Produsen Didorong Gunakan Kemasan yang Bisa Didaur Ulang

RADARCIANJUR.com-Menangani sampah memang bukan persoalan yang sederhana di Indonesia. Bertambahnya masyarakat dengan pola pikir diet plastik pun belum berdampak signifikan.

Nyatanya malah jumlah timbunan sampah yang ada masih sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) jumlahnya sekitar 67,8 juta ton.

Hal ini tentunya masih akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup dengan kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat. Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) pun terus melakukan upaya edukasi di berbagai kegiatan, seperti webinar terkait bijak mengelola sampah di tengah masyarakat.

“Kondisi-kondisi seperti ini yang perlu kita kelola dengan baik, yang direfleksikan dalam langkah-langkah, komunikasi, informasi, dan penyadar-tahuan atau edukasi (KIE),” ungkap Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim (IKPM) Kemenkominfo Septriana Tangkary dalam keterangannya, Rabu (5/5).

Ia pun menjelaskan bahwa sudah ada peraturan yang mengatur pengelolaan sampah, yakni pada Permen LHK Nomor P.75 Tahun 2019 mengenai Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen pun diterbitkan sebagai salah satu upaya pengurangan sampah plastik. Permen tersebut mengatur kemasan produk yang dikeluarkan produsen.

“Kemasan yang dimaksud nantinya harus memenuhi standar dapat didaur ulang atau dikomposkan,” imbuhnya.

Lalu, Kepala Seksi Bina Peritel, Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK Agus Supriyanto mengatakan, tingkat ketidakpedulian masyarakat terhadap sampah cukup tinggi. Akan tetapi mulai ada indikasi positif terhadap perubahan perilaku masyarakat, yaitu gerakan less waste dan zero waste yang berkembang signifikan.

“Ada juga empat aktivitas penting yang menjadi dasar pengelolaan sampah yang berkelanjutan adalah pencegahan (prevention), pembatasan (minimisation), penggunaan ulang (reuse), dan pendauran ulang (recycle),” tambahnya.

Sementara itu, Chapter Leader Trash Hero Jakarta, I Gusti Krishna Aditama menjelaskan bahwa bila berbicara tentang persoalan sampah, daur ulang bukanlah solusinya. Tetapi bagaimana masyarakat berupaya sebaik mungkin untuk mengurangi sampah.

“Kenali jenis sampah, pisahkan dan manfaatkan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik bisa dijadikan kompos. Akan tetapi sampah nonorganik seperti sachet minuman sekali pakai, baterai, dan sebagainya sangat sulit untuk di daur ulang,” tandasnya.(jpc)