Kisah di Balik Penyekatan dan Pelarangan Mudik, Pulang Takut, Nggak Pulang Sedih

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Sejumlah masyarakat asal Kabupaten Cianjur yang berasal dari luar kota mulai kembali ke kampung halamannya. Namun tidak semudah itu. Beberapa diantaranya harus mencuri-curi waktu dan kesempatan agar tidak dikembalikan bahkan diperiksa petugas yang berjaga.

Beberapa masyarakat yang pulang beralasan karena diliburkan, sehingga lebih memilih untuk pulang dibanding harus berdiam diri di perantauan tanpa ada kegiatan apapun. Meski tidak menggunakan travel, beberapa masyarakat menggunakan angkutan umum seperti bus antar kota antar provinsi (AKAP).

Salah seorang warga Kecamatan Cipanas yang enggan disebutkan namanya berhasil ditemui di salah satu bus menceritakan, dirinya bekerja di Bogor sebagai kuli bangunan dan tengah diliburkan oleh pimpinan atau mandornya. Sehingga mau tidak mau dirinya pun harus pulang terlebih dahulu. “Saya diliburin, daripada saya diam di sana (Bogor,red) enggak ada pemasukan atau kegiatan. Makanya lebih baik saya pulang dulu,” ujarnya.

Selain dirinya, terdapat dua temannya yang masih satu profesi di tempat yang sama. Terlihat raut lelah di wajah ketiganya, namun sedikit terlihat kebahagiaan karena akan berjumpa dengan keluarga besar di kampung. “Capek mah enggak apa-apa, yang penting ketemu anak dan istri, karena saya udah lama enggak pulang,” paparnya.

Di sisi lain, pekerja yang merupakan bertetangga pun menceritakan hal yang sama. Dirinya sengaja pulang di saat penjagaan dirasa lenggang. Setiap akan melewati perbatasan ataupun pos penjagaan, rasa was-was selalu ada.

“Ada aja rasa was-was sama takut, apalagi saat mau lewat pos penjagaan. Takutnya disuruh balik lagi, kan kita bingung juga kalau di sana enggak ada kerjaan, mau kerja apa kita,” jelasnya.

Namun ketiganya pun bisa berhasil pulang tanpa ada kendala apapun, rata-rata semua penumpang yang kembali ke Cianjur merupakan pekerja bangunan yang tengah diliburkan sejumlah pemilik maupun mandornya.(kim)