Pelaku Kejahatan Medsos Musibah Nanggala 402, Perlu Diperiksa Kejiwaannya

ARMADA PEMUKUL: Kapal Selam KRI Nanggala-403 saat latihan pratugas pengamanan perbatasan di perairan Pulau Karimunjawa pada 20 Januari 2017. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

RADARCIANJUR.com- Pasca tenggelamnya KRI Nanggala 402, banyak masyarakat yang berempati juga bersimpati atas gugurnya 53 prajurit TNI AL yang tengah melaksanakan tugas di laut Bali. Namun, ternyata tak sedikit musibah tersebut malah dijadikan lelucon oleh sejumlah orang. Tentu hal tersebut membuat geram masyarakat Indonesia. Tak sedikit warga dunia maya mengecam tindakan yang dapat melukai hati keluarga korban.

Kejadian tersebut tidak dilakukan oleh satu orang saja, ternyata aksi tersebut terjadi secara beruntun. Tak sedikit akun-akun media sosial bermunculan menjadikan musibah tersebut sebagai objek untuk konten.

Psikologi, Retno Lelyani Dewi mengatakan, secara prilaku dapat dianalisa. Para pelaku melakukan hal tersebut bisa dikarenakan memang kurang dalam berempati dan sulit merasakan kesedihan keluarga, kesatuan dan orang-orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

“Ada indikasi bahwa memang sulit merasakan kesedihan dari sebuah kehilangan, sehingga rasa empatinya kurang,” ujarnya.

Lanjutnya, bahkan, bagi pelaku yang masih berusia remaja, pelaku tidak memiliki ikatan emosional dengan kehilangan anggota keluarga. Selain itu, tindakan pelaku yang dengan mudahnya di media sosial dikarenakan ingin terkenal melalui viralnya tindakan yang dilakukan.

Fenomena yang terjadi ini sangat menyita perhatian serius. Dirinya pun menyarankan agar para pelaku diperiksa mengenai kejiwaan yang ada dalam dirinya, pasalnya tanpa berpikir panjang dengan mudahnya membuat sebuah konten dari musibah yang terjadi.

“Harus diperiksa kejiwaan mereka untuk memastikan apa sebenarnya yang ada di dalam pemikiran mereka ini,” jelasnya.

Sementara itu, Pengamat IT Universitas Putra Indonesia (Unpi) Cianjur, Astri D Andriani mengungkapkan, rata-rata dari para pelaku tersebut merupakan generasi milenial yang memang kental dengan teknologi digital. Sehingga, tak heran generasi milenial diidentikan dengan generasi digital.

“Sebelumnya saya menyampaikan duka sedalam-dalamnya terkait tenggelamnya KRI Nanggala 402 khususnya bagi 53 kru kapal yang meninggal dunia. Mengenai kasus yang ramai di media sosial, Generasi digital ini memiliki ciri-ciri yang dapat ditelaah dari aspek identitas, privasi, kebebasan berekspresi dan proses belajar. Selain itu, ada tiga ciri yakni dirangkum dalam 3C, yaitu connected, creative dan confidence,” paparnya.

Lanjutnya, connected berarti generasi ini merupakan pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang diikuti. Generasi ini juga aktif berselancar di media sosial dan internet. Generasi milenial sangat fasih menggunakan facebook, Twitter, Path dan Instagram maupun media sosial lainnya. Creative berarti generasi ini terdiri dari orang-orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengkomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang. Generasi milenial termasuk generasi kreatif, salah satu bukti yang menunjukkan adalah tumbuhnya industri startup dan industri kreatif lain yang dimotori anak muda.

Yang terakhir, confidence berarti bahwa anak generasi ini merupakan kumpulan orang-orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan berdebat di depan publik. Karakter tersebut terkonfirmasi jika kita melihat generasi milenial tidak sungkan berdebat melalui media sosial.

“Nah karakter yg khas generasi milenial tersebut yg menurut saya memotivasi (mendorong, red) netizen membuat konten bernada candaan terkait KRI Nanggala 402 di tengah suasana berduka. Konten tersebut tidak sama sekali mencerminkan simpati dan empati yangkhas dipegang masyarakat Indonesia. Makanya netizen lain pun geram,” jelasnya.

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi ini menambahkan, selain karakter, pelaku melakukan hal tersebut bisa dikarekan tingkat literasi media digital yang rendah. Sehingga tidak mengetahui dampak apa yang akan diterima dari postingan di media sosial tersebut.

Bahkan, sambungnya, John Naisbitt (2004) berpendapat bahwa ketergantungan generasi milenial terhadap internet menimbulkan kondisi yang disebut sebagai Zona Mabuk Teknologi. Sebutan ini merupakan istilah yang digunakan dalam menggambarkan kondisi masyarakat saat ini, dimana teknologi menghantam dengan bertubi-tubi, tapi masyarakat Indonesia belum siap membentengi diri dengan literasi.

“Harus ada (pengawasan khusus, red). Sudah banyak sebetulnya yang dilakukan pemerintah, khususnya oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemeninfo) Republik Indonesia. Untuk upaya pencegahan, harus dilakukan gerakan nasional literasi digital,” terangnya.

Dalam gerakan tersebut, berkumpul non goverment organization (NGO), volunteer dan pegiat literasi media digital untuk menyebarkan literasi media digital di kalangan masyarakat Indonesia. Dirinya pun berpendapat, yang mendasari netizen melakukan hal tersebut karena ingin mengaktualisasikan diri, namun tingkat literasi digital rendah, sehingga kurang bijak dalam berselancar di media sosial dengan melakukan postingan-postingan yang sangat merugikan banyak pihak. (kim)