Ramadan Berkah, Tukang Jahit Permak di Cipanas Ordernya Melimpah

Tukang permak yang berada di pasar Cipanas. (Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – Meski di masa pandemi Covid-19, order permak pakaian di bulan suci Ramadhan saat ini masih diburu warga.

Berkah tersebut rupanya didapat karena masyarakat masih banyak yang membeli pakaian, termasuk mengandalkan jasa jahit permak yang ada.

Salah satunya yang kebanjiran rezeki didapat oleh penjahit permak di wilayah pasar Cipanas.

Tak habisnya, hampir setiap hari rata-rata penjaja jahit permak tersebut kebanjiran order. Mereka panen pemasukan dari jasanya merubah pakaian, mulai dari celana, baju, jaket, gamis, baju Koko, dan sebagainya.

Salah satunya dirasakan Oni (54). Pelaku jasa jahit permak yang sudah cukup lama bergelut menjajakan mesin jahitnya di salah satu sudut ruangan di Pasar Cipanas. Mang Oni begitu ia disapa mengaku, hampir di setiap datang bulan Ramadan dirinya kebanjiran order.

“Alhamdulillah memang dengan adanya bulan suci Ramadhan ini saya dan teman-teman yang lain setiap harinya hampir susah untuk istirahat, alias banyak sekali order jahit permak yang menggunakan jasa kami,” kata Mang Oni, saat ditemui disela-sela kesibukannya, Rabu (21/4).

Saking banyaknya order, menurut Mang Oni, aktivitas para penjahit permak disini (Pasar Cipanas, red) yang berderet itu seperti “kompetisi jahit”.

Teman-teman seprofesinya, sama-sama menginjak pedal mesin jahitnya untuk permak pakaian para pelanggan yang sudah mulai berdatangan sejak pagi hingga sore.

“Kalau Ramadan ini, para pelanggan sudah datang dari pagi. Bahkan sebelum saya buka pun pelanggan sudah ada yang nunggu,” ungkapnya.

Ia juga mengaku, upah memperbaiki celana atau pakaian pelanggannya cukup bervariasi, tergantung tingkat kesulitannya.

“Untuk memotong celana tarifnya hanya Rp 5 ribu per potong. Sedangkan untuk permak pakaian, upah jasanya mulai Rp10 ribu hingga Rp 30 ribu,” kata dia.

Para penjahit dan penyedia jasa permak pakaian lainpun mengaku, meskipun masih di pandemi Covid 19, mulai awal Ramadan kemarin, omzet dari jasa ini sudah mulai ada kenaikan. Meski kewalahan, para pejahit tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para konsumen.

“Orang sini hampir semua dari warga Cipanas. Walaupun berdekatan, tetapi kami rukun semua. Dulu kan mantan orang garmen. Jadi, jika satu kewalahan, ya digarap saja,” ucap Oni.

Sementara itu, Siti (30) warga Pacet, yang sekaligus langganan jasa jahit permak Mang Oni mengaku, dirinya selalu setia tiap pakaian keluarganya akan dipermak, pasti dirinya pergi ke Mang Oni. Karena menurutnya, ia sudah berlangganan cukup lama.

“Celana dari toko itu tidak semua bisa pas ke suami. Makanya kadangkala saya sering permak pakaian itu. Makanya saya hampir sering ke Mang Oni,” kata Siti.

Ia mengatakan, bahwa menjahit di jasa permak lebih cepat dan praktis. Tidak perlu menunggu hingga berhari-hari seperti di penjahit rumahan.

“Kadangkala mendekati lebaran penjahit rumahan pasti sangat padat order. Ya, hanya potong celana saja bisa seminggu, baru bisa diambil lagi. Itu juga yang jadi alasan saya berangkat ke mang Oni, ungkapnya.

Sekarang, penjahit dan penyedia jasa permak pakaian di kawasan Cipanas sudah mulai kewalahan menerima order jahitan busana Lebaran.

Umumnya konsumen datang untuk mengecilkan celana atau busana yang akan digunakan saat lebaran nanti. (dan)