Nama KH Hasyim Asyari Hilang di Kamus Sejarah, Ini Kata Ketua PCNU Cianjur

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Cianjur, KH Choirul Anam

RADARCIANJUR.com – Sejumlah masyarakat mengecam dengan dihapusnya salah satu tokoh nasional atau pahlawan dalam buku sejarah yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yakni KH Hasyim Asyari yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, dalam isi buku sejarah tersebut malah terdapat tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti DN Aidit.

Sontak beberapa pihak menyayangkan akan hal tersebut bisa terjadi. Padahal, sejarah kelam bangsa Indonesia terjadi di saat era PKI. Sehingga semua pihak meminta agar secepatnya dikaji ulang.

Ketua PCNU Kabupaten Cianjur KH M Choirul Anam mengatakan, dengan dihilangkannya tokoh NU dalam buku sejarah membuat sejumlah jajaran PBNU meradang dan mulai bereaksi. Baginya, kontribusi Syech KH Hasyim Asyari sangat besar bagi bangsa Indonesia.

“Kontribusi Syech KH Hasyim Ashari terhadap bangsa Indonesia diakui dunia. Selain bentuk fisik, karya kitab dari KH Hasyim Ashari diakui oleh ulama dunia, dengan dihilangkan ini dengan tujuan atau motivasinya apa?,” ujarnya.

Dirinya pun sangat menyayangkan dengan dihilangkannya tokoh besar NU tersebut. Pihaknya meminta agar ada kehati-hatian dalam setiap yang dilakukan terlebih mengenai sejarah bangsa Indonesia. Sehingga hal tersebut sangat sensitif.

“Harus ada kehati-hatian, sejarah adalah fakta, sejarah bukan opini dan bukan legenda,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi VII, Eddy Soeparno menjelaskan, dihilangkannya tokoh nasional dari buku sejarah merupakan hal yang sangat merugikan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Sehingga secara tidak langsung, generasi penerus bangsa tidak mengetahui perjuangan pahlawan dalam kemerdekaan yang salah satunya oleh tokoh Islam.

“Sudah ada TAP MPRS Nomor 25-1966 yakni melarang segala bentuk komunisme, tidak ada yang tokoh yang merangkap sebagai pahlawan di PKI.
Patut dikaji ulang secara cepat. Harus diwaspadai dan dikritisi,” tegasnya. (kim)