para pelajar tersebut memang betul-betul melaksanakan kegiatan selama bulan Ramadhan.

Faiz (11) Siswa Kelas VI SD di wilayah Ciherang, kecamatan Pacet mengaku cukup sedih saat musim Covid-19 tahun kemarin hingga kini tak ada lagi pengerjaan buku kegiatan Ramadan.

“Kalau tahun lalu rasanya seru aja masuk bulan puasa teh, gak terlalu jenuh, ada kegiatan untuk mengisi buku Ramadan. Sekarang mah udah beberapa tahun kini gak dikasih buku Ramadan lagi di sekolah,” ujarnya sambil senyum-senyum.

Biasanya, kata Faiz, di waktu menjelang tarawih selesai hingga salam dalam rakaat terakhir sholat, teman-teman yang lain pun yang sama-sama berburu tanda tangan, langsung menghamburan dan berlari ke arah imam tarawih untuk mendapatkan posisi antrian pertama tanda tangan sang imam.

“Saya baru bisa tersenyum lega saat pulang tarawih dengan menenteng buku kegiatan ramadan yang sudah ditandatangani oleh imam tarawih,” ungkapnya.

Ia mengaku, ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri ketika setiap kolom kegiatan ramadan dapat terisi dengan penuh.

Biasanya, setelah tamat puasa dan menjelang masuk sekolah, teman-teman lain saling menunjukkan buku kegiatan Ramadan masing-masing dan bercerita tentang suka duka selama mengisi buku tersebut.

“Memang biasanya selalu ada kisah dan cerita menarik masing-masing. Contohnya saja ada imam tarawih yang galak, ada yang kelupaan menandatangankan buku, ada yang curang ditandatangani sendiri, ada juga yang semua kolom terisi penuh,” kata dia.

Sementara itu, Imam dan sekaligus Khotib saat Kultum Subuh, Ustadz Ahmad Saepulloh mengatakan, anak-anak sungguh begitu antusias dengan adanya tugas buku Ramadan itu.

Namun, kini sangat berbeda. Pasalnya imbas pandemi, kebiasaan pelaksanaan Ramadan sekolah pun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dulu di setiap setelah tarawih itu buku kegiatan Ramadan banyak berjajar yang harus saya tandatangani. Kalau sekarang mah emang gak ada,” ujar Ahmad.

Dirinya hanya berharap, pandemi Covid 19 bisa segera berlalu, dan sama-sama menatap hidup lebih baik lagi. Tradisi positif bagi para pelajar pun mudah-mudahan bisa kembali lagi seperti sediakala.

“Jadi sukanya itu, meskipun dengan melaksanakan shalat tarawih itu kita cukup menguras tenaga, tetapi ketika adanya para pelajar mensodorkan buku Ramadan, saya jadi teringat dan kembali bergairah dalam beribadah. Karena dulu juga mengalami hal seperti itu,” tandasnya. (dan)