Kantor Disdikbud Cianjur Disegel Aliansi BEM Cianjur Sebagai Bentuk Kekecewaan Pendidikan di Cianjur

TAK ADA PERUBAHAN: Sejumlah mahasiswa yang tergabung di Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kabupaten Cianjur menggelar aksi ke kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Cianjur. (Foto Istimewa)

RADARCIANJUR.com– Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kabupaten Cianjur menyesalkan dengan masih dilaksanakannya pembelajaran secara online atau daring. Pasalnya, pembelajaran secara daring dirasa kurang efektif. Selain kurang efektif, dalam pembelajaran daring, siswa atau pelajar banyak yang tidak mengerjakan tugas sekolah dengan hasil sendiri. Namun, kebanyakan dikerjakan oleh orang tua siswa.

Selain itu, siswa lebih banyak menggunakan waktu senggangnya dengan malas-malasan. Sehingga produktifitas pendidikan dirasa kurang berkembang. Hal tersebut dikhawatirkan menambah indeks pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten Cianjur semakin merosot.

Di dalam Aliansi BEM Cianjur terdapat enam kampus yang turun langsung menggelar aksi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Cianjur yakni Unsur, Al-Azhari, Al-Azami, Stisnu, Unpi, Al-Ittihad dan STISIP. Pihak Aliansi BEM Cianjur pun meminta kepada Disdikbud Kabupaten Cianjur untuk segera menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) namun tetap dengan protokol kesehatan.

Presiden Mahasiswa Unsur Cianjur, Ahmad Abdul Latif mengatakan, jika memang PTM tidak bisa digelar, setidaknya ada sistematika yang jelas untuk pembelajaran daring atau online. Sehingga siswa yang belajar di rumah pun bisa menyerap ilmu dan pembelajaran yang diberikan.

“Sudah menjadi kewajiban Disdikbud Cianjur untuk meningkatkan kesejahteran hidup tenaga pendidik, terutama untuk guru ditengah kondisi Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir selama satu tahun,” ujarnya.

Lanjutnya, dunia pendidikan tak lepas dari para pejuang yang tulus tanpa tanda jasa dan berusaha secara maksimal untuk mewujudkan index pembangunan manusia khususnya dalam ranah pendidikan di Kabupaten Cianjur. Pemerintah Kabupaten Cianjur pun semestinya memberikan fasilitas dan memperhatikan masyarakat kalangan menengah kebawah untuk mensejahterakan sektor ekonomi pendidikan saat ini. Pasalnya, generasi millenial seharusnya menjadi generasi yang cerdas dalam berkehidupan dan berbangsa.

“Dengan semangat bergerak serentak kita mahasiswa sebagai kaum penggerak serta kaum pembebasan harus terus mengawal dan mensejahterakan dunia pendidikan dari seluruh komponen yang ada agar terwujudnya bangsa yang cerdas seutuhnya,” tegasnya.

Sementara itu, Prema Unpi Cianjur, Hilmy menambahkan, sudah satu tahun lebih masa pandemi berjalan, sistem pendidikan yang dirasakan belumlah maksimal. Malah semakin adanya ketidakjelasan dari pemerintah, bagaimana menyikapi pendidikan di masa pandemi ini apakah harus terus berjalan secara daring ataupun tidak? Ketidakjelasan ini dirasakan baik itu oleh pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Tentunya ini tidak boleh dibiarkan terus berlarut agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik dan merata sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan masyarakat.

“Tentunya di momen ini, menjadi momentum untuk kita mengevaluasi serta merefleksikan sudah sejauh mana efektifitas pembelajaran secara daring ini karena walaupun dari segi Transfer of Knowledge bisa teratasi, akan tetapi dari segi Transfer of Skill dan Transfer of Value belum bisa tercapai. Sedangkan untuk tercapainya tujuan dari pendidikan sendiri bukan hanya aspek kognitif saja yang diutamakan, melainkan Aspek Afektif dan Psikomotorik pun harus diutamakan pula, apalagi untuk anak yang mengenyam pendidikan ditingkatan dasar dan menengah,” jelasnya.

Aksi tersebut pun ditutup dengan menyegel Kantor Disdikbud Kabupaten Cianjur, sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa Kabupaten Cianjur terhadap kinerja Disdikbud Kabupaten Cianjur dalam permasalahan pendidikan dan IPM yang belum teratasi. (kim)